BerandaInspirasiNasehatTadabbur: Jaga Diri Baik-Baik Sebelum Terlambat

Tadabbur: Jaga Diri Baik-Baik Sebelum Terlambat

spot_img

KABARLAH.COM – بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Pendahuluan: Paradoks Kemajuan dan Kehilangan Diri

Manusia modern hidup dalam sebuah paradoks. Ia semakin mampu menguasai dunia, tetapi belum tentu semakin mampu mengendalikan dirinya. Ilmu pengetahuan berkembang, teknologi mempercepat kehidupan, dan kemakmuran material membuka berbagai kemungkinan. Namun, di tengah kemajuan itu, manusia tetap menghadapi kegelisahan, krisis moral, keretakan keluarga, ketidakadilan, dan kekosongan spiritual.

Ada manusia yang begitu teliti menjaga hartanya, tetapi lalai menjaga keimanannya. Ia melindungi rumah dari kerusakan, tetapi membiarkan hubungan keluarganya kehilangan kehangatan. Ia merencanakan masa depan dengan cermat, tetapi jarang merenungkan ke mana perjalanan hidupnya akan berakhir.

Persoalan mendasarnya bukan terletak pada kemajuan itu sendiri, melainkan pada hilangnya keseimbangan antara kemampuan membangun kehidupan dan kesadaran tentang tujuan kehidupan.

Al-Qur’an mengingatkan:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10)

Ayat ini menghadirkan ukuran keberhasilan yang melampaui pencapaian material. Keberuntungan manusia tidak semata ditentukan oleh apa yang berhasil dimilikinya, tetapi juga oleh keadaan jiwa yang mengarahkan kehidupannya.

Dari sinilah muncul pertanyaan fundamental: apakah manusia telah menjaga sesuatu yang paling berharga dalam dirinya, atau justru kehilangan jiwanya ketika sibuk mempertahankan dunianya?

Menjaga Kebenaran di Tengah Perubahan Nilai

Setiap zaman membawa perubahan. Kebudayaan berkembang, pandangan hidup bergeser, dan kebiasaan sosial mengalami penyesuaian. Perubahan dapat membuka jalan bagi kemajuan, tetapi juga dapat menimbulkan kekaburan apabila manusia kehilangan ukuran untuk membedakan kebenaran dan kesalahan.

Sesuatu yang sering dilakukan belum tentu benar. Sesuatu yang mendapat banyak dukungan belum tentu membawa kemaslahatan. Sebaliknya, suatu prinsip tidak kehilangan kebenarannya hanya karena semakin sedikit manusia yang mengamalkannya.

Allah berfirman:
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

“Jika engkau mengikuti kebanyakan orang di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An‘ām: 116)

Ayat ini bukan penolakan terhadap pandangan masyarakat, melainkan peringatan agar kebenaran tidak diserahkan sepenuhnya kepada kecenderungan mayoritas.

Dalam pandangan Qur’ani, kebebasan memerlukan tanggung jawab, kemajuan membutuhkan arah moral, dan perubahan harus ditimbang berdasarkan nilai keadilan serta kemaslahatan.

Keteguhan iman berarti kemampuan mempertahankan prinsip tanpa kehilangan kebijaksanaan. Ketika ketidakjujuran menawarkan keuntungan, seorang mukmin tetap memilih kejujuran. Ketika amanah diremehkan, ia tetap memeliharanya. Ketika kehormatan manusia dipermainkan, ia menjaga martabat dirinya dan sesama.

Namun, keteguhan tidak boleh berubah menjadi kesombongan. Orang yang memahami kebenaran tidak otomatis berhak merendahkan orang yang belum mampu mengamalkannya.

Kebenaran membutuhkan keberanian untuk dipertahankan sekaligus kasih sayang untuk disampaikan.

Keteguhan iman yang matang bukanlah kekerasan sikap, melainkan kesetiaan kepada prinsip yang disertai keluasan jiwa.

