KABARLAH.COM – بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Bersyukur dan mengakui kekurangan adalah dua sikap ruhani yang menjaga manusia tetap menjadi hamba. Syukur membuat hati tidak buta terhadap nikmat Allah, sedangkan pengakuan kekurangan membuat jiwa tidak mabuk oleh amal, ilmu, kedudukan, dan pujian manusia. Dalam perjalanan menuju Allah, dua hal ini harus berjalan bersama.
Syukur tanpa pengakuan kekurangan bisa berubah menjadi rasa bangga. Pengakuan kekurangan tanpa syukur bisa berubah menjadi putus asa. Maka seorang salik yang matang belajar berdiri di antara dua cahaya: melihat semua nikmat sebagai karunia Allah, dan melihat semua kelemahan sebagai alasan untuk terus kembali kepada Allah.
Dalam ruh ajaran Futūḥ al-Ghaib, Syekh Abdul Qadir al-Jailani رحمه الله mendidik seorang hamba agar tidak tertipu oleh dirinya sendiri. Manusia mudah merasa bahwa keberhasilan adalah hasil kecerdasannya, ibadah adalah bukti kesalehannya, ilmu adalah tanda keunggulannya, dan kedudukan adalah ukuran kemuliaannya. Padahal, jika Allah tidak memberi taufik, tidak ada satu amal pun yang mampu dilakukan. Jika Allah tidak menutup aib, tidak ada satu manusia pun yang layak dipuji. Jika Allah tidak menjaga hati, seorang ahli ibadah pun bisa tergelincir oleh ujub dan kesombongan.
Allah berfirman:
«وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Nikmat apa saja yang ada pada kalian, maka itu berasal dari Allah.”
QS. An-Naḥl: 53»
Ayat ini membongkar ilusi kepemilikan manusia. Apa yang kita sebut “milikku” sesungguhnya adalah titipan. Iman adalah nikmat. Islam adalah nikmat. Akal adalah nikmat. Kesehatan adalah nikmat. Keluarga adalah nikmat. Kesempatan bertaubat adalah nikmat. Bahkan kemampuan mengucapkan “alhamdulillāh” pun adalah nikmat dari Allah. Maka orang yang bersyukur tidak melihat dirinya sebagai pusat keberhasilan, tetapi sebagai penerima amanah.
Allah juga berfirman:
«لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian.”
QS. Ibrāhīm: 7»
Syukur bukan hanya ucapan lisan. Syukur adalah struktur kesadaran. Dengan hati, seseorang mengakui bahwa nikmat berasal dari Allah. Dengan lisan, ia memuji Allah dan menyebut nikmat-Nya dengan adab. Dengan anggota badan, ia menggunakan nikmat untuk taat. Maka ilmu disyukuri dengan diamalkan dan diajarkan. Harta disyukuri dengan nafkah halal, zakat, sedekah, dan tidak sombong. Kesehatan disyukuri dengan ibadah, kerja baik, dan menolong sesama. Jabatan disyukuri dengan amanah dan keadilan. Keluarga disyukuri dengan kasih sayang, pendidikan iman, dan tanggung jawab.
Rasulullah ﷺ adalah teladan tertinggi dalam syukur. Ketika beliau shalat malam hingga kedua kakinya bengkak, ‘Aisyah رضي الله عنها bertanya mengapa beliau melakukan itu, padahal dosa beliau telah diampuni. Beliau menjawab:
«أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
“Tidakkah aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?”
HR. Bukhari dan Muslim»
Hadits ini mengajarkan bahwa syukur bukan hanya reaksi setelah menerima nikmat dunia, tetapi maqam penghambaan. Nabi ﷺ tidak beribadah karena takut kehilangan ampunan, tetapi karena sangat mengenal besarnya karunia Allah. Semakin dalam ma‘rifat seseorang, semakin besar rasa syukurnya. Semakin ia mengenal Allah, semakin ia merasa bahwa seluruh amalnya belum sebanding dengan satu nikmat saja.
Namun syukur harus ditemani pengakuan kekurangan. Sebab hati manusia sangat halus penyakitnya. Amal bisa berubah menjadi bahan kesombongan. Ilmu bisa berubah menjadi alat merendahkan orang lain. Sedekah bisa berubah menjadi pamer kebaikan. Ibadah bisa berubah menjadi rasa lebih suci. Karena itu Allah memperingatkan:
«فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ
“Janganlah kalian menganggap diri kalian suci.”
