KABARLAH.COM, Pekanbaru – Ada pertanyaan yang diam-diam menentukan nasib umat: mengapa kita membaca Al-Qur’an, tetapi peradaban kita belum selalu memantulkan cahaya Al-Qur’an? Di sinilah tema “Dari Tilawah ke Peradaban” menjadi tajam. Sebab yang dibutuhkan umat bukan sekadar meningkatnya suara bacaan, melainkan meningkatnya kualitas manusia yang dibentuk oleh wahyu—hingga kualitas itu menjelma menjadi etika sosial, budaya kerja, dan tata kelola yang adil.
Allah menegaskan fungsi dasar Al-Qur’an: “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus.” (QS al-Isrā’ 17:9). “Paling lurus” bukan hanya lurus dalam ibadah individual, tetapi lurus dalam kompas hidup: cara menilai benar-salah, cara menata prioritas, cara memutuskan urusan, hingga cara memperlakukan manusia. Secara filosofis, manusia modern sering tenggelam dalam banjir informasi namun miskin arah; ia tahu banyak, tetapi tak tahu ke mana harus pulang. Qur’an hadir bukan menambah kebisingan, melainkan memberi orientasi—memulihkan pusat.
Namun Qur’an tidak bekerja seperti sihir. Ia bekerja melalui hukum perubahan yang tegas: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS ar-Ra‘d 13:11). Ayat ini adalah “teori peradaban” dalam satu kalimat: perubahan sosial yang nyata hanya lahir dari perubahan batin yang serius. Banyak proyek kebangkitan runtuh karena ingin menata luar tanpa menata dalam; ingin mengubah sistem tanpa mengubah manusia; ingin memanen hasil tanpa membangun akhlak. Padahal, bila manusia rusak, sistem baik pun akan bocor. Dan bila manusia lurus, sistem yang lemah pun dapat diperbaiki setahap demi setahap.
Di sini Al-Qur’an memberi “peta metode” yang sangat rapi lewat misi kenabian: “Dialah yang mengutus kepada kaum yang ummi seorang rasul… yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah…” (QS al-Jumu‘ah 62:2). Urutannya bukan kebetulan: tilāwah → tazkiyah → ta‘līm. Tilawah membuka pintu; tazkiyah membersihkan penghalang; ta‘lim menata ilmu dan hikmah. Banyak orang ingin ilmu dan strategi, tetapi melewatkan tazkiyah; akibatnya ilmu jadi alat ego, dan strategi jadi alat dominasi. Inilah mengapa kebangkitan yang Qur’ani selalu memulai dari manusia: benahi niat, lunakkan hati, disiplinkan amal, lalu bangun pengetahuan dan hikmah yang memandu tindakan.
Dalam corak tarbiyah , Sa‘īd Ḥawwā menekankan bahwa perbaikan umat harus melewati jalur tazkiyah bertahap: membongkar penyakit-penyakit batin seperti ujub (merasa cukup), riya (mencari pujian), dan cinta dunia yang berlebihan—lalu menanam kebiasaan taat yang stabil. Dari sini lahir manusia Qur’ani: amanah ketika tak diawasi, adil ketika mampu, sabar ketika diuji, syukur ketika berhasil. Inilah “energi peradaban” yang sering hilang: bukan kurang wacana, melainkan kurang tazkiyah yang melahirkan watak.
Kerangka “tadabbur–amal” menegaskan bahwa tilawah tidak boleh berhenti pada suara. Allah sendiri menurunkan Al-Qur’an “agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya” (QS Ṣād 38:29). Tadabbur adalah jembatan: dari teks menuju transformasi. Secara akademik, tadabbur mengintegrasikan tiga ranah: akal (memahami), hati (menghayati), dan amal (membuktikan). Maka, ketika tilawah bertemu tadabbur, lahirlah “agama karakter”: ayat bukan hanya dibaca, tetapi memimpin keputusan; bukan hanya didengar, tetapi membentuk adab; bukan hanya dibahas, tetapi melahirkan budaya kerja yang bersih.
Di sisi batin, Qur’an tidak hanya memberi aturan, tetapi memberi “hidup”. Allah menyebutnya ruh: “Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Qur’an)…” (QS asy-Syūrā 42:52). Ruh berarti pusat kehidupan. Manusia bisa hidup biologis namun mati orientasi—bergerak tanpa tujuan, menang tanpa ketenangan. Qur’an menghidupkan pusat itu: tauhid sebagai arah, adab sebagai bentuk, amal sebagai bukti. Qur’an juga syifā’: “Penyembuh bagi apa yang ada dalam dada” (QS Yūnus 10:57). Penyakit dada zaman ini—iri sosial, riya digital, marah kolektif, putus asa yang disamarkan menjadi “realistis”—tidak cukup diobati oleh motivasi sesaat. Ia butuh cahaya wahyu yang mengoreksi cara memaknai hidup.
Ramadhān al-Būṭī menekankan tarbiyah Qur’ani: wahyu mendidik akal agar tidak menjadi budak opini, dan mendidik hati agar tidak menjadi budak nafs. Sedangkan tradisi tasawuf seperti ‘Abdul Ḥalīm Maḥmūd mengingatkan bahwa kedalaman Qur’an terbuka seiring kesiapan batin: naiknya adab, dzikir, dan tafakkur. Maka kebangkitan yang sejati dimulai ketika Qur’an tidak lagi sekadar “di rak”, tetapi “di pusat”.
Dua hadits sahih mengunci arah ini: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR. al-Bukhārī)—kebangkitan harus melahirkan transmisi kebaikan, bukan konsumsi pribadi semata. Dan “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang memberi syafa’at bagi pembacanya” (HR. Muslim)—syafa’at adalah buah keterhubungan yang hidup, bukan sekadar bunyi.
Akhirnya, “Dari Tilawah ke Peradaban” adalah panggilan untuk menjadikan Qur’an sebagai imam: memimpin diri, keluarga, dan ruang publik. Mulailah dari kecil namun nyata: satu ayat dipahami, satu pelajaran ditulis, satu amal dibuktikan—diulang dalam ritme sampai menjadi karakter. Bila karakter berubah, keluarga menguat; bila keluarga menguat, komunitas membaik; bila komunitas membaik, institusi sehat. Di situlah Qur’an menjadi rahasia kebangkitan: bukan karena kita memilikinya, tetapi karena kita dipimpin olehnya.
Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



