KABARLAH.COM, Pekanbaru – وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Wa’taṣimụ biḥablillāhi jamī’aw wa lā tafarraqụ ważkurụ ni’matallāhi ‘alaikum iż kuntum a’dā`an fa allafa baina qulụbikum fa aṣbaḥtum bini’matihī ikhwānā, wa kuntum ‘alā syafā ḥufratim minan-nāri fa angqażakum min-hā, każālika yubayyinullāhu lakum āyātihī la’allakum tahtadụn.
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.
Ada ayat yang bila benar-benar dihidupkan, ia mampu menjadi “jahitan” bagi umat yang robek oleh ego. QS. Āli ‘Imrān (3): 103 bukan sekadar slogan persatuan, tetapi perintah iman yang memiliki konsekuensi dunia–akhirat: “Berpegangteguhlah kalian semuanya pada tali Allah, dan jangan bercerai-berai.” Lanjutan ayat mengingatkan nikmat besar: Allah mempersaudarakan hati yang dahulu bermusuhan, menyelamatkan dari “tepi jurang neraka”, dan memerintahkan nikmat itu untuk diingat. Ayat ini seperti menegaskan: persatuan bukan aksesori sosial; ia bagian dari ibadah. Sebaliknya, perpecahan bukan sekadar beda pendapat; ia luka peradaban yang bisa menyeret manusia ke dosa, kezaliman, dan kehancuran.
Poros pertama ayat ini adalah perintah kolektif: wa‘taṣimū… jamī‘an. Allah tidak berkata “berpeganglah masing-masing”, tetapi “berpeganglah bersama-sama.” Ini menegaskan bahwa Islam bukan hanya proyek privat; Islam juga proyek jamaah: membangun umat yang saling menguatkan dalam ketaatan. Dalam bahasa akademik, ayat ini memerintahkan collective commitment pada sumber nilai yang sama. Dalam bahasa populis: pegangannya satu; jangan masing-masing menggenggam ego.
Poros kedua adalah larangan yang sangat tegas: wa lā tafarraqū. Ayat ini bukan melarang ikhtilaf ijtihadi (perbedaan dalam furu’), tetapi melarang tafarruq: pecahnya persaudaraan, saling meniadakan, saling merendahkan, saling memvonis tanpa ilmu, menjadikan cabang sebagai alasan memutus pokok. Secara akademik, Islam mengizinkan diversity of opinions, tetapi menolak fragmentation of hearts. Beda pendapat bisa menjadi rahmat ketika dijaga adab; ia menjadi fitnah ketika menjadi senjata ego. Maka “jangan bercerai-berai” bukan berarti “seragam”, tetapi berarti “tetap satu hati” di atas tauhid dan adab.
Lalu apa “tali Allah” itu? Dalam tafsir Sunni klasik, ḥablullāh ditafsirkan dengan beberapa makna yang saling menguatkan: Al-Qur’an, Islam, perjanjian ketaatan kepada Allah, serta jamaah kaum mukminin yang berjalan di atas wahyu. Intinya: tali itu “penghubung aman” yang menyelamatkan dari jatuh—yaitu wahyu dan jalan ketaatan. Maka pesan populisnya jelas: kalau mau selamat, pegangan kita harus satu: Allah dan petunjuk-Nya—bukan gengsi kelompok, bukan fanatisme tokoh, bukan ego madzhab. Yang menyatukan umat bukan karena semua pikirannya sama, tetapi karena pusatnya sama: Allah.
Poros ketiga ayat adalah nikmat persaudaraan: ingat nikmat Allah atas kalian; dulu kalian bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hati kalian. Ini pengingat sejarah: manusia bisa bersepakat dalam kepentingan, tetapi kepentingan mudah berubah. Yang lebih sulit adalah persatuan hati—dan itu hanya mungkin bila ada “langit” yang menjadi poros. Al-Qur’an mengajarkan bahwa wahyu mampu menyatukan yang tidak mampu disatukan oleh sekadar perhitungan dunia. Persaudaraan iman bukan toleransi dingin, tetapi rekonsiliasi batin: saling menahan diri, saling menutup aib dengan cara yang benar, saling menasihati tanpa menghina.