Dari Kewajiban Ritual Menuju Kedalaman Kesalehan

Salah satu persoalan kehidupan beragama ialah kecenderungan mengukur kesalehan hanya melalui penampilan dan pelaksanaan kewajiban lahiriah.

Shalat lima waktu, menjaga aurat, menjauhi kemaksiatan, dan memelihara kehormatan merupakan kewajiban mendasar. Pelaksanaannya patut dihargai, tetapi kewajiban tersebut tidak boleh dipandang sebagai akhir perjalanan spiritual.

Allah berfirman:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabūt: 45)

Ayat ini memperlihatkan hubungan mendalam antara ibadah dan pembentukan karakter.

Shalat bukan sekadar rangkaian gerakan, melainkan pendidikan kesadaran. Melaluinya, manusia belajar merendahkan diri, mengendalikan kehendak, dan mengingat tanggung jawabnya kepada Allah.

Apabila seseorang tekun beribadah, tetapi tetap gemar menipu, merendahkan orang lain, atau mengabaikan hak keluarganya, ia perlu mengevaluasi sejauh mana nilai ibadah telah meresap ke dalam perilakunya.

Demikian pula menjaga aurat merupakan bagian dari ketaatan yang harus disertai pemeliharaan pandangan, kesucian hati, dan kemuliaan pergaulan.

Dalam Islam, kesalehan tidak berhenti pada kepatuhan formal. Ia berkembang melalui ilmu yang membimbing, keikhlasan yang menghidupkan, dan akhlak yang membuktikan.

Syariat memberikan arah bagi tindakan. Penyucian jiwa menumbuhkan kejujuran batin. Kesadaran ihsan menghadirkan tanggung jawab meskipun tidak seorang pun menyaksikan.

Dengan demikian, kualitas keagamaan seseorang tidak cukup dinilai dari banyaknya ibadah yang terlihat, melainkan juga dari pengaruh ibadah tersebut terhadap kejujuran, keadilan, kerendahan hati, dan kasih sayangnya.

Ibadah yang benar tidak hanya mendekatkan manusia kepada Allah, tetapi juga membimbingnya memperlakukan sesama secara lebih mulia.

Memahami Musibah sebagai Ujian dan Panggilan Kesadaran

Kehidupan tidak dapat dipisahkan dari ujian. Penyakit, kehilangan, kegagalan, bencana, dan ketidakpastian merupakan bagian dari pengalaman manusia.

Namun, Al-Qur’an menghadirkan pemahaman bahwa ujian tidak selalu berbentuk penderitaan.

Allah berfirman:
وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiyā’: 35)

Kemiskinan menguji kesabaran, tetapi kekayaan menguji amanah. Penyakit menguji ketabahan, tetapi kesehatan menguji rasa syukur. Keterbatasan menguji keteguhan, sedangkan kekuasaan menguji keadilan.

Karena itu, kemakmuran bukan selalu bukti keridhaan Allah, sebagaimana penderitaan tidak selalu menunjukkan kemurkaan-Nya.

Musibah dapat mengandung hikmah berupa penguatan iman, penghapusan dosa, peningkatan derajat, atau peringatan untuk memperbaiki kehidupan. Namun, manusia tidak memiliki pengetahuan untuk memastikan maksud Allah di balik setiap peristiwa tertentu.

Menganggap semua korban bencana sedang menerima hukuman merupakan penyederhanaan yang tidak sejalan dengan kehati-hatian dalam memahami ketetapan Allah.

Sikap seorang mukmin seharusnya ialah menjadikan musibah sebagai bahan muhasabah bagi dirinya, sekaligus menghadirkan pertolongan bagi mereka yang menderita.

Al-Qur’an juga mengingatkan:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia.” (QS. Ar-Rūm: 41)

Ayat ini memperlihatkan dimensi tanggung jawab manusia terhadap kehidupan bersama.

