BerandaBeritaMahasiswa PPG Universitas Riau Sulap Minyak Jelantah Jadi Lilin Aromaterapi dan Sabun

Mahasiswa PPG Universitas Riau Sulap Minyak Jelantah Jadi Lilin Aromaterapi dan Sabun

spot_img

KABARLAH.COM, PEKANBARU-  Upaya mengurangi limbah rumah tangga sekaligus meningkatkan nilai guna minyak jelantah dilakukan melalui pelatihan pengolahan limbah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi GARUDA (Gerakan Aksi Ramah Untuk Daur Ulang) dan Sabun BERSERI (Bersih, Sejahtera, Ramah Lingkungan Indonesia).

Kegiatan ini dilaksanakan oleh mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Calon Guru dari Kelompok 3 Pendidikan Pancasila Universitas Riau sebagai bagian dari Proyek Kepemimpinan.

Pelatihan yang digelar pada Selasa (29/9/2026) pukul 13.30–16.00 WIB tersebut berlangsung di rumah salah satu warga RT 003/RW 005, Kelurahan Lembah Damai, Kecamatan Rumbai, Kota Pekanbaru. Sebanyak 15 ibu rumah tangga mengikuti kegiatan dan mempraktikkan secara langsung proses pengolahan minyak jelantah menjadi produk yang bernilai guna.

Proyek Kepemimpinan merupakan salah satu mata kuliah dalam Program PPG Calon Guru. Melalui mata kuliah ini, mahasiswa menjalankan kegiatan nyata bagi masyarakat secara mandiri, mulai dari observasi masalah, perizinan, perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi dan pelaporan.

Selain memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar, proyek ini juga menjadi sarana untuk melatih kreativitas, jiwa kewirausahaan, kerja sama tim, dan kepemimpinan calon guru.

Kegiatan tersebut berangkat dari hasil observasi tim di lingkungan setempat yang menemukan bahwa minyak jelantah dari aktivitas memasak sehari-hari masih sering dibuang karena warga belum mengetahui cara mengolah dan memanfaatkannya.

Melalui pelatihan ini, mahasiswa memperkenalkan pemanfaatan minyak jelantah menjadi produk baru yang memiliki nilai guna, sejalan dengan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle).

Acara diawali dengan sambutan Ketua RT 003, Muhammad Rafi, kemudian dibuka secara resmi oleh dosen pembimbing lapangan, Asyrul Fikri, M.Pd.

Selanjutnya, tim mahasiswa PPG Kelompok 3 menyampaikan materi mengenai dampak pembuangan minyak jelantah terhadap lingkungan sekaligus mendemonstrasikan secara langsung proses pembuatan lilin aromaterapi dan sabun sebelum peserta mempraktikkannya.

Dalam pembuatan lilin, minyak jelantah terlebih dahulu direndam semalaman bersama arang dan serai untuk mengurangi bau. Setelah itu, minyak dipanaskan menggunakan kaleng bekas wafer dan dicampur dengan stearic acid agar dapat mengeras.

Campuran kemudian diberi pewarna lilin serta minyak esensial yang dapat berupa aroma lavender, lemon, dan vanila. Minyak esensial juga dapat diganti dengan minyak kayu putih atau minyak telon. Selanjutnya, campuran dituangkan ke dalam

cetakan yang telah diberi sumbu dan dibiarkan selama 2–3 jam hingga mengeras. Sementara itu, sabun dibuat menggunakan minyak jelantah yang telah melalui proses pembersihan serupa. Minyak kemudian dicampur dengan soda api dan didiamkan selama semalam hingga mengeras.

Dari kegiatan tersebut dihasilkan masing-masing 15 buah lilin dan sabun dengan warna hijau, merah muda, dan biru serta berbagai aroma. Para peserta tampak antusias mengikuti setiap tahapan, mulai dari penyampaian materi, demonstrasi, hingga praktik pembuatan produk.

Ketua RT 003, Muhammad Rafi, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberikan pengetahuan baru kepada warga mengenai pemanfaatan minyak jelantah.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk kami di RT 003 ini karena ibu-ibu rumah tangga jadi tahu bagaimana pemanfaatan dari minyak jelantah menjadi sebuah karya yang inovatif, yang biasanya hanya terbuang dan menjadi limbah.”

Salah seorang peserta, Ibu Endang, juga mengaku memperoleh pemahaman baru mengenai pemanfaatan minyak jelantah yang selama ini hanya dibuang atau disimpan.

“Saya mendapat pemahaman baru tentang pemanfaatan minyak jelantah. Biasanya kami sebagai ibu-ibu rumah tangga hanya sekadar membuang minyak bekas ataupun menyimpannya. Dengan pelatihan ini, kami jadi tahu bahwa minyak jelantah pun bisa dibuat menjadi sesuatu yang inovatif dan bermanfaat seperti lilin aromaterapi dan sabun ini.”

Kegiatan ditutup dengan foto bersama dan penyerahan suvenir berupa lilin dan sabun hasil produksi tim. Melalui kegiatan tersebut, warga diharapkan dapat mulai membiasakan diri mengumpulkan minyak jelantah serta mengolahnya menjadi produk bernilai guna secara mandiri dan berkelanjutan.

“Saya mendapat pemahaman baru tentang pemanfaatan minyak jelantah. Biasanya kami sebagai ibu-ibu rumah tangga hanya sekadar membuang minyak bekas ataupun menyimpannya. Dengan pelatihan ini, kami jadi tahu bahwa minyak jelantah pun bisa dibuat menjadi sesuatu yang inovatif dan bermanfaat seperti lilin aromaterapi dan sabun ini.”

Kegiatan ditutup dengan foto bersama dan penyerahan suvenir berupa lilin dan sabun hasil produksi tim. Melalui kegiatan tersebut, warga diharapkan dapat mulai membiasakan diri mengumpulkan minyak jelantah serta mengolahnya menjadi produk bernilai guna secara mandiri dan berkelanjutan.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img