KABARLAH.COM – Bismillāhirraḥmānirraḥīm. Ungkapan “Nata Jiwa dan Raga” mengandung hikmah yang sangat dalam dalam pandangan Melayu-Islami. Ia bukan sekadar ajakan untuk hidup rapi, sopan, atau tertib secara lahiriah, tetapi merupakan seruan untuk membina manusia secara utuh: membersihkan batinnya, menertibkan lahirnya, meluruskan niatnya, dan mengarahkan amalnya kepada jalan yang benar. Di dalam kalimat yang ringkas ini terkandung suatu ajaran besar: bahwa kemuliaan hidup tidak lahir hanya dari baiknya penampilan, dan tidak pula cukup hanya dari perasaan hati yang merasa baik. Kemuliaan yang sejati lahir ketika jiwa dan raga sama-sama tertata dalam cahaya iman, adab, amanah, dan penghambaan kepada Allah.
Secara filosofis, petuah ini menolak kehidupan yang terbelah. Banyak manusia tampak baik di luar, namun batinnya kusut; lisannya lembut, tetapi hatinya keras; pakaiannya rapi, tetapi akhlaknya rapuh. Sebaliknya, ada pula yang merasa cukup berkata, “yang penting hati baik,” namun lahiriahnya tidak tertib, ucapannya tidak dijaga, perilakunya tidak mencerminkan amanah, dan amalnya tidak menunjukkan kesungguhan iman. Karena itu, “Nata Jiwa dan Raga” adalah panggilan kepada keutuhan diri. Manusia tidak boleh hidup setengah-setengah. Hatinya harus benar, tubuhnya pun harus patuh. Niatnya harus bersih, lalu amalnya harus nyata dalam kebaikan. Sebab hidup yang mulia bukan hanya hidup yang indah dalam gagasan, tetapi juga hidup yang tertib dalam kenyataan.
Secara zahir, “nata raga” berarti menata seluruh yang tampak pada diri manusia. Tubuh tidak boleh dibiarkan hidup semaunya. Mata harus dijaga dari pandangan yang haram. Lisan harus dijaga dari dusta, gibah, fitnah, dan kasar kata. Tangan harus dijaga dari mengambil yang bukan hak, dari menyakiti, dan dari pekerjaan yang tidak halal. Kaki harus dijaga dari melangkah ke jalan yang merusak. Bahkan cara berpakaian, cara duduk, cara berjalan, cara berbicara, cara makan, dan cara bekerja pun harus berada dalam tertib adab. Dalam makna ini, nata raga adalah disiplin lahir. Ia melatih manusia untuk tidak hidup serampangan. Orang yang raganya tertata akan tampak tenang geraknya, sopan sikapnya, bersih penampilannya, terukur langkahnya, dan tidak gegabah dalam tindakan.
Sedangkan “nata jiwa” secara zahir berarti menata unsur dalam diri yang menggerakkan seluruh perilaku lahir. Jiwa di sini mencakup niat, rasa, pikiran, kecenderungan, kehendak, dan arah batin. Menata jiwa berarti menertibkan keinginan, meluruskan tujuan hidup, mengendalikan amarah, menjaga rasa takut dan harap, serta membiasakan hati agar tidak liar mengikuti hawa nafsu. Ini berarti bahwa manusia tidak cukup hanya menjaga sikap luar, tetapi juga harus menjaga “isi dalam” yang melahirkan sikap itu. Bila jiwa tidak ditata, raga mudah dipakai untuk melampiaskan kebingungan, amarah, kesombongan, iri, dan kerakusan. Maka secara lahiriah, “Nata Jiwa dan Raga” mengajarkan bahwa manusia harus hidup tertib dalam dan tertib luar, tertata dalam niat dan tertata dalam amal.
Namun dalam makna ruhani, ungkapan ini jauh lebih dalam. Jiwa adalah pusat niat, cinta, takut, harap, dan arah penghambaan. Menata jiwa berarti membersihkan hati dari penyakit-penyakit batin yang merusak hubungan seorang hamba dengan Allah, seperti riya’, ujub, hasad, sombong, cinta pujian, tamak, dendam, dan kecintaan yang berlebihan kepada dunia. Jiwa yang tertata adalah jiwa yang mengenal dirinya sebagai hamba, mengenal Tuhannya sebagai Rabb, dan memahami hidup ini sebagai amanah yang harus dijalani dengan ikhlas. Dalam keadaan itu, hati menjadi lembut, akal menjadi jernih, dan hidup tidak lagi dipimpin oleh dorongan sesaat, tetapi oleh kesadaran ilahiah. Inilah yang dalam bahasa tasawuf disebut sebagai proses tazkiyatun nafs, penyucian jiwa, agar ia kembali kepada fitrah penghambaan.
Adapun raga dalam makna ruhani adalah alat penghambaan. Tubuh bukan tujuan, melainkan sarana. Bila jiwa baik tetapi raga tidak diarahkan, banyak kebaikan berhenti hanya di niat. Karena itu, menata raga secara batin berarti menjadikan seluruh anggota badan sebagai alat ibadah. Mata bukan lagi alat memandang yang sia-sia, melainkan sarana melihat tanda-tanda kebesaran Allah. Lisan bukan lagi alat kesombongan, melainkan sarana zikir, nasihat, kebenaran, dan hiburan yang menenteramkan. Tangan bukan lagi alat kerakusan, melainkan sarana bekerja amanah, menolong, memberi, dan membela yang haq. Kaki bukan lagi alat pelarian menuju maksiat, tetapi alat melangkah ke tempat yang diridhai Allah. Dengan demikian, nata raga bukan sekadar disiplin tubuh, tetapi penyerahan tubuh kepada tujuan penciptaannya.
Di sinilah hubungan antara jiwa dan raga menjadi sangat penting. Jiwa adalah pemimpin, raga adalah pelaksana. Jiwa menentukan arah, raga mewujudkan arah itu dalam kenyataan. Jika jiwa dipenuhi iman, tubuh akan lebih mudah berjalan dalam adab. Jika jiwa dikuasai nafsu, tubuh akan dipakai untuk melayani kerusakan. Maka kehidupan yang tertata harus selalu dimulai dari hati, lalu diterjemahkan ke dalam amal. Dalam bahasa sederhana: batin yang lurus harus melahirkan lahir yang baik, dan lahir yang baik harus menjadi bukti batin yang benar. Karena itu, keutuhan manusia tidak lahir dari salah satu sisi saja, tetapi dari keselarasan antara niat, pikir, ucap, gerak, dan tujuan.
Petuah ini juga mengandung kritik halus terhadap dua bentuk kepincangan manusia. Pertama, orang yang terlalu sibuk membenahi penampilan luar, tetapi mengabaikan isi hati. Ia tampak santun, namun batinnya dipenuhi iri, sombong, dan riya’. Kedua, orang yang merasa cukup dengan “hati yang baik”, tetapi tidak mau menata perilakunya. Ia berkata bahwa yang penting niat, padahal lisannya kasar, tangannya lalai, langkahnya serampangan, dan amalnya tidak mencerminkan iman. “Nata Jiwa dan Raga” datang untuk menolak dua kepincangan ini. Ia mengajarkan bahwa iman harus punya bentuk, dan adab lahir harus punya akar batin. Tidak boleh ada pemisahan antara kesalehan hati dan kesalehan amal.
Dalam perspektif Al-Qur’an, keutuhan jiwa dan raga inilah yang menjadi jalan keberuntungan. Allah memuji orang-orang beriman yang khusyuk dalam shalatnya, karena khusyuk adalah tanda bersatunya hati, akal, tubuh, dan niat dalam satu penghambaan. Ketika manusia mampu menghadirkan keutuhan itu, ia tidak lagi hidup tercerai di dalam dirinya. Hatinya tidak mendua, lisannya tidak berkhianat kepada batinnya, dan amalnya tidak membohongi niatnya. Di situlah lahir kekokohan ruhani, karena ia tidak lagi digerakkan oleh kepalsuan, melainkan oleh kejujuran batin di hadapan Allah.
Maka inti hikmah dari petuah “Nata Jiwa dan Raga” ialah bahwa manusia harus dibina secara utuh. Jiwa harus ditata dengan iman, taubat, ikhlas, sabar, dan adab. Raga harus ditata dengan disiplin, kebersihan, tertib gerak, dan amal saleh. Hati harus dibersihkan agar niat lurus, dan tubuh harus diarahkan agar amal benar. Sebab hidup yang mulia bukan hidup yang hanya indah dipandang, dan bukan pula hidup yang hanya baik dikatakan, tetapi hidup yang selaras antara hati, pikiran, lisan, gerak, dan tujuan.
Jadi, hakikat petuah ini adalah:
jiwa ditata agar lurus,
raga ditata agar patuh,
hati dibersihkan agar ikhlas,
dan tubuh diarahkan agar menjadi alat ketaatan.
Sebab manusia yang benar-benar mulia ialah manusia yang jiwa dan raganya sama-sama tertata dalam jalan Allah; batinnya hidup oleh iman, lahirnya bercahaya oleh adab, dan seluruh keberadaannya menjadi amanah yang dipersembahkan kepada Rabb semesta alam.
Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