Kerusakan lingkungan, eksploitasi alam, ketidakadilan ekonomi, dan penyalahgunaan kekuasaan dapat melahirkan penderitaan yang luas.

Karena itu, pertobatan tidak cukup diwujudkan melalui penyesalan pribadi. Ia juga harus mendorong penghentian kezaliman, pemulihan kerusakan, dan pembenahan kehidupan sosial.

Musibah semestinya tidak hanya menyadarkan manusia tentang kelemahannya di hadapan Allah, tetapi juga menggerakkan tanggung jawabnya terhadap sesama.

Kelalaian Spiritual di Tengah Keberhasilan Duniawi

Salah satu bahaya terbesar dalam kehidupan bukan selalu kemaksiatan yang tampak, melainkan kelalaian yang tumbuh secara perlahan.

Manusia dapat kehilangan kesadaran spiritual justru ketika merasa kehidupannya berjalan baik. Kesehatan, kekayaan, ilmu, dan kedudukan dapat menumbuhkan keyakinan berlebihan terhadap kemampuan diri.

Allah berfirman:
كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَىٰ ۝ أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَىٰ

“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (QS. Al-‘Alaq: 6–7)

Perasaan tidak membutuhkan siapa pun dapat menjadi awal kesombongan. Manusia mulai menolak nasihat, sulit mengakui kesalahan, dan menganggap keberhasilannya semata hasil keunggulan pribadi.

Inilah salah satu bentuk ghaflah, yaitu kelalaian dari mengingat Allah dan pertanggungjawaban kehidupan.

Kelalaian dapat tersembunyi di balik aktivitas yang terlihat produktif. Seseorang bekerja tanpa henti, tetapi kehilangan kedekatan dengan keluarganya. Ia memperluas kekayaan, tetapi mengabaikan hak orang lain. Ia memperoleh pengetahuan, tetapi kehilangan kerendahan hati.

Akibatnya, seseorang dapat mengalami kemajuan lahiriah bersamaan dengan kemerosotan batiniah.

Allah mengingatkan:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)

Dzikir bukan hanya aktivitas lisan, melainkan kesadaran yang membimbing seluruh kehidupan.

Mengingat Allah berarti menghadirkan nilai kejujuran ketika bekerja, kesabaran ketika diuji, keadilan ketika berkuasa, dan kerendahan hati ketika memperoleh keberhasilan.

Ketenangan spiritual tidak berarti kehidupan terbebas dari persoalan, melainkan adanya landasan iman yang membuat manusia tidak kehilangan arah ketika menghadapi persoalan.

Menjaga Diri sebagai Tanggung Jawab Kemanusiaan

Menjaga diri dalam perspektif Al-Qur’an memiliki makna yang menyeluruh.

Manusia bukan semata tubuh yang memerlukan perlindungan, tetapi juga jiwa yang membutuhkan penyucian, akal yang memerlukan petunjuk, dan pribadi sosial yang memikul tanggung jawab.

Menjaga iman berarti memelihara hubungan dengan Allah melalui ilmu, ibadah, dan keteguhan dalam kebenaran.

Menjaga hati berarti membersihkan kesombongan, kedengkian, dendam, riya, serta kecenderungan merendahkan manusia.

Menjaga akal berarti mengembangkan pengetahuan, berpikir secara bertanggung jawab, dan membedakan kebenaran dari kebohongan.

Menjaga kehormatan berarti memelihara aurat, pandangan, pergaulan, serta martabat diri dan orang lain.

Menjaga jasmani berarti merawat kesehatan dan menghindari tindakan yang membahayakan kehidupan.

Menjaga amanah berarti menunaikan hak keluarga, masyarakat, dan siapa pun yang berada dalam lingkup tanggung jawab kita.

Seluruh dimensi tersebut saling berkaitan. Keimanan memberikan arah moral, akal membantu memahami kenyataan, hati menumbuhkan keikhlasan, dan akhlak menerjemahkan nilai menjadi tindakan.

