KABARLAH.COM – Bismillāhirraḥmānirraḥīm. Meluruhkan diri dari selain-Nya bukan berarti menghapus diri, membenci dunia, meninggalkan keluarga, atau merasa menyatu dengan Allah. Maknanya adalah membersihkan hati dari ketergantungan kepada selain Allah. Harta, jabatan, manusia, usaha, ilmu, dan kekuatan diri hanyalah sebab. Adapun sumber hakiki segala pertolongan, rezeki, keselamatan, dan taufik hanyalah Allah.
Allah berfirman:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Apa saja nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah datangnya.”
QS. An-Naḥl: 53
Inilah inti tauhid yang hidup. Seorang hamba tetap bekerja, berobat, belajar, berdakwah, dan mengurus keluarga, tetapi hatinya tidak menyembah sebab. Ia menjalankan ikhtiar dengan sungguh-sungguh, lalu menyerahkan hasil kepada Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ
“Ikatlah untamu, lalu bertawakkallah.” HR. Tirmidzi
Maka tawakkal bukan kemalasan. Tawakkal adalah kerja yang disertai hati yang bersandar kepada Allah. Tangan bergerak, hati berserah. Akal merancang, jiwa tunduk. Inilah adab seorang mukmin.
Dalam ruh Futūḥ al-Ghaib, Syekh Abdul Qadir al-Jailani رحمه الله mengajarkan agar seorang salik tidak berhenti pada makhluk. Jangan mabuk oleh pujian, jangan hancur oleh celaan, jangan sombong karena berhasil, dan jangan putus asa ketika gagal. Semua datang dengan izin Allah.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
“Wahai manusia, kamulah yang membutuhkan Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” QS. Fāṭir: 15
Hikmahnya: semakin seseorang meluruh dari selain Allah, semakin lembut akhlaknya. Ia mudah bersyukur, ringan meminta maaf, senang melayani, dan tidak merasa paling berjasa. Ia tahu dirinya faqir, sedangkan Allah Maha Kaya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya.”
HR. Bukhari dan Muslim
Maka luruhkan ego dengan ikhlas, sujud, dzikir, khidmah, dan muhasabah. Hati yang hanya bersandar kepada Allah akan merdeka dari berhala-berhala batin. Wallāhu a‘lam.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab



