KABARLAH.COM – Tidak cukup bagi seorang Muslim hanya mengatakan cinta kepada Rasulullah ﷺ. Cinta sejati kepada Nabi harus tampak dalam iman, ketaatan, akhlak, pembelaan terhadap risalah, dan kesungguhan mengikuti sunnah beliau. Sebab cinta yang hanya berhenti di lisan, tetapi tidak mengubah amal, belum menjadi cinta yang sempurna.
Allah berfirman:
“Katakanlah: jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.”
QS. Āli ‘Imrān: 31
Ayat ini menjelaskan bahwa ukuran cinta kepada Allah dan Rasul-Nya adalah ittibā‘, yaitu mengikuti tuntunan Nabi ﷺ. Maka mencintai Rasulullah berarti menjaga shalat, memperbaiki akhlak, jujur dalam amanah, menyayangi umat, dan menjauhi dosa.
Allah juga berfirman:
“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.”
QS. Al-Aḥzāb: 21
Rasulullah ﷺ bukan hanya dicintai, tetapi diteladani. Beliau adalah contoh dalam ibadah, keluarga, kepemimpinan, kesabaran, keberanian, dan kasih sayang.
Nabi ﷺ bersabda:
“Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.”
HR. Bukhari dan Muslim
Hadits ini menunjukkan bahwa cinta kepada Nabi ﷺ adalah bagian dari kesempurnaan iman. Namun cinta itu harus membimbing hati untuk taat, bukan sekadar bangga secara emosi.
Hikmahnya, umat Islam harus mencintai Rasulullah ﷺ sekaligus beriman kepada risalahnya: Al-Qur’an, sunnah, akhlak, syariat, dan perjuangan menegakkan kebenaran. Bila cinta kepada Nabi hidup dalam hati, maka umat akan malu berkhianat, malu berpecah, malu meninggalkan sunnah, dan malu jauh dari Al-Qur’an.
Cinta Rasul adalah cahaya; ketaatan adalah buktinya.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