Dalam kerangka tujuan syariat, penjagaan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta memperlihatkan bahwa ajaran Islam memperhatikan keselamatan manusia secara menyeluruh.

Karena itu, menjaga diri tidak identik dengan menarik diri dari masyarakat. Justru kemampuan mengendalikan diri merupakan prasyarat untuk membangun hubungan sosial yang sehat.

Seseorang yang mampu menahan keserakahan lebih siap mengelola harta secara adil. Orang yang mampu mengendalikan kemarahan lebih siap menyelesaikan perbedaan. Pemimpin yang mampu menundukkan egonya lebih siap menjaga kepentingan masyarakat.

Manusia yang gagal memimpin dirinya sendiri akan menghadapi kesulitan ketika diberi amanah memimpin orang lain.

Pendidikan Ruhani: Dari Kepatuhan Menuju Kesadaran Penghambaan

Perjalanan menjaga diri memerlukan pendidikan ruhani yang berlangsung sepanjang kehidupan.

Dalam khazanah spiritual Islam, kesatuan syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat dapat dipahami sebagai pendekatan untuk memperdalam penghambaan kepada Allah.

Syariat membimbing perilaku melalui ketentuan halal dan haram, kewajiban dan larangan, serta prinsip keadilan dan tanggung jawab.

Tarekat, sebagai jalan pembinaan jiwa yang mengikuti syariat, menumbuhkan kebiasaan dzikir, muhasabah, mujahadah, kesabaran, dan istiqamah.

Hakikat memperdalam kesadaran bahwa manusia merupakan hamba yang bergantung kepada pertolongan Allah. Ia berikhtiar dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak menganggap dirinya pemilik mutlak keberhasilan.

Makrifat memperdalam pengenalan kepada Allah melalui wahyu dan perenungan terhadap tanda-tanda kebesaran-Nya, sehingga tumbuh cinta, takut, harap, syukur, dan tawakal.

Keempat dimensi tersebut bukan jalan yang saling menggantikan. Kedalaman batin tidak pernah membebaskan manusia dari kewajiban lahiriah.

Sebaliknya, semakin dalam kesadaran spiritual seseorang, semakin kuat semestinya ketaatan dan semakin mulia akhlaknya.

Penghayatan ruhani yang benar menjauhkan manusia dari kebanggaan diri. Ia tidak merasa telah mencapai kesempurnaan, melainkan semakin menyadari luasnya rahmat Allah dan keterbatasan dirinya.

Dengan demikian, spiritualitas Qur’ani bukan pelarian dari kenyataan kehidupan. Ia merupakan kekuatan batin untuk menjalani kehidupan dengan lebih jujur, bijaksana, dan bertanggung jawab.

Keluarga sebagai Fondasi Keselamatan Generasi

Kehidupan manusia tidak terbentuk secara terpisah. Kepribadian tumbuh melalui pendidikan, pengalaman, keteladanan, dan lingkungan sosial.

Dalam proses tersebut, keluarga merupakan tempat pertama penanaman nilai.

Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Taḥrīm: 6)

Ayat ini memperluas tanggung jawab keimanan dari keselamatan individu menuju pemeliharaan keluarga.

Orang tua bukan hanya bertugas memenuhi kebutuhan jasmani anak, tetapi juga membimbing pertumbuhan akal, kepribadian, moral, dan spiritualnya.

Anak belajar kejujuran melalui kejujuran yang disaksikannya. Ia belajar kesabaran melalui sikap orang dewasa menghadapi persoalan. Ia mengenal kasih sayang dari cara anggota keluarga saling memperlakukan.

Karena itu, pendidikan tidak cukup dengan nasihat. Ia memerlukan keteladanan, komunikasi, kedisiplinan, dan hubungan yang menghadirkan rasa aman.

Keluarga yang sehat bukan keluarga tanpa perbedaan atau persoalan, melainkan keluarga yang mampu menyelesaikannya dengan adab, kasih sayang, dan tanggung jawab.

Di sinilah hubungan keluarga dan peradaban menemukan maknanya.

Masyarakat yang kuat memerlukan generasi yang berilmu, berkarakter, dan mampu menjaga amanah. Kualitas tersebut tidak lahir secara tiba-tiba ketika seseorang memasuki kehidupan publik, tetapi ditumbuhkan sejak kehidupan keluarga.

Apabila rumah kehilangan arah pendidikan, masyarakat berisiko kehilangan fondasi moralnya.

Sebaliknya, keluarga yang mewariskan iman, ilmu, dan akhlak sedang membangun kesinambungan peradaban antargenerasi.

Warisan terbaik bukan hanya sesuatu yang dapat dimiliki anak-anak, tetapi nilai yang membimbing mereka ketika orang tua tidak lagi mendampingi.

Kesalehan Sosial dan Tanggung Jawab Peradaban

Keimanan tidak boleh berhenti sebagai pengalaman pribadi yang terpisah dari kehidupan masyarakat.

Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat.” (QS. An-Naḥl: 90)

Ayat ini menghadirkan fondasi moral bagi kehidupan bersama.

Keadilan menjamin penghormatan terhadap hak. Ihsan menumbuhkan kepedulian yang melampaui kepentingan pribadi. Tanggung jawab kekeluargaan memperkuat solidaritas sosial.

Kemerosotan peradaban tidak selalu dimulai dari melemahnya ekonomi atau hilangnya kemampuan teknologi. Ia dapat bermula ketika manusia kehilangan kejujuran, amanah, rasa malu, dan tanggung jawab moral.

Suatu masyarakat mungkin memiliki bangunan megah dan lembaga modern, tetapi tetap mengalami kerapuhan apabila kekuasaan dijalankan tanpa keadilan, kekayaan diperoleh melalui penindasan, dan ilmu digunakan untuk memperdaya manusia.

Sebaliknya, peradaban yang berkelanjutan memerlukan keselarasan antara kemajuan material dan kematangan moral.

Ilmu harus menghadirkan kemaslahatan. Kekuasaan harus melindungi hak. Kekayaan harus dikelola secara bertanggung jawab. Alam harus dipelihara sebagai amanah bagi generasi mendatang.

Maka, menjaga diri pada akhirnya mengandung tanggung jawab menjaga kehidupan bersama.

Perubahan masyarakat memang memerlukan sistem dan kelembagaan yang baik. Namun, sistem tersebut membutuhkan manusia yang memiliki integritas untuk menjalankannya.

Peradaban tidak cukup dibangun oleh manusia yang cerdas, tetapi harus dijaga oleh manusia yang berilmu, beradab, dan beramanah.

Muhasabah: Memperbaiki Diri Sebelum Kesempatan Berakhir

Waktu merupakan amanah yang tidak dapat dikembalikan.

Manusia mengetahui bahwa kehidupannya terbatas, tetapi sering menjalani hari-harinya seakan kesempatan akan berlangsung selamanya.

Ia menunda pertobatan, mengabaikan permintaan maaf, membiarkan kewajiban tertunda, dan menganggap perbaikan diri dapat dilakukan pada masa yang belum pasti.

Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al-Ḥasyr: 18)

Ayat ini mengajarkan pentingnya muhasabah, yaitu menilai kehidupan berdasarkan tanggung jawab kepada Allah.

Manusia perlu bertanya bukan hanya tentang keberhasilan yang telah diperoleh, tetapi juga tentang amanah yang telah ditunaikan, kesalahan yang belum diperbaiki, dan manfaat yang telah diberikan kepada sesama.

Muhasabah bukan upaya menyiksa diri dengan penyesalan, melainkan sarana membangunkan kesadaran.

Allah membuka pintu harapan:
لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ

“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53)

Harapan kepada rahmat Allah harus disertai kesungguhan untuk berubah.

Taubat menuntut penyesalan, penghentian dosa, tekad memperbaiki perilaku, serta pemulihan hak manusia yang pernah dilanggar.

