KABARLAH.COM – بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Melihat dengan pandangan rahmat adalah adab seorang mukmin dalam memandang manusia. Ia tidak cepat menghukum, tidak mudah merendahkan, dan tidak merasa paling suci. Ia membenci maksiat, tetapi tetap mendoakan pelakunya agar mendapat hidayah. Ia menolak kezaliman, tetapi tetap menjaga keadilan. Ia menasihati kesalahan, tetapi tidak menghancurkan kehormatan manusia tanpa hak.
Allah menggambarkan misi Rasulullah ﷺ:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
QS. Al-Anbiyā’: 107
Ayat ini mengajarkan bahwa dakwah Islam harus membawa rahmat, bukan kebencian. Kebenaran harus disampaikan, tetapi dengan hikmah dan adab.
Allah berfirman:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
“Serulah kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan nasihat yang baik.”
QS. An-Naḥl: 125
Dalam ruh Futūḥ al-Ghaib, Syekh Abdul Qadir al-Jailani رحمه الله mengajarkan agar seorang salik tidak keras kepada makhluk dan tidak merasa dirinya paling bersih. Allah berfirman:
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ
“Janganlah kalian menganggap diri kalian suci.”
QS. An-Najm: 32.
Rasulullah ﷺ bersabda:
بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ
“Cukuplah seseorang dianggap buruk bila ia merendahkan saudaranya sesama Muslim.”
HR. Muslim
Maka pandangan rahmat bukan berarti membenarkan dosa, tetapi membuka pintu taubat. Bukan berarti membiarkan kezaliman, tetapi menegakkan keadilan tanpa dendam. Rasulullah ﷺ bersabda:
الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمٰنُ
“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Raḥmān.”
HR. Abu Dawud dan Tirmidzi; shahih
Hikmahnya: lihatlah manusia dengan rahmat, nasihatilah dengan hikmah, tegurlah dengan adab, dan doakanlah dengan tulus. Siapa yang menyayangi makhluk Allah dengan benar, ia sedang mendekat kepada rahmat Allah.
آمِيْنَ
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



