KABARLAH.COM, Pekanbaru – Ada ayat yang terasa seperti “palu terakhir” bagi segala ilusi. QS. Al-Infiṭār: 19 adalah palu itu:
يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِّنَفْسٍ شَيْئًا ۖ وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِّلَّهِ
“Pada hari itu, tidak ada satu jiwa pun mampu memiliki kuasa apa pun untuk (menolong) jiwa yang lain; dan urusan pada hari itu milik Allah semata.”
Kalimatnya pendek, tapi dampaknya panjang: ia membunuh “agama rasa aman palsu” yang sering kita pelihara—agama koneksi, agama titel, agama nama besar, bahkan agama amal yang diam-diam kita anggap sebagai “jaminan otomatis”.
Populis: Hari itu bukan hari “ada orang dalam”
Di dunia, kita terbiasa hidup dengan “pintu-pintu”: pintu keluarga, pintu jabatan, pintu relasi, pintu reputasi. Banyak masalah selesai karena kita punya akses. Tapi ayat ini menutup semua pintu itu dengan satu kalimat: tidak ada satu jiwa pun berkuasa menolong jiwa lain sedikit pun.
Hari itu, manusia datang bukan sebagai “orangnya siapa”, bukan sebagai “muridnya siapa”, bukan sebagai “jamaahnya siapa”, melainkan sebagai nafs—sebuah diri yang telanjang dari jaring sosial dan dukungan simbolik. Yang runtuh bukan cinta, melainkan klaim kuasa. Kita masih bisa mencintai, tapi cinta tidak bisa “menawar” keputusan Allah.
Dan Allah menutupnya dengan finalitas: “wal-amru yawma’idhin lillāh”—urusan sepenuhnya milik Allah. Seperti dikunci rapat: tidak ada ruang nepotisme, tidak ada lobi, tidak ada kompromi yang membatalkan keadilan.
Akademik: “Syai’an” (apa pun) adalah kata yang meniadakan semua celah
Secara bahasa, ayat ini memakai “شيئًا” (syai’an) dalam bentuk umum: artinya apa pun—sekecil apa pun. Ini bukan sekadar “tidak bisa menolong banyak”, tapi tidak bisa menolong sedikit pun.
Ayat-ayat lain memperjelas lanskap hari itu:
“Hari Pembalasan” adalah milik Allah (Al-Fātiḥah: 4).
Manusia lari dari saudara, ibu, ayah, pasangan, anak—karena tiap orang sibuk oleh urusannya sendiri (Abasa: 34–37).
Tidak ada syafa’at kecuali dengan izin dan ridha Allah (mis. Al-Baqarah: 255; An-Najm: 26).
Maka 82:19 bukan menafikan kasih sayang, dan tidak menafikan syafa’at dalam akidah Ahlus Sunnah, tetapi menafikan kepemilikan kuasa selain Allah. Syafa’at pun, bila terjadi, adalah karunia Allah—bukan “hak otonom” makhluk.
Hadits sahih memperkuat pukulan ini ketika Nabi ﷺ memperingatkan keluarga terdekatnya agar tidak bersandar pada nasab: “Selamatkan diri kalian dari neraka… aku tidak bisa menolong kalian di hadapan Allah.” Pesannya bukan melemahkan harapan, tetapi meluruskan sandaran: jangan jadikan siapa pun sebagai garansi keselamatan.
Filosofis: Peralihan rezim—dari “seolah-olah kuasa tersebar” menuju “kuasa tampak tunggal”
Di dunia, kuasa tampak tersebar: ada negara, sistem, atasan, opini publik. Namun secara metafisik, kuasa sejati sejak awal milik Allah; hanya saja di dunia Allah mengizinkan sebab-sebab bekerja, sehingga kita mudah tertipu oleh perantara.
Ayat ini memotret momen ketika semua “tirai sebab” disingkap: yang tinggal hanyalah Al-Ḥaqq. Jika di dunia kita sering berkata, “Aku bisa bantu kamu,” maka di akhirat kalimat itu runtuh. Bukan karena Allah menghapus cinta, tetapi karena Allah menghapus ilusi kemandirian makhluk.
Secara batin, inilah puncak pelajaran tauhid:
Tawakkal bukan berarti tanpa sebab, tetapi berarti hati tidak menggantung pada sebab.
Ikhlas bukan sekadar tidak pamer, tetapi tidak menjadikan amal sebagai “alat menekan Tuhan”.
Takut bukan putus asa, melainkan kesadaran bahwa keadilan Allah tidak bisa dipermainkan; takut yang sehat mendorong taubat dan perbaikan.
Tadabbur yang tajam: “Aku milik Allah” lebih nyata daripada “Aku milik siapa”
Ayat ini juga mengoreksi bahasa kepemilikan kita. Di dunia kita mudah mengatakan: “Ini anakku. Ini muridku. Ini jamaahku.” Seakan kita punya otoritas “menyelamatkan.” Padahal di akhirat, semua kembali pada satu identitas: hamba Allah. Maka adabnya berubah: kita mencintai tanpa menguasai, membimbing tanpa mengklaim, berjuang tanpa merasa sebagai penentu akhir.
Di sinilah ruh pendidikan para ulama tarbiyah: iman harus menjadi kemandirian takwa—bukan ketergantungan pada figur. Said Hawwa sering menekankan keterpaduan tema: surah ini sejak awal mengguncang manusia agar sadar hari pembalasan, dan ujungnya menegaskan: jangan bersandar pada siapa pun selain Allah. Sementara jalur ruhiyah seperti yang sering ditekankan dalam tradisi tazkiyah: penyakit batin paling halus adalah rasa aman palsu—merasa sudah cukup karena “dekat dengan orang baik”, bukan karena memperbaiki diri di hadapan Allah.
Amal yang lahir dari ayat ini: lima “paku” untuk menancapkan tauhid
- Perbaiki hak manusia: utang, zalim kecil, lisan—karena hari itu tidak ada yang bisa “menanggung” kita.
- Rawat amal tersembunyi: shalat malam, sedekah rahasia, menahan ghibah—karena di akhirat yang berbobot adalah yang ikhlas.
- Taubat cepat: jangan menunda; yang menunda sering berharap ada “jalan belakang”.
- Doa tawakkal: minta jangan diserahkan pada diri sendiri—karena diri pun tidak punya kuasa.
- Bimbing tanpa klaim: ajak keluarga, murid, jamaah, tapi jangan merasa “penyelamat”; tugas kita menyampaikan dan mencontohkan, hidayah milik Allah.
Akhiran: QS. 82:19 bukan ayat yang membuat kita putus asa. Ia justru membebaskan: membebaskan kita dari perbudakan pada sebab, pada manusia, pada citra diri, pada rasa aman palsu. Ketika semua sandaran roboh, tauhid menemukan rumahnya: “wal-amru yawma’idhin lillāh.” Dan di situlah hati yang beriman menjadi jernih: “Ya Allah, Engkau tujuan, Engkau sandaran, Engkau pemutus—maka jangan jadikan aku bergantung selain kepada-Mu.”
Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



