KABARLAH.COM, PEKANBARU – Seorang ayah pernah berkata kepada anaknya, “Nak, hidup ini bukan hanya tentang apa yang terjadi padamu, tapi tentang bagaimana cara pandangmu terhadap apa yang terjadi.” Kalimat itu sederhana, namun menjadi fondasi kehidupan.
Cara pandang (mindset) bukan hanya memengaruhi sikap, tetapi juga menentukan ketenangan, harapan, bahkan kualitas takdir yang kita jalani.
Dalam ajaran Islam, cara pandang itu dikenal dengan istilah husnuzan—berprasangka baik kepada Allah. Sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Muhammad menyebutkan bahwa Allah berfirman, “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.” Hadis ini bukan sekadar penghibur hati, melainkan prinsip teologis sekaligus psikologis yang dalam.
Berprasangka baik kepada Allah bukan berarti pasif atau menafikan realitas. Ia adalah energi spiritual yang melahirkan optimisme, keteguhan, dan daya juang.
Pertama, dalam beribadah.
Ketika kita salat, berpuasa, bersedekah, atau beramal, yakinlah bahwa Allah menerima setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas. Keyakinan ini membuat ibadah tidak terasa sia-sia. Ia menjadi dialog penuh harap antara hamba dan Tuhannya. Tanpa keyakinan, ibadah berubah menjadi rutinitas kosong.
Kedua, dalam berdoa. Seorang anak yang percaya ayahnya akan menolongnya, akan meminta dengan penuh harap. Demikian pula seorang hamba. Doa yang disertai keyakinan akan dikabulkan—dalam bentuk yang Allah kehendaki—akan melahirkan ketenangan batin. Bisa jadi dikabulkan segera, ditunda demi kebaikan, atau diganti dengan yang lebih baik.
Namun orang yang berprasangka baik tidak pernah merasa doanya sia-sia.
Ketiga, dalam dosa dan tobat. Manusia tempatnya salah. Tetapi prasangka baik membuat seseorang yakin bahwa pintu ampunan selalu terbuka. Ia tidak terjebak dalam keputusasaan.
Ia percaya bahwa selama napas masih berhembus, rahmat Allah lebih luas dari dosa yang pernah diperbuat. Cara pandang ini menyelamatkan banyak jiwa dari jurang putus asa.
Keempat, ketika musibah datang.
Tidak ada seorang pun yang menginginkan ujian. Namun orang yang berprasangka baik yakin bahwa di balik musibah ada hikmah besar. Bisa jadi untuk menggugurkan dosa, menguatkan iman, atau mengarahkan kita ke jalan yang lebih baik.
Musibah tidak lagi dilihat sebagai hukuman semata, tetapi sebagai proses pendidikan Ilahi.
Di sinilah letak kekuatan mindset. Pikiran memengaruhi sikap. Sikap memengaruhi tindakan. Tindakan membentuk kebiasaan.
Kebiasaan membentuk karakter. Dan karakter menentukan arah hidup. Dalam konteks spiritual, prasangka baik melahirkan ketenangan dan harapan; prasangka buruk melahirkan kegelisahan dan keputusasaan.
“Maka pikiranmu adalah takdirmu,” kata sang ayah kepada anaknya. Bukan berarti manusia mengubah ketentuan Allah, tetapi cara kita memaknai takdir menentukan kualitas hidup yang kita rasakan. Dua orang bisa mengalami ujian yang sama, namun yang satu tumbuh menjadi kuat, sementara yang lain hancur—semuanya karena perbedaan cara pandang.
Dalam kehidupan modern yang penuh tekanan, husnuzan kepada Allah adalah fