KABARLAH.COM – “Pertempuran global sedang berlangsung di balik layar. Ini bukan sekadar perang minyak dan gas, tetapi perang perusahaan-perusahaan asuransi yang tidak kalah sengit. Kegilaan Amerika akan membuat dunia mengalami kemunduran.”
Kalimat ini mengingatkan kita bahwa banyak pergolakan dunia tidak selalu tampak di permukaan. Di balik perang, krisis energi, konflik ekonomi, dan tekanan politik, sering ada kepentingan besar yang tersembunyi: perebutan sumber daya, kekuasaan, pasar, dan keuntungan. Manusia kecil sering hanya melihat akibatnya, sementara sebab-sebab besarnya bergerak dalam ruang yang gelap.
Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa kerusakan di bumi sering lahir dari tangan manusia sendiri:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…”
QS. Ar-Rūm: 41
Ayat ini mengajarkan bahwa ketika keserakahan menguasai kebijakan, maka bumi menjadi rusak, rakyat menderita, dan bangsa-bangsa kecil menjadi korban permainan kekuatan besar.
Namun seorang mukmin tidak boleh hanya marah, panik, atau hanyut dalam prasangka. Ia harus membaca zaman dengan iman, ilmu, dan bashīrah.
Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya…”
QS. Al-Isrā’: 36
Karena itu, menghadapi fitnah global, umat Islam harus menjaga akal sehat, tidak mudah tertipu propaganda, dan tidak kehilangan adab dalam menilai keadaan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seorang mukmin tidak boleh disengat dua kali dari lubang yang sama.”
HR. Bukhari dan Muslim
Hadits ini mengajarkan kewaspadaan. Umat tidak boleh berulang kali menjadi korban tipu daya politik, ekonomi, dan budaya yang merusak kedaulatan serta marwahnya.
Hikmahnya: dunia boleh dipenuhi perebutan kuasa, tetapi hati orang beriman harus tetap berpaut kepada Allah. Kita wajib membangun ilmu, persatuan, kemandirian ekonomi, dan kepemimpinan yang adil.
Sebab kemunduran terbesar bukan hanya ketika dunia rusak oleh kekuatan zalim, tetapi ketika umat kehilangan kesadaran, keberanian, dan ketergantungannya kepada Allah.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



