KABARLAH.COM – وَذَرِ الَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا دِيْنَهُمْ لَعِبًا وَّلَهْوًا وَّغَرَّتْهُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا وَذَكِّرْ بِهٖٓ اَنْ تُبْسَلَ نَفْسٌۢ بِمَا كَسَبَتْۖ لَيْسَ لَهَا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَلِيٌّ وَّلَا شَفِيْعٌۚ وَاِنْ تَعْدِلْ كُلَّ عَدْلٍ لَّا يُؤْخَذْ مِنْهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ اُبْسِلُوْا بِمَا كَسَبُوْا لَهُمْ شَرَابٌ مِّنْ حَمِيْمٍ وَّعَذَابٌ اَلِيْمٌ ۢ بِمَا كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ ٧٠
wa dzarilladzînattakhadzû dînahum la‘ibaw wa lahwaw wa gharrat-humul-ḫayâtud-dun-yâ wa dzakkir bihî an tubsala nafsum bimâ kasabat laisa lahâ min dûnillâhi waliyyuw wa lâ syafî‘, wa in ta‘dil kulla ‘adlil lâ yu’khadz min-hâ, ulâ’ikalladzîna ubsilû bimâ kasabû lahum syarâbum min ḫamîmiw wa ‘adzâbun alîmum bimâ kânû yakfurûn.
Tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan kelengahan, dan mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengannya (Al-Qur’an) agar seseorang tidak terjerumus (ke dalam neraka), karena perbuatannya sendiri. Tidak ada baginya pelindung dan pemberi syafaat (pertolongan) selain Allah. Jika dia hendak menebus dengan segala macam tebusan apa pun, niscaya tidak akan diterima. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan (ke dalam neraka), karena perbuatan mereka sendiri. Mereka mendapat minuman dari air yang mendidih dan azab yang pedih karena mereka selalu kufur.
Di zaman layar, hampir semua hal bisa dijadikan tontonan: ilmu, ibadah, debat, bahkan kesucian. Kita hidup dalam budaya yang cepat mengubah yang sakral menjadi sekadar konten. Dalam lanskap seperti ini, QS Al-An‘ām:70 datang sebagai alarm keras namun penyelamat: tinggalkan orang-orang yang menjadikan agama sebagai permainan dan senda gurau, yang tertipu kehidupan dunia; dan berilah peringatan dengan Al-Qur’an agar jiwa tidak dibinasakan oleh perbuatannya sendiri. Ayat ini bukan hanya kritik kepada kaum kafir masa lalu. Ia adalah cermin tajam untuk kita hari ini.
Pesan pertamanya sangat jelas: ada batas adab terhadap agama. Ketika nilai-nilai ilahi diperlakukan sebagai bahan olok-olok, iman tidak boleh menjadi penonton netral.
“Tinggalkan” dalam ayat ini bukan berarti menutup pintu dakwah, melainkan menolak normalisasi penghinaan terhadap kebenaran. Dalam bahasa sederhana: jangan larut dalam lingkungan yang membuat hati kebal terhadap dosa. Karena hati yang sering menertawakan yang suci, lama-lama tidak lagi mampu menangis saat jauh dari Allah.
Secara zahir, ayat ini menetapkan etika publik keagamaan. Agama tidak boleh direduksi jadi hiburan, identitas seremonial, atau alat retorika kosong. Al-Qur’an memerintahkan wa dzakkir bihi—beri peringatan dengan wahyu, bukan sekadar opini dan ledakan emosi. Artinya, dakwah harus berakar pada hujjah, adab, dan kasih sayang yang benar. Lalu ayat ini menegaskan prinsip tanggung jawab personal: jiwa bisa “tergadai” oleh usahanya sendiri. Ini fondasi keadilan ilahi: tidak ada yang dizalimi, tidak ada dosa yang “hilang,” tidak ada amal yang “sia-sia.”
Namun kekuatan ayat ini justru tampak pada kedalaman batinnya. Penyakit terbesar manusia sering bukan kebodohan, melainkan ilusi. Kita merasa aman karena simbol: komunitas yang saleh, jabatan agama, citra moral, jaringan sosial. Kita mengira itu cukup menjadi “jaminan.” QS Al-An‘ām:70 merobek ilusi tersebut: pada hari hisab, tidak ada pelindung selain Allah; tidak ada tebusan yang diterima dari jiwa yang menolak kebenaran. Di sana, yang berdiri bukan citra—melainkan amal.
Dalam pendekatan filosofis, ayat ini bisa dibaca sebagai pertarungan dua identitas manusia. Pertama, manusia sebagai homo ludens: makhluk yang mempermainkan segalanya—nilai, kebenaran, bahkan agama—demi sensasi.
Kedua, manusia sebagai homo ‘abd: hamba yang sadar hidup adalah amanah, bukan arena lelucon metafisik. Ketika agama diperlakukan sebagai permainan, manusia kehilangan struktur makna. Ia ramai di luar, tetapi kosong di dalam. Ia fasih bicara, tapi miskin takwa. Ia punya panggung, tapi kehilangan arah pulang.
Dari sisi akademik, ayat ini memuat tiga kerangka penting. Pertama, etika epistemik: yang sakral tidak boleh dipermainkan karena itu merusak kemampuan manusia membedakan benar-salah. Kedua, psikologi moral: “tertipu dunia” menggambarkan mekanisme self-deception—orang merasionalisasi penyimpangan karena manfaat jangka pendek.
Ketiga, teologi pertanggungjawaban: kebebasan memilih selalu membawa konsekuensi; keadilan akhirat menempatkan setiap pilihan pada timbangannya. Dengan demikian, ayat ini bukan sekadar ancaman; ia adalah pendidikan preventif agar jiwa tidak jatuh terlalu jauh.
Dalam bahasa populis: jangan jadikan agama sebagai bahan bercanda yang mengikis hormat hati. Jangan tertipu gemerlap yang hanya memuaskan mata tapi melaparkan ruh. Jangan menunda taubat hanya karena “masih ada waktu.” Sebab yang sering habis bukan waktu di jam dinding, tetapi kepekaan di dalam dada. Saat hati sudah terbiasa meremehkan nasihat, dosa besar biasanya dimulai dari dosa kecil yang dipelihara.
Karena itu, tadabbur ayat ini harus berujung pada amal konkret. Pertama, kurasi lingkungan: pilih majelis yang menumbuhkan iman, bukan yang menertawakan syariat. Kedua, disiplin lisan—terutama di ruang digital: tidak ikut menyebarkan hinaan terhadap ayat, ulama, atau simbol agama. Ketiga, jadikan Al-Qur’an sebagai alat ukur keputusan harian: apa yang kita klik, tulis, dukung, beli, dan bela—apakah mendekatkan atau menjauhkan dari Allah? Keempat, lakukan muhasabah singkat setiap malam: hari ini agama saya perlakukan sebagai amanah, atau sekadar aksesori sosial? Kelima, lakukan taubat operasional: hentikan kebiasaan salah yang berulang, ganti dengan amal nyata—istighfar, sedekah, memperbaiki hak orang lain, menepati janji, menahan ego.
Di titik ini, kita memahami mengapa ayat menutup dengan gambaran keras tentang balasan: bukan untuk mematikan harapan, tetapi untuk menyelamatkan manusia dari kebutaan moral. Al-Qur’an tidak menakut-nakuti tanpa arah; ia memperingatkan agar kita kembali sebelum terlambat. Ancaman dalam ayat adalah bentuk rahmat yang tegas—seperti rambu di tepi jurang.
Akhirnya, QS Al-An‘ām:70 mengajak kita menata ulang cara beragama di tengah peradaban tontonan. Agama bukan panggung pencitraan, melainkan jalan penyucian. Dunia bukan rumah abadi, melainkan ruang ujian. Al-Qur’an bukan ornamen suara, melainkan kompas hidup. Jika ini dipahami, kita akan lebih hati-hati pada yang kita anggap “sekadar bercanda,” lebih jujur pada niat, dan lebih serius menyiapkan bekal pulang.
Saat orang lain mempermainkan yang suci, tugas kita bukan ikut tertawa—tetapi menjaga cahaya hati. Saat dunia menawarkan gemerlap, tugas kita bukan anti-dunia—tetapi menempatkannya sebagai alat, bukan tujuan. Saat nafsu berkata “nanti saja taubat,” tugas kita adalah menjawab: “sekarang.”
Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan bukan citra baik di mata manusia, melainkan kebenaran amal di hadapan Allah.
Jangan main-main dengan agama. Jangan tertipu dunia. Pulanglah kepada Allah sebelum pintu itu ditutup oleh waktu.
Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.




