KABARLAH.COM – Dalam politik dunia, sering terlihat pemimpin besar berbicara dengan ancaman, kemarahan, dan kesombongan. Namun Islam mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukanlah kemampuan menakut-nakuti orang lain, melainkan kemampuan menahan diri, berlaku adil, dan menjaga amanah.
Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong. Sesungguhnya kamu tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.”
QS. Al-Isrā’: 37
Ayat ini mengingatkan bahwa sebesar apa pun kekuasaan manusia, ia tetap kecil di hadapan Allah. Negara kuat, pemimpin besar, tentara, ekonomi, dan pengaruh politik semuanya akan sirna bila tidak disertai keadilan dan ketakwaan.
Allah juga berfirman:
“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
QS. Al-Mā’idah: 8
Maka dalam konflik antarbangsa, seorang mukmin tidak boleh tertipu oleh propaganda, emosi, dan kebencian buta. Kebenaran harus ditimbang dengan adil. Yang zalim harus dicegah, yang tertindas harus dibela, dan perdamaian yang bermartabat harus diupayakan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.”
HR. Bukhari dan Muslim
Hadits ini berlaku bukan hanya untuk pribadi, tetapi juga bagi pemimpin dan bangsa. Kemarahan yang tidak dikendalikan dapat menyeret manusia kepada kehancuran.
Hikmahnya, jangan kagum kepada kekuasaan yang bising, tetapi kagumlah kepada keadilan yang tenang. Jangan terpukau pada ancaman, tetapi perhatikan siapa yang menjaga amanah. Sebab di sisi Allah, kemuliaan bukan milik yang paling keras suaranya, tetapi milik yang paling adil, sabar, dan bertakwa.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



