BerandaUncategorizedOase Dakwah: Membangun Peradaban dari Jiwa yang Hidup (Inspirasi Muqaddimah Ibnu Khaldun)

Oase Dakwah: Membangun Peradaban dari Jiwa yang Hidup (Inspirasi Muqaddimah Ibnu Khaldun)

spot_img

KABARLAH.COM – Dalam Surat Ar-Ra’d: 11 Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Sejarah bukan sekadar kenangan masa lalu. Ia adalah peta perjalanan umat manusia, sumber ibrah (pelajaran), dan cermin ke mana kita melangkah. Inilah pesan abadi dari Muqaddimah karya agung Ibnu Khaldun, yang bukan hanya pengantar sejarah, tetapi manhaj (metodologi) kebangkitan umat. Ibnu Khaldun bukan sekadar sejarawan, tetapi seorang mujaddid pemikiran peradaban, yang mengajarkan bagaimana dakwah, kekuasaan, dan peradaban lahir dari kekuatan ruhani dan sosial masyarakat.

  1. Sejarah Adalah Ilmu Kehidupan, Bukan Cerita Usang

Ibnu Khaldun menegaskan, “Sejarah harus dikaji secara kritis, tidak sekadar menerima narasi.” Ia mengajak umat untuk tidak mudah tertipu oleh cerita besar yang belum tentu benar. Inilah yang juga diungkapkan oleh Al-Qur’an:

فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (QS. Al-A‘rāf: 176)

Sayyid Qutb dalam Fi Zhilāl al-Qur’an mengatakan bahwa sejarah adalah bahan bakar kesadaran umat, dan hanya bangsa yang berpikir dan mengambil pelajaran dari sejarah yang dapat bangkit dan memimpin.

  1. ‘Aṣabiyyah: Kekuatan Persaudaraan Sosial dan Dakwah

Ibnu Khaldun memperkenalkan konsep ‘aṣabiyyah — kekuatan solidaritas sosial yang menjadi sumber munculnya kekuasaan dan peradaban. Ia melihat bahwa peradaban besar lahir dari komunitas yang memiliki ikatan ruhani dan sosial yang kuat, seperti kaum Muhajirin dan Anshar yang dipersaudarakan Rasulullah ﷺ:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Ḥujurāt: 10)

Hasan al-Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin, membangun pergerakan dakwahnya dari dasar ukhuwah dan disiplin sosial (‘aṣabiyyah islamiyyah) yang terorganisir. Menurut beliau, pembinaan umat harus dimulai dari ikatan hati dan kesatuan visi.

  1. Peradaban Muncul dari Jiwa yang Terdidik

Ibnu Khaldun menegaskan, peradaban besar lahir dari manusia-manusia yang mendidik diri mereka dengan ilmu, amal, dan kesederhanaan. Masyarakat badui (suku) yang keras dan sederhana sering kali memiliki energi ruhani dan keberanian lebih besar dibanding masyarakat kota yang mewah dan lemah:

وَإِن تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ
“Jika kamu berpaling, Allah akan mengganti kamu dengan kaum yang lain dan mereka tidak seperti kamu.” (QS. Muhammad: 38)

Syaikh Abdul alim Mahmud menegaskan bahwa penyucian jiwa (tazkiyah) adalah akar dari segala kebangkitan: “Tak ada peradaban kecuali dari jiwa yang tersucikan dan hati yang terpaut kepada Allah.”

  1. Kekuasaan Adalah Amanah, Bukan Tujuan

Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa negara dan kekuasaan lahir dari kekuatan ‘aṣabiyyah dan kebutuhan manusia untuk tertib. Namun, kekuasaan tanpa ruh akan segera runtuh. Kekuasaan adalah amanah, bukan tujuan akhir. Rasulullah ﷺ bersabda:

“إِنَّهَا أَمَانَةٌ، وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ…”
“Sesungguhnya kepemimpinan itu adalah amanah, dan pada hari kiamat ia menjadi kehinaan dan penyesalan…” (HR. Muslim)

Sayyid Qtb menulis, “Negara Islam bukanlah kekuasaan fisik, tapi sistem nilai dan pengayom keadilan.”

Ibnu Khaldun menggambarkan bahwa dinasti akan melalui lima fase: perjuangan, konsolidasi, kemakmuran, kemewahan, lalu kejatuhan. Tanpa pembaruan ruhani, kekuasaan hanya akan menjadi kuburan peradaban.

  1. Ekonomi dan Keadilan Sosial

Dalam Muqaddimah, Ibnu Khaldun menunjukkan bahwa ekonomi yang sehat muncul dari keadilan dan kerja produktif. Ia mengecam pajak tinggi yang melemahkan rakyat, dan mendukung negara yang memfasilitasi pekerjaan dan produksi.

وَأَن لَيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39)

Hasan al-Banna menekankan bahwa dakwah Islam harus meliputi aspek ekonomi, sosial, dan politik, dan berdiri di atas keadilan dan kesejahteraan umum.

  1. Ilmu dan Pendidikan: Pilar Kebangkitan Umat

Ibnu Khaldun membagi ilmu menjadi naqliyah (agama) dan ‘aqliyah (rasional), dan menekankan pendidikan harus melalui tahapan, pengulangan, dan keteladanan. Ia mengkritik para ulama yang hanya meniru (taqlid) tanpa ijtihad dan pemahaman mendalam.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ”
“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan jalannya ke surga.” (HR. Muslim)

Sayyid Qutb dalam Ma‘ālim fī al-Ṭarīq menyatakan bahwa bangsa yang berilmu dan bertauhid tidak akan tunduk pada kebodohan atau perbudakan.

  1. Dakwah dan Peradaban: Jalan Panjang Menuju Kebangkitan

Muqaddimah mengajarkan bahwa kebangkitan umat adalah proyek jangka panjang, bukan instan. Dibutuhkan kekuatan ruhiyah, kesatuan sosial, kepemimpinan adil, dan pendidikan yang membangun akal dan iman.

Ibnu Khaldun menulis bahwa peradaban akan bertahan selama nilai-nilai moral dan agama menjadi fondasinya. Jika umat hanya mengejar kenikmatan dunia, maka itu tanda awal kehancuran.

وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-A‘rāf: 128)

Penutup: Menjadi Pejuang Peradaban

Kita bukan hanya pewaris sejarah, tapi pembentuk sejarah baru. Kita dipanggil untuk menjadi pelanjut peradaban para nabi dan ulama, dengan ruh dakwah, ilmu, dan perjuangan.

Muqaddimah Ibnu Khaldun bukan sekadar buku, tapi cermin kebangkitan dan peringatan kehancuran. Mari bangun peradaban dari diri sendiri, keluarga, dan masyarakat – dengan dakwah yang menyatukan akal, ruh, dan amal.

“Wahai kaumku! Ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.”
(QS. Ghāfir: 38)

Oleh Syekh Sofyan Siroj Abdul wahab

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img