BerandaInspirasiNasehatMasuk Islam Secara Kaffah: Menyatukan Tauhid, Akal, Adab dalam Jalan Hidup

Masuk Islam Secara Kaffah: Menyatukan Tauhid, Akal, Adab dalam Jalan Hidup

spot_img

KABARLAH.COM, Pekanbaru – يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةًۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ ۝٢٠٨

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam (kedamaian) secara menyeluruh dan janganlah ikuti langkah-langkah setan! Sesungguhnya ia musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208)

Ada ayat yang bila dibaca sekilas tampak seperti perintah biasa, tetapi bila ditadabburi ia seperti “konstitusi jiwa” dan “peta peradaban” sekaligus. QS. Al-Baqarah (2): 208 menertibkan cara manusia beragama: jangan jadikan Islam seperti etalase yang dipilih sesuai selera. Jangan jadikan wahyu sebagai hiasan, sementara nafsu menjadi penentu. Jangan jadikan masjid sebagai pusat emosi, tetapi pasar sebagai pusat nilai. Masuk Islam secara kāffah berarti: Islam bukan potongan-potongan, melainkan jalan hidup—yang menghubungkan manusia dengan Allah, menata jiwa, membangun keluarga, menegakkan keadilan, dan memelihara kemaslahatan.

Tadabbur paling awal dari ayat ini ada pada dua kata: as-silm dan kāffah. As-silm dalam tafsir dipahami sebagai Islam, juga kedamaian yang lahir dari kepasrahan total. Kāffah berarti menyeluruh, total, bukan parsial. Maka ayat ini seperti berkata: “Jika kalian memilih Islam, pilihlah Islam sebagai jalan hidup, bukan sebagai hiasan identitas.” Islam tidak hadir untuk mengisi satu ruangan dalam rumah hidup; Islam hadir sebagai arsitek rumah itu.

Islam Kaffah: Menolak “Agama Buffet”

Ada model beragama yang diam-diam menjadi penyakit zaman: agama buffet. Ambil yang cocok, buang yang berat. Mau doa mustajab, tapi menunda shalat. Mau berkah, tapi riba dianggap wajar. Mau damai, tapi lisan gemar merusak. Mau pahala, tapi menipu dalam transaksi. Mau ruhani, tapi zalim dalam keluarga. Inilah Islam parsial: agama yang menenangkan hati sesaat, tetapi tidak mengubah arah.

Islam kāffah menutup pintu itu. Ia menuntut integrasi: aqidah → ibadah → akhlak → muamalah → peradaban. Jika salah satu putus, hasilnya pincang. Karena itu ayat ini bukan ancaman, tetapi kasih sayang: Allah tidak ingin hamba-Nya berjalan dengan kompas rusak—kompas yang menunjuk ke Allah saat ibadah, tetapi menunjuk ke nafsu saat urusan dunia.

Kāffah juga berarti: Islam tidak bisa dipisahkan antara “privat” dan “publik” secara mutlak. Bukan berarti semua hal harus dipolitisasi, tetapi berarti nilai Allah harus hadir dalam seluruh keputusan yang menentukan baik-buruk manusia: keluarga, ekonomi, pendidikan, komunikasi, dan tata kelola. Islam kāffah bukan “menguasai semua urusan,” melainkan menyatukan semua urusan di bawah ridha Allah.

Tauhid sebagai Poros: Mengapa Syumul Harus Dimulai dari Dalam?

Setiap kesyumulan Islam bermula dari tauhid. Tauhid adalah pusat orientasi: Allah sebagai tujuan ibadah, sumber nilai, dan hakim moral tertinggi. Tanpa tauhid, kesyumulan berubah menjadi proyek kuasa: agama dipakai untuk menaklukkan, bukan untuk memperbaiki. Dengan tauhid, kesyumulan menjadi proyek adab: hidup dihadapkan pada pertanyaan sederhana tapi berat: “Apakah Allah ridha?”

Tauhid membuat semua bidang tersambung: kerja jadi ibadah, ilmu jadi amanah, kekuasaan jadi pelayanan, harta jadi titipan, keluarga jadi ladang rahmah. Tanpa tauhid, semua bidang bisa berdiri sendiri dan saling bertabrakan: orang bisa rajin ibadah tetapi zalim; cerdas tetapi curang; religius tetapi suka memfitnah. Maka Islam kāffah bukan pertama-tama soal “banyak program,” tetapi soal “satu pusat.” Jika pusatnya benar, cabang-cabangnya tertib.

