KABARLAH.COM – بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Bukti Allah Esa tidak hanya terbentang di langit dan bumi, tetapi juga terasa dalam kedalaman hati manusia. Alam semesta yang tertib, tubuh yang hidup, rezeki yang datang, doa yang dijawab, dan kematian yang pasti adalah tanda bahwa seluruh wujud ini tidak berjalan sendiri. Ada Rabb Yang Maha Mencipta, Maha Mengatur, Maha Memberi, dan Maha Menghidupkan.
Allah berfirman:
«أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun, ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri?”
QS. Ath-Thur: 35»
Ayat ini mengajak manusia merendahkan kesombongan akalnya. Manusia tidak menciptakan dirinya. Alam tidak menciptakan dirinya. Segala yang lemah, berubah, sakit, tua, dan mati tidak mungkin menjadi Tuhan. Maka hanya Allah yang layak disembah.
Allah berfirman:
«لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا
“Sekiranya di langit dan bumi ada tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya telah rusak binasa.”
QS. Al-Anbiya’: 22»
Keteraturan alam menunjukkan satu Pengatur. Karena itu, hati pun harus punya satu sandaran: Allah. Inilah hikmah tauhid dalam ruh Futūḥul Ghaib: gunakan sebab, tetapi jangan menyembah sebab. Berobatlah, bekerja, belajar, dan berniaga, tetapi yakini bahwa hasil akhir berada di tangan Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«“Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.”
HR. Tirmidzi, hasan shahih»
Maka tauhid yang benar melahirkan adab: tidak sombong saat diberi nikmat, tidak putus asa saat diuji, tidak menggantungkan hati kepada makhluk, dan tidak berlebihan takut kepada dunia.
Allah berfirman:
«أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
QS. Ar-Ra’d: 28»
Hikmahnya: tauhid bukan hanya dibaca, tetapi dihidupkan. Hati bersandar kepada Allah, tangan tetap berikhtiar, lisan berdoa, dan akhlak menjadi rahmat bagi sesama.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



