BerandaInspirasiNasehatTadabbur Al Qur'an Al Isra' (17): 7, Kebaikan Kembali kepada Diri, Keburukan...

Tadabbur Al Qur’an Al Isra’ (17): 7, Kebaikan Kembali kepada Diri, Keburukan pun Memakan Pemiliknya

spot_img

KABARLAH.COM – بسم الله الرحمن الرحيم.
اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْۗ وَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَاۗ فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ الْاٰخِرَةِ لِيَسٗۤـُٔوْا وُجُوْهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوْهُ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّلِيُتَبِّرُوْا مَا عَلَوْا تَتْبِيْرًا ۝٧

in aḫsantum aḫsantum li’anfusikum, wa in asa’tum fa lahâ, fa idzâ jâ’a wa‘dul-âkhirati liyasû’û wujûhakum wa liyadkhulul-masjida kamâ dakhalûhu awwala marratiw wa liyutabbirû mâ ‘alau tatbîrâ.

“Jika berbuat baik, (berarti) kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, (kerugian dari kejahatan) itu kembali kepada dirimu sendiri. Apabila datang saat (kerusakan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu, untuk memasuki masjid (Baitulmaqdis) sebagaimana memasukinya ketika pertama kali, dan untuk membinasakan apa saja yang mereka kuasai.”

Ayat ini menyingkap satu hukum ilahi yang sangat mendasar, tetapi sering dilupakan manusia modern: tidak ada amal yang benar-benar keluar dari lingkaran diri. Allah berfirman, “Jika kamu berbuat baik, maka kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri; dan jika kamu berbuat jahat, maka itu pun kembali kepada dirimu sendiri.” Kalimat ini sederhana, namun kandungannya sangat dalam. Ia bukan hanya nasihat akhlak, melainkan peta tentang bagaimana manusia, sejarah, dan peradaban bekerja di bawah sunnatullah. Dalam satu ayat pendek, Al-Qur’an meruntuhkan ilusi bahwa dosa bisa “aman”, bahwa kezaliman bisa “menguntungkan”, atau bahwa kebaikan hanya bermanfaat bagi orang lain. Tidak. Pada akhirnya, manusia selalu sedang membentuk nasib dirinya sendiri.

Secara populis, ayat ini mudah dipahami: saat seseorang jujur, sabar, amanah, menjaga lisan, dan berbuat ihsan, ia sebenarnya sedang membangun hidupnya sendiri. Mungkin manfaat lahiriahnya tampak mengenai orang lain terlebih dahulu, tetapi buah terdalamnya kembali kepada dirinya: hatinya lebih tenang, jiwanya lebih bersih, akalnya lebih jernih, dan hidupnya lebih berkah. Sebaliknya, ketika seseorang berdusta, zalim, berkhianat, sombong, atau merusak, ia mungkin tampak menang di permukaan, tetapi pada saat yang sama ia sedang merobohkan fondasi dirinya sendiri. Dosa sering terlihat seperti kekuatan, padahal hakikatnya adalah kebocoran batin. Maksiat sering terasa seperti kebebasan, padahal sebenarnya ia adalah bentuk perbudakan jiwa yang paling halus.

Inilah yang membuat ayat ini sangat relevan secara filosofis. Al-Qur’an sedang memperlihatkan bahwa alam moral tidaklah netral. Ciptaan Allah memiliki struktur maknawi: kebaikan itu selaras dengan fitrah, sedangkan keburukan bertentangan dengan fitrah. Karena itu, ketika manusia berbuat baik, ia bergerak searah dengan desain penciptaannya; jiwanya menjadi subur, bening, dan kokoh. Tetapi ketika ia berbuat jahat, ia sedang melawan susunan ruhaniahnya sendiri. Dari sinilah lahir satu kesimpulan penting: kejahatan pertama-tama bukan tindakan melukai orang lain, melainkan tindakan merusak diri yang kemudian menyebar ke luar. Orang yang terbiasa menzalimi sesungguhnya sudah lebih dahulu hancur di dalam dirinya sebelum kehancuran itu tampak di luar.