Perubahan dapat dimulai dari hal-hal sederhana: memperbaiki shalat, menjaga perkataan, mengembalikan amanah, mempererat hubungan keluarga, dan meninggalkan kebiasaan yang merusak.

Tidak semua perubahan harus besar, tetapi setiap perubahan harus memiliki arah.

Jangan menunggu kehilangan kesehatan untuk bersyukur. Jangan menunggu keretakan keluarga untuk belajar memahami. Jangan menunggu kehilangan kepercayaan untuk menghargai kejujuran.

Dan jangan menunggu datangnya kematian untuk menyadari bahwa kehidupan dunia merupakan perjalanan menuju akhirat.

Penutup: Menjaga Diri, Menyelamatkan Kehidupan

Pada akhirnya, seluruh perjalanan manusia akan sampai pada batasnya.

Harta berpindah kepemilikan, jabatan berganti pemegang, kekuatan tubuh melemah, dan penghormatan dunia perlahan menjadi kenangan.

Allah berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Āli ‘Imrān: 185)

Kesadaran tentang kematian bukan alasan menjauhi kehidupan, melainkan dorongan untuk menjalaninya secara lebih bermakna.

Manusia tetap harus bekerja, menuntut ilmu, membangun keluarga, mengembangkan masyarakat, dan menghadirkan kemajuan. Namun, seluruh ikhtiar itu memerlukan arah yang melampaui kepentingan sesaat.

Menjaga diri berarti memelihara iman agar tidak padam, hati agar tidak mengeras, akal agar tidak kehilangan kejernihan, dan akhlak agar tidak dikalahkan oleh hawa nafsu.

Menjaga keluarga berarti menanam nilai yang akan terus hidup pada generasi berikutnya. Menjaga masyarakat berarti mempertahankan keadilan, amanah, dan martabat kemanusiaan.

Di sinilah keselamatan pribadi bertemu dengan tanggung jawab peradaban.

Manusia yang mampu menjaga dirinya akan lebih siap menjaga keluarganya. Keluarga yang memelihara iman dan akhlak membantu melahirkan generasi yang bertanggung jawab. Generasi yang berilmu dan beramanah menjadi fondasi kehidupan masyarakat yang bermartabat.

Maka, jangan sampai manusia berhasil membangun dunianya, tetapi kehilangan jiwanya. Jangan sampai ia meninggalkan kekayaan, tetapi gagal mewariskan keimanan. Jangan sampai namanya dikenang karena kedudukan, tetapi kehidupannya meninggalkan kerusakan.

Kesempatan hari ini adalah amanah untuk memperbaiki yang salah, menunaikan yang tertunda, dan menanam kebaikan yang manfaatnya melampaui usia kita.

Sebab keberhasilan sejati tidak hanya terletak pada seberapa tinggi manusia mencapai kedudukan dunia, tetapi juga pada seberapa tulus ia mengabdi kepada Allah dan seberapa besar kebaikan yang ditinggalkannya.

Doa dan Harapan

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا

“Ya Allah, perbaikilah agama kami yang menjadi penjaga urusan kami, perbaikilah dunia kami yang menjadi tempat kehidupan kami, dan perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami.”
(HR. Muslim, no. 2720)

Semoga Allah menjaga kejernihan hati kita, meneguhkan iman, membimbing keluarga dalam kebaikan, dan menjadikan kehidupan kita sumber manfaat bagi manusia.

Jagalah diri sebelum kelalaian menjadi kebiasaan. Perbaikilah kehidupan sebelum kesempatan berlalu. Dekatkanlah hati kepada Allah sebelum tiba waktunya kembali kepada-Nya.

Sebab menjaga diri bukan sekadar ikhtiar agar selamat menjalani kehidupan dunia, melainkan juga persiapan agar memperoleh keselamatan ketika menghadap Allah.

وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-A‘rāf: 128)

Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img