Poros keempat adalah ungkapan yang menggetarkan: kalian berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian. Ini bukan hiperbola; ini diagnosis bahaya. Perpecahan bukan cuma “tidak enak dilihat”. Ia bisa menyeret pada dosa lisan (ghibah, fitnah), kezaliman (menyakiti saudara), dan konflik yang merusak masyarakat. Secara sosiologis, komunitas yang pecah mudah dimanipulasi, kehilangan kekuatan, dan gagal menjaga kemaslahatan. Secara ruhani, perpecahan membuat hati keras dan menghapus rahmat. Maka ayat ini adalah pagar keselamatan: mencegah umat meluncur dari perbedaan menjadi permusuhan.
Makna batin ayat ini lebih dalam: “tali Allah” di batin adalah pemindahan pusat orientasi dari “aku/kelompokku” ke “Allah dan ridha-Nya.” Perpecahan sering berakar dari nafs: ingin unggul, ingin menang, ingin diakui. Ketika hati menggenggam tali Allah, ego melemah: kita berani benar tapi tetap beradab; tegas pada prinsip tapi lembut pada saudara. Di sinilah persatuan menjadi ibadah: bukan karena politik, tetapi karena takut Allah.
Persatuan yang dimaksud ayat ini bukan koalisi pragmatis, tetapi ukhuwwah iman: saling menolong dalam ketaatan. Dalam napas tarbiyah Sa’id Hawwa, persatuan lahir dari pendidikan iman yang menumbuhkan adab jama’i: disiplin ibadah, jujur, amanah, dan siap menahan diri dari api konflik. Ukhuwwah tidak akan berdiri di atas lisan yang liar dan hati yang penuh hasad. Karena itu, perpecahan selalu dimulai dari kegelapan hati sebelum menjadi konflik sosial: su’uzhan, bisik-bisik, luka yang dipelihara, dan lisan yang tidak dijaga. Maka persatuan dimulai dari tazkiyah: membersihkan hasad, merawat kasih sayang, dan menahan lidah.
Dalam corak tazkiyah Abdul Halim Mahmud, nikmat iman harus dijaga dengan hudūr: merasa diawasi Allah ketika berbicara tentang saudara. Dan dalam garis adab iman Muhammad Sa’id Ramadan al-Buti, iman yang benar melahirkan adab: berbeda tanpa memecah, menasihati tanpa menghina, tegas tanpa zalim. Perbedaan yang dijaga adab adalah tanda hidupnya iman; perpecahan yang dipelihara adalah tanda dominannya nafs.
Dalil penguatnya kuat: “Sesungguhnya orang beriman itu bersaudara” (Al-Ḥujurāt 49:10). “Jangan kalian berselisih, nanti kalian gagal dan hilang kekuatan” (Al-Anfāl 8:46). Hadits: “Mukmin bagi mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan.” Dan larangan dengki serta saling membenci (HR. Muslim) menegaskan bahwa penyakit ukhuwah bukan sekadar beda pendapat, tetapi kebencian batin.
Dengan lensa “Tadabbur & Amal”, ayat ini turun menjadi latihan: audit loyalitas (aku menggenggam tali Allah atau gengsi kelompok?), adab ikhtilaf (bedakan ushul dan furu’, keras pada dalil lembut pada saudara), dan proyek ukhuwah nyata (shalat berjamaah, silaturahim, islah). Dalam kerangka “Al-Fathu Nawa”: Al-Fath tersingkap bahwa persatuan adalah perintah iman; An-Nawā menanam benih tauhid sebagai poros, adab lisan, husnuzhan, syura, disiplin ibadah jama’i; buahnya umat kuat—bukan karena seragam, tetapi karena terikat oleh Allah sehingga beda tidak berubah jadi benci.
Kalimat pengunci: QS 3:103 mengajari rumus keselamatan umat: genggam wahyu bersama-sama, rawat nikmat persaudaraan, dan jangan biarkan ego mengubah perbedaan menjadi perpecahan—karena yang menyelamatkan bukan “siapa paling hebat”, tetapi siapa paling kuat berpegang pada Allah.
Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