Dalam kerangka akademik, ayat ini mengandung tiga lapisan. Pertama, lapisan etis-personal: manusia bertanggung jawab atas amalnya, dan konsekuensi moral tidak bisa dipindahkan. Kedua, lapisan psikologis-ruhaniah: amal membentuk kualitas batin pelakunya. Ketiga, lapisan sosial-historis: jika kerusakan itu dilakukan secara kolektif, maka ia akan melahirkan keruntuhan kolektif pula. Itulah mengapa dalam konteks ayat ini, Allah mengaitkan prinsip tersebut dengan sejarah Bani Israil. Pesannya jelas: kehancuran sebuah umat tidak pernah lahir tiba-tiba hanya karena serangan dari luar; ia biasanya didahului oleh pembusukan dari dalam—rusaknya amanah, pudarnya rasa tunduk kepada wahyu, menebalnya kezaliman, dan hilangnya adab.

Di sinilah Al-Qur’an mengajari kita membaca sejarah dengan mata yang lebih dalam. Peradaban tidak runtuh hanya oleh pedang, ekonomi, atau konflik politik. Semua itu memang faktor lahiriah, tetapi penyebab terdalamnya sering berada di wilayah batin: ketika nilai-nilai runtuh, ketika hawa nafsu menggantikan hikmah, ketika manusia lebih mencintai kuasa daripada kebenaran. Maka ayat ini sesungguhnya bukan hanya berbicara tentang Bani Israil, tetapi tentang hukum umum sejarah manusia. Umat mana pun yang merusak dirinya dengan kezaliman, kesombongan, dan pengkhianatan pada amanah, sedang menyiapkan sebab-sebab keruntuhannya sendiri. Dan umat mana pun yang membangun dirinya dengan iman, ihsan, keadilan, dan taubat, sedang menanam benih keselamatannya sendiri.

Secara ruhani, ayat ini sangat halus. Ia mengajak kita menyadari bahwa pahala dan dosa bukan sekadar catatan legal di akhirat, melainkan arus yang sudah bekerja sejak di dunia. Amal saleh itu menerangi hati. Ia membuat dada lebih lapang, lidah lebih bersih, pandangan lebih jernih, dan langkah lebih tenang. Sebaliknya, dosa menimbulkan kegelapan yang perlahan menumpuk. Mula-mula ia terasa kecil, lalu membentuk kebiasaan, lalu membangun karakter, lalu menjadi nasib. Karena itu, seseorang tidak pernah “sekadar” berbuat salah. Setiap kesalahan yang dibiarkan adalah satu lapisan kabut baru yang menutupi cermin jiwanya. Lama-kelamaan ia tidak lagi peka terhadap kebenaran, tidak malu pada dosa, dan tidak takut kepada akibat. Pada titik itu, kerusakan batin sudah menjadi sistem dalam diri.

Pendekatan para ulama tazkiyah membantu kita menangkap makna ini. Dalam corak Sa‘id Hawwa, amal bukan hanya masalah halal-haram, tetapi jalan penyucian jiwa. Dalam semangat Abdul Halim Mahmud, kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah bukan slogan, melainkan kebutuhan eksistensial manusia agar tidak pecah dari dalam. Dan dalam nuansa pemikiran Ramadhan al-Buthi, syariat tidak datang untuk membebani manusia, tetapi untuk menjaga martabatnya. Maka ayat ini seakan berkata: jangan kira ketaatan itu untuk Allah semata, karena Allah Mahakaya; ketaatan itu untuk menyelamatkan dirimu. Dan jangan kira maksiat itu hanya pelanggaran terhadap perintah Tuhan; ia adalah bentuk sabotase terhadap masa depan jiwamu sendiri.

Karena itu, tadabbur ayat ini harus berujung pada muhasabah. Jika hidup terasa sempit, relasi rusak, hati gelisah, ibadah hambar, dan arah makin kabur, mungkin masalahnya bukan pertama-tama pada dunia di luar, tetapi pada sesuatu yang sedang retak di dalam. Ayat ini mengajak kita berhenti menyalahkan keadaan, lalu mulai menata batin. Kebaikan sekecil apa pun tidak pernah remeh, sebab ia sedang membangun diri. Keburukan sekecil apa pun tidak pernah aman, sebab ia sedang menggerogoti diri.

Akhirnya, QS. Al-Isrā’ ayat 7 mengajarkan satu etika agung: manusia selalu sedang menuai dirinya sendiri. Kebaikan adalah rahmat yang pertama kali dinikmati pelakunya. Keburukan adalah racun yang pertama kali diminum pemiliknya. Maka jalan keselamatan bukan sekadar menghindari kehancuran luar, tetapi memperbaiki sumber dalamnya: hati, niat, amal, dan hubungan dengan Allah. Di situlah tadabbur berubah menjadi amal, dan amal berubah menjadi keselamatan.

Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img