BerandaBeritaNasionalDompet Dhuafa Gelar Diskusi Warisan Naskah Nusantara, Membaca Masa Lalu untuk Menyongsong...

Dompet Dhuafa Gelar Diskusi Warisan Naskah Nusantara, Membaca Masa Lalu untuk Menyongsong Masa Depan

spot_img

KABARLAH.COM, Jakarta – Dompet Dhuafa bersama Lingkar Filologi Ciputat (LFC) menggelar diskusi tentang isu filantropi dalam naskah Nusantara bertajuk “Merawat Spirit Filantropi dan Keagamaan dalam Naskah Nusantara” pada Selasa (27/01/2026).

Diskusi ini menghadirkan tiga narasumber utama, yakni Yudi Latif (Pembina Dompet Dhuafa, Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Periode 2017-2018), Agus Iswanto (Peneliti BRIN, Ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara), serta Rahmatia Ayu Widyaningrum (Pengurus Manassa).

Direktur Lingkar Filologi Ciputat, Muhamad Abror, mengatakan bahwa banyak naskah Nusantara yang merekam praktik dan gagasan filantropi. Karena itu, kolaborasi ini diharapkan dapat menjadi ikhtiar untuk membahas persoalan kontemporer dengan berpijak pada nilai-nilai lokal masa lalu.

“Ada banyak naskah Nusantara yang memuat isu-isu filantropi. Semoga kolaborasi ini menjadi salah satu ikhtiar dalam membahas isu-isu kontemporer dengan melihat nilai-nilai lokal masa lalu yang sangat penting,” ujarnya pada Rabu (28/1/2026).

Pembina Lingkar Filologi Ciputat sekaligus Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Oman Fathurahman, turut mengapresiasi kerja sama yang terjalin dan menilai ini sebagai langkah strategis. Sebab menurutnya, isu-isu filantropi merupakan salah satu tema penting yang banyak ditemukan dalam naskah-naskah Nusantara.

“Ini namanya filologi plus. Artinya, ketika berbicara manuskrip, tidak hanya membahas filologi murni, tetapi juga diintegrasikan dengan disiplin ilmu lain, termasuk filantropi,” tuturnya.

Program diskusi kolaboratif ini memiliki sejumlah tujuan, antara lain meningkatkan literasi filantropi berbasis naskah Nusantara bagi pegawai Dompet Dhuafa, pegiat manuskrip, dan masyarakat umum; memperkuat identitas bangsa di tengah arus globalisasi; membangun jejaring kolaborasi antara praktisi filantropi dan akademisi; serta menyediakan arsip pengetahuan yang dapat dikembangkan menjadi serial publikasi atau kelas lanjutan.

Acara ini juga dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk Pembina Yayasan Dompet Dhuafa dan Kurator Sasana Budaya Dompet Dhuafa Andi Makmur Makka; Pengawas Yayasan Dompet Dhuafa, Yayat Supriyatna; Pembina Yayasan Dompet Dhuafa, Rahmad Riyadi; Kepala Pusat Studi Arsip Statis Kepresidenan Arsip Nasional Republik Indonesia, Agus Santoso; para pemangku kepentingan, serta ratusan peserta dari kalangan mahasiswa, peneliti, dan masyarakat umum.

Yudi Latif membicarakan tentang “Membaca Peran Nusantara bagi Masa Depan Global”, sementara Agus Iswanto memaparkan materi bertajuk “Spirit Filantropi dan Kesadaran Ekologi: Belajar dari Manuskrip Kisah Kiai Kanugrahan Qomaruddin Gresik”, dan Rahmatia Ayu Widyaningrum membahas “Lontara’ Pabbura dalam Kehidupan Sosial Masyarakat Bugis: Membaca Naskah Pengobatan sebagai Pengetahuan Bersama”.

“Jika kita tidak mampu membaca warisan masa lalu, maka kita seperti meraba dalam gelap. Satu-satunya cara untuk menyongsong masa depan adalah dengan berbekal ingatan, warisan, keteladanan, dan pelajaran dari masa lalu,” ujar Yudi Latif.

Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus Pembina Lingkar Filologi Ciputat, Prof Oman Fathurahman, menegaskan bahwa Nusantara telah memainkan peran penting dalam membentuk cara berpikir, cara hidup, dan cara berpengetahuan dunia Arab sejak abad ke-8 Masehi. Pernyataan ini sekaligus mengoreksi narasi sejarah yang selama ini lebih banyak menempatkan dunia Arab sebagai pihak yang memengaruhi Nusantara secara satu arah.

“Narasi yang harus diubah adalah bukan dunia Arab banyak mempengaruhi Nusantara, tapi Nusantara itu sudah mempengaruhi cara hidup dan cara berpikir serta cara berpengetahuan masyarakat Arab,” paparnya saat memberikan sambutan dan pidato kefilologian pada Selasa (27/01/2026).

Peraih penghargaan Habibie Prize itu menjelaskan bahwa rekonstruksi sejarah Nusantara melalui teks sebelum abad ke-14 harus bertumpu pada sumber-sumber eksternal, khususnya karya para geografer dan pelancong Arab-Persia, seperti ‘Ajā’ib al-Hind dan Rihlah al-Sīrāfī. Karya-karya tersebut menggambarkan Nusantara sebagai “negeri di bawah angin” yang telah dikenal luas dalam imajinasi geografis dunia Islam abad pertengahan.

“Dalam konteks manuskrip, tidak tepat mencari naskah Nusantara sebelum abad ke-14. Untuk menelusuri sejarah Nusantara pada periode sebelumnya, rujukan justru dapat ditemukan dalam sumber-sumber Arab, seperti ‘Ajā’ib al-Hind dan Rihlah al-Sīrāfī, yang merekam gambaran Nusantara dari perspektif para pelancong dan geografer pada masanya,” sebut Prof Oman.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img