QS. An-Najm: 32»
Ayat ini tidak melarang manusia memperbaiki diri, tetapi melarang kesombongan batin. Seorang hamba boleh berharap diterima Allah, tetapi tidak boleh merasa pasti paling diterima. Ia boleh beramal, tetapi tidak boleh menghina orang yang belum mampu. Ia boleh berdakwah, tetapi tidak boleh merasa paling bersih. Ia boleh menjadi guru, tetapi tetap harus menjadi murid di hadapan Allah.
Di sinilah Futūḥ al-Ghaib mengajarkan adab yang sangat dalam: jangan bersandar kepada amal. Amal wajib dilakukan, tetapi keselamatan tetap karena rahmat Allah. Ibadah adalah kewajiban hamba, bukan alat untuk menuntut Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ
“Tidak seorang pun masuk surga karena amalnya semata.”
Para sahabat bertanya, “Termasuk engkau wahai Rasulullah?” Beliau menjawab:
وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ
“Termasuk aku, kecuali jika Allah meliputiku dengan karunia dan rahmat-Nya.”
HR. Bukhari dan Muslim»
Hadits ini tidak melemahkan semangat beramal. Sebaliknya, ia meluruskan niat. Kita tetap beribadah sekuat tenaga, tetapi tidak boleh merasa berjasa kepada Allah. Kita tetap berjuang dalam kebaikan, tetapi tidak boleh merasa amal kita cukup untuk membeli surga. Kita tetap berdakwah, belajar, mengajar, dan menolong sesama, tetapi semuanya dilakukan dengan hati yang rendah: “Ya Allah, terimalah. Jangan Engkau kembalikan amal ini karena riya, ujub, atau kelalaian.”
Mengakui kekurangan juga berarti berani jujur kepada diri sendiri. Banyak orang tajam melihat kekurangan orang lain, tetapi tumpul melihat aib sendiri. Mudah menilai kesalahan saudara, tetapi berat menangisi kelalaian pribadi. Padahal pintu perbaikan dimulai dari pengakuan: “Aku masih kurang. Aku masih perlu belajar. Aku masih perlu dibersihkan. Aku masih membutuhkan rahmat Allah.”
Allah mengajarkan doa Nabi Adam عليه السلام:
«رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Ya Rabb kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”
QS. Al-A‘rāf: 23»
Inilah adab orang yang kembali kepada Allah. Ia tidak sibuk membela ego, tidak menyalahkan takdir, tidak menuding orang lain lebih dahulu. Ia memulai dari dirinya: mengakui kurang, memohon ampun, lalu bangkit memperbaiki amal.
Secara praktis, syukur dapat dilatih dengan menyebut alhamdulillāh dengan hati sadar, mencatat nikmat harian, menggunakan nikmat untuk taat, tidak membandingkan diri dengan orang yang lebih tinggi dalam urusan dunia, dan memperbanyak sedekah. Sedangkan pengakuan kekurangan dilatih dengan muhasabah harian, istighfar, meminta maaf bila salah, mengembalikan hak orang lain, dan tidak menyebut amal kecuali dengan adab: “Alhamdulillah, Allah memberi taufik.”
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa yang sangat indah:
«اَللّٰهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.”
HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i; shahih»
Doa ini menunjukkan bahwa syukur pun membutuhkan pertolongan Allah. Bahkan untuk bersyukur, kita harus diberi taufik oleh Allah. Maka puncak syukur adalah menyadari bahwa kemampuan bersyukur pun merupakan nikmat yang harus disyukuri.
Akhirnya, tadabbur ini mengajarkan keseimbangan agung: jangan kufur terhadap nikmat, tetapi jangan ujub karena nikmat. Jangan meremehkan karunia Allah, tetapi jangan merasa diri paling layak menerimanya.
Jangan putus asa karena kekurangan, tetapi jangan sombong karena kelebihan. Seorang hamba yang matang akan berkata: “Ya Allah, semua nikmat ini dari-Mu. Semua kebaikan ini karena taufik-Mu. Semua kekuranganku membutuhkan ampunan-Mu. Terimalah amal yang sedikit ini, ampuni lalai yang banyak ini, dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri.”
آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