Di titik ini ayat menambahkan peringatan: “jangan mengikuti langkah-langkah setan.” Setan tidak menyeret manusia sekaligus ke jurang; setan memecah hidup menjadi langkah-langkah kecil: normalisasi dosa, kompromi kecil, pembenaran kecil, sampai akhirnya hati mati. Islam kāffah menutup strategi ini: ia meminta manusia menutup pintu kecil sebelum menjadi pintu besar.

Ibadah sebagai Mesin Perubahan: Bukan Gerak, tapi Pembentuk

Kita sering mengira ibadah adalah wilayah “vertikal” yang tidak terkait dengan kehidupan nyata. Padahal ibadah adalah mesin pembentuk karakter. Shalat menanam disiplin waktu dan menundukkan ego. Puasa menipiskan nafsu dan menumbuhkan empati. Zakat menertibkan harta agar tidak menjadi berhala. Haji menanam kesetaraan lintas suku dan kelas sosial.

Jika ibadah tidak melahirkan akhlak, itu tanda ada yang putus. Islam kāffah menuntut: shalat tidak boleh berakhir di sajadah; ia harus menjadi kejujuran di kantor. Puasa tidak boleh berakhir di lapar; ia harus menjadi kemampuan menahan diri saat emosi naik. Zakat tidak boleh berakhir di angka; ia harus menjadi kepedulian sosial. Haji tidak boleh berakhir di foto; ia harus menjadi rendah hati.

Dalam bahasa populis: kalau ibadah kita banyak tapi lisan masih liar, berarti yang bergerak baru tubuh—belum hati. Islam kāffah meminta ibadah menjadi akhlak.

Akhlak sebagai Wajah Islam: Tanpa Akhlak, Syariat Menjadi Keras

Akhlak adalah jantung kesyumulan. Islam bukan hanya benar dalam dalil, tetapi benar dalam adab. Kejujuran, amanah, menepati janji, adil, menahan ghibah, menjaga lisan, menolong yang lemah, memuliakan manusia—ini bukan bonus, ini inti.

Tanpa akhlak, kesyumulan berubah menjadi “agama galak”: tegas pada cabang, lalai pada pokok; keras pada orang lain, lunak pada diri sendiri. Padahal salah satu tanda kedewasaan iman adalah: tegas pada prinsip, lembut pada manusia. Bukan kompromi nilai, tetapi rahmah dalam cara.

Akhlak juga menjaga kesyumulan dari kebekuan. Banyak orang benar dalam teks, tetapi salah dalam rasa: tidak ada kelembutan, tidak ada empati, tidak ada malu. Islam kāffah menolak itu. Agama yang menyeluruh harus melahirkan manusia yang menyeluruh: kuat akalnya, lembut hatinya, dan lurus adabnya.

Muamalah dan Ekonomi: Harta Sebagai Amanah, Bukan Tujuan

Salah satu arena paling nyata dari Islam kāffah adalah ekonomi. Islam tidak memusuhi kekayaan, tetapi memusuhi kezhaliman. Islam mengatur halal-haram transaksi, menutup riba sebagai sumber kerusakan, menghindari penipuan dan gharar, melindungi hak pekerja, menegakkan zakat dan wakaf sebagai pilar sosial.

Kita sering melihat paradoks: ritual kuat, tapi ekonomi “buta nilai.” Islam kāffah menolak ekonomi yang “untung tapi zalim.” Keberkahan bukan hanya profit, tetapi adab dan keadilan. Bahkan di sini, dunia dibolehkan—bagian dunia ada—tetapi dunia tidak boleh menjadi kiblat.

Tadabbur QS 2:208 mengajari: jika Islam dipotong dari ekonomi, setan akan mengambil celah: orang bisa shalat, tetapi menipu; bisa umrah, tetapi memeras; bisa tilawah, tetapi memakan riba. Kesyumulan menutup celah itu.

Politik dan Tata Kelola: Syura, Amanah, dan Keadilan Publik

Islam kāffah tidak memisahkan iman dari urusan publik. Namun ini bukan berarti semua harus dijadikan propaganda. Justru Islam mengajarkan adab: kekuasaan adalah amanah, bukan hadiah. Keadilan adalah pilar, bukan slogan. Syura adalah adab, bukan formalitas. Korupsi dan kezhaliman adalah dosa publik yang menghancurkan trust sosial.

Dalam bahasa filosofis, negara bukan hanya mesin regulasi; negara adalah pembentuk moral publik. Jika kebijakan membiarkan kemunkaran jadi budaya, kerusakan menetas pelan-pelan: dari privat ke publik, dari generasi ke generasi. Maka Islam kāffah menuntut kebijakan yang menjaga kemaslahatan: melindungi keluarga, pendidikan, keadaban ruang publik, dan martabat manusia.

Namun Islam kāffah juga menutup pintu ekstremisme: menegakkan nilai tanpa merusak manusia. Keadilan harus disertai rahmah. Ketegasan harus dibatasi adab. Tujuan syariat adalah menjaga maslahat, bukan memproduksi bencana.

Keseimbangan Berprinsip: Bukan Kompromi Nilai, Bukan Kekakuan

Masuk Islam secara kāffah tidak berarti “keras tanpa hikmah.” Islam menyeluruh justru menuntut keseimbangan: kemudahan yang syar’i, mengutamakan substansi daripada formalitas kosong, memahami realitas tanpa tunduk pada realitas, membangun maslahat tanpa menabrak nash.

Di sini muncul kebutuhan “prioritas”: jangan sibuk pada yang kecil lalu melalaikan yang besar; jangan keras pada cabang lalu lalai pada pokok. Ada orang berdebat panjang tentang furu’, tetapi santai pada riba dan korupsi. Ada yang keras soal simbol, tetapi lunak pada kezhaliman. Itu bukan Islam kāffah—itu Islam yang salah tertib.

Islam menyeluruh menuntut tartib: urutkan mana yang paling mendesak, mana yang paling pokok, mana yang paling berpengaruh. Kesyumulan bukan “semua dibahas bersamaan,” tetapi “semua ditempatkan.”

Membaca Realitas dan Menimbang Maslahat–Mafsadat

Ayat 2:208 tidak mengajarkan “kutip dalil lalu selesai.” Ia menuntut memahami realitas: apa dampak kebijakan? apa efek budaya digital? apa yang merusak keluarga? apa yang merusak akhlak publik? Islam kāffah menuntut kemampuan menimbang: maslahat dan mafsadat, jangka pendek dan jangka panjang, tujuan dan sarana. Islam turun sebagai rahmat; maka penerapannya harus berbuah rahmat—tanpa mengorbankan prinsip.

Kesyumulan bukan berarti semua orang harus menjadi ahli semua bidang. Tetapi kesyumulan berarti semua bidang harus punya poros nilai, dan poros itu kembali kepada wahyu.

Pagar dari Dua Bahaya: Kemunafikan Amal dan Kebekuan Beragama

QS 2:208 menutup dua pintu kehancuran:

Pertama. kemunafikan amal: mengaku beriman tetapi hidup menyalahi iman,

Kedua. kebekuan beragama: benar dalil tapi rusak adab, sehingga agama jadi alat konflik, bukan rahmat.

Kaffah adalah obat keduanya. Ia meminta kejujuran: jika Islam jalan hidup, ia harus tampak dalam rumah, kantor, pasar, kebijakan. Ia juga meminta kelembutan: jika Islam rahmat, cara menyampaikan Islam harus beradab.

Kaffah sebagai Latihan Harian

Tadabbur yang tidak turun menjadi amal akan berubah menjadi wacana. Maka ayat ini bisa diturunkan menjadi tiga latihan:

Pertama. Audit kāffah: area mana dalam hidup saya yang masih parsial? (harta, lisan, keluarga, ibadah, amanah).

Kedua. Pagar harian: satu amal tauhid (shalat tepat waktu), satu amal akhlak (menahan lisan), satu amal sosial (sedekah/menolong).

Ketiga. Adab ikhtilaf: tegas pada pokok, lembut pada saudara—jangan jadikan furu’ sebagai medan memecah hati.

Latihan kecil ini menjaga Islam tetap menjadi arah, bukan sekadar simbol.

Akhirnya

QS. Al-Baqarah (2): 208 mengajari bahwa kesyumulan Islam bukan “menguasai semua urusan,” tetapi menyatukan semua urusan di bawah ridha Allah. Islam kāffah menuntut tauhid yang jernih, ibadah yang membentuk karakter, akhlak yang menyejukkan, muamalah yang adil, dan peradaban yang menjaga maslahat. Tegas pada prinsip, luas dalam rahmah, rapi dalam prioritas, dan membumi dalam amal.

Jika kita ingin perubahan nyata, ayat ini bukan untuk dipajang, tetapi untuk dijadikan kompas: *masuk Islam secara menyeluruh—bukan sekadar percaya, tetapi tunduk; bukan sekadar ritual, tetapi akhlak; bukan sekadar identitas, tetapi adab; bukan sekadar bicara, tetapi amal.

Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img