BerandaInspirasiNasehatHikmah: Allah Mencintai yang Tunggal dan Menunggalkan-Nya

Hikmah: Allah Mencintai yang Tunggal dan Menunggalkan-Nya

spot_img

KABARLAH.COM – Bismillahirraḥmanirraḥim. Hati manusia sering lelah karena ditarik oleh banyak “tuan”: ingin dipuji, takut miskin, takut kehilangan kedudukan, gelisah kepada masa depan, atau terlalu bergantung kepada makhluk. Maka makna “Allah mencintai yang tunggal dan menunggalkan-Nya” adalah: Allah mencintai hati yang satu arah, satu sandaran, dan satu tujuan tertinggi, yaitu Allah semata.

Allah berfirman:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ۝ اللَّهُ الصَّمَدُ
“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu.”
QS. Al-Ikhlāṣ: 1–2.

Allah adalah Al-Aḥad, Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah adalah Aṣ-Ṣamad, tempat seluruh makhluk bergantung. Maka seorang hamba yang bertauhid tidak menjadikan harta, jabatan, manusia, pujian, atau sebab dunia sebagai sandaran mutlak.

Dalam ruh ajaran Futūḥul Ghaib, Syekh Abdul Qadir al-Jailani رحمه الله mendidik seorang salik agar hidup di dunia tanpa diperbudak dunia. Ia boleh bekerja, berkeluarga, berdakwah, dan memimpin, tetapi hatinya tetap untuk Allah.

Allah berfirman:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
QS. Al-Fātiḥah: 5

Ayat ini adalah janji ruhani setiap mukmin. Kita tidak ingin menjadi budak hawa nafsu, pujian, ambisi, atau ketakutan. Kita ingin menjadi hamba Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits qudsi:

“Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa melakukan amal lalu menyekutukan Aku dengan selain-Ku dalam amal itu, Aku tinggalkan dia bersama sekutunya.”
HR. Muslim

Maka jagalah hati dari riya’ dan ujub. Beramallah karena Allah, bukan karena ingin dilihat. Tetaplah berbuat baik meski tidak dipuji. Tetaplah istiqamah meski tidak dihargai.

Hikmahnya: tunggalkan Allah dalam ibadah, cinta, tawakkal, takut, harap, dan niat. Hati yang punya satu pusat akan tenang. Hidup yang punya satu tujuan akan mulia. Dan tujuan tertinggi seorang mukmin hanyalah ridha Allah.

Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img