BerandaInspirasiNasehatKeluarga sebagai Medan Pertarungan Nilai

Keluarga sebagai Medan Pertarungan Nilai

spot_img

KABARLAH.COM, Pekanbaru – Tadabbur peradaban dari QS. Asy-Syams (91): 8–10, di balik gegap gempita globalisasi, ada pertarungan yang tidak selalu tampak oleh mata: pertarungan nilai. Ia tidak datang dengan senjata, melainkan dengan istilah, standar, dan definisi. Seorang pemikir Muslim kontemporer, Muhammad ‘Imarah, pernah mengingatkan bahwa sejak akhir abad ke-20, terjadi invasi pemikiran melalui perumusan sistem nilai modern–pascamodern yang diformalkan lewat konvensi internasional dan disebarkan melalui jejaring global. Medan paling strategis dari benturan itu bukanlah ekonomi atau militer, melainkan keluarga.

Al-Qur’an memberi kunci membaca fenomena ini melalui QS. Asy-Syams (91): 8–10. Setelah bersumpah dengan matahari, bulan, siang, dan malam—simbol kosmos yang teratur—Allah mengarahkan perhatian kita kepada kosmos batin: jiwa manusia. “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” Ayat ini bukan sekadar nasihat individual; ia adalah peta peradaban.

Pertama, ayat ini menegaskan bahwa manusia memiliki kompas moral internal. Allah menanamkan kemampuan mengenali fujūr (melanggar batas, mengotori) dan taqwā (menjaga, menahan, menata). Artinya, manusia bukan makhluk netral tanpa petunjuk. Dalam bahasa akademik, ini menegakkan tanggung jawab moral: ketika definisi dan kebijakan menyimpang dari fitrah, jiwa sebenarnya tahu—meski sering dibungkam oleh kebiasaan dan pembenaran.

Kedua, Al-Qur’an merumuskan ulang ukuran sukses–gagal. “Sungguh beruntung orang yang menyucikannya.” Keberuntungan di sini bukan sekadar angka pertumbuhan atau kebebasan tanpa batas, melainkan tazkiyah—pembersihan dan penumbuhan jiwa. Sebaliknya, “sungguh rugi orang yang mengotorinya” menunjuk pada dassāhā: mengubur potensi baik di bawah dosa, syahwat, dan narasi yang menormalisasi penyimpangan. Ini kerugian senyap: tidak selalu terasa hari ini, tetapi menghancurkan arah esok hari.

Di titik inilah peringatan ‘Imarah menemukan konteksnya. Ketika sistem nilai global mendorong redefinisi keluarga—peran ayah-ibu dipertukarkan tanpa hikmah, komitmen dipinggirkan, dan pendidikan anak dipisahkan dari adab—yang sebenarnya terjadi adalah pencemaran kosmos batin kolektif. Keluarga disasar karena ia “pabrik nilai”: mengubah keluarga berarti mengubah manusia dari akarnya. Inilah mengapa pertarungan definisi jauh lebih menentukan daripada pertarungan regulasi.

Pendekatan Islam tidak menolak dialog global, ilmu, atau kemajuan. Yang ditolak adalah penyerahan definisi inti tanpa uji nilai. QS. Asy-Syams mengajarkan standar evaluasi yang sederhana namun tegas: apakah kebijakan dan wacana itu menyucikan atau mengotori jiwa? Apakah ia menumbuhkan tanggung jawab, adab, dan kesetiaan pada amanah keluarga, atau justru menormalisasi pelampauan batas?

Implikasinya konkret. Di level keluarga, kita perlu mereklamasi definisi: keluarga sebagai amanah sakinah–mawaddah–rahmah, dengan peran yang saling melengkapi, bukan kompetisi. Di level pendidikan, adab harus kembali menjadi tulang punggung kurikulum—bukan menggantikan sains, tetapi mengarahkannya. Guru adalah teladan nilai, bukan sekadar penyampai konten. Di level kebijakan, diperlukan audit nilai: sebelum meratifikasi standar global, uji dampaknya terhadap keluarga dan maqāṣid—agama, jiwa, akal, keturunan, harta, dan kehormatan.

Secara filosofis, ayat 8–10 membangun antropologi Qur’ani yang ringkas: manusia bebas, tetapi kebebasan itu berarah. Kemenangan sejati adalah kemenangan atas diri—memurnikan jiwa agar selaras dengan kebenaran. Kerugian sejati adalah kehancuran pusat kemanusiaan—nurani—yang ditutup rapat oleh kebiasaan menyimpang. Dalam bahasa peradaban, krisis keluarga adalah gejala jiwa kolektif yang menghitam; memulihkannya menuntut tazkiyah yang konsisten, bukan sekadar slogan.

Akhirnya, QS. Asy-Syams mengembalikan kita pada pertanyaan paling jujur: di tengah arus global, siapa yang kita beri kuasa—taqwā atau fujūr? Jika kita menolong taqwā melalui keluarga yang beradab, pendidikan yang bermakna, dan kebijakan yang berjiwa, maka kosmos batin akan kembali teratur. Dan dari keteraturan batin itulah, peradaban bisa berdiri tegak—tanpa kehilangan kemanusiaannya.

Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img