KABARLAH.COM, Pekanbaru – Datuk Setya Amanah Dewa Negeri Kesultanan Batara Saur Darussalam, Prof. Dr. Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab, Ph.D . menyampaikan tahniah atas penghargaan internasional yang diterima Prof Pangeran Mohammad Soleh Ridwan, Datuk Setya Amanah Mangku Bumi Kesultanan Batara Saur Darussalam.
Menurut Syekh Sofyan Siroj, penganugerahan gelar Sir +++ dan Panglima Diplomatik International Templar di bidang perdamaian, persaudaraan, dan kemanusiaan lintas iman merupakan pengakuan dunia internasional terhadap peran Prof Soleh Ridwan dalam membangun jembatan dialog dan solidaritas antarumat beragama.
“Penghargaan ini bukan semata kehormatan personal, tetapi cerminan nilai-nilai luhur Islam yang dipraktikkan dalam kehidupan nyata, khususnya Islam sebagai Raḥmatan lil ‘Alamin,” ujar Syekh Sofyan Siroj.
Ia menilai, kiprah Prof Pangera Mohammad Soleh Ridwan sejalan dengan misi besar peradaban Islam sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an bahwa Rasulullah diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Nilai rahmah tersebut, kata dia, harus hadir dalam sikap, kebijakan, dan relasi sosial, termasuk dalam ruang diplomasi internasional.

Syekh Sofyan Siroj kemudian menautkan penghargaan tersebut dengan refleksi keilmuan dan kebijakan sosial-keagamaan. Menurutnya, tantangan umat saat ini bukan pada kekurangan regulasi atau dalil, melainkan krisis adab dan ruh dalam mengelola keberagaman.
“Rahmah harus menjadi ukuran kemuliaan agama di ruang publik. Setiap kebijakan, dakwah, dan komunikasi keagamaan seharusnya mengurangi penderitaan, bukan menambah konflik,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa banyak konflik keagamaan lahir bukan karena perbedaan ajaran, melainkan runtuhnya adab, terutama dalam komunikasi publik dan ruang digital. Karena itu, prinsip tabayyun, keadilan, dan ihsan harus menjadi fondasi bersama.
Lebih jauh, Syekh Sofyan menekankan bahwa tauhid sejati tidak berhenti pada slogan, tetapi melahirkan etika publik berupa amanah, kejujuran, dan keberpihakan kepada kemanusiaan. Dalam konteks inilah, peran tokoh seperti Prof Mohammad Soleh Ridwan dinilai strategis.
“Penghargaan ini menunjukkan bahwa keteguhan akidah dapat berjalan seiring dengan kelapangan muamalah. Tegas dalam prinsip, lembut dalam persaudaraan,” katanya.
Syekh Sofyan Siroj juga menyoroti pentingnya maqasid al-syari‘ah sebagai ukuran keberhasilan kebijakan dan gerakan keagamaan. Menurutnya, setiap aktivitas yang mengatasnamakan agama harus diukur dari dampaknya terhadap perlindungan jiwa, akal, martabat manusia, dan persatuan sosial.
Syekh Sofyan Siroj berharap anugerah tersebut menjadi penguat peran Prof Pangeran Mohammad Soleh Ridwan dalam membawa nilai-nilai perdamaian global, sekaligus inspirasi bagi umat untuk menjadikan Islam sebagai sumber rahmat dan peradaban.
“Inilah makna Rahmatan lil ‘alamin—bukan hanya janji teologis, tetapi tugas peradaban yang harus dihidupkan dengan adab, kebijaksanaan, dan tanggung jawab moral,” pungkasnya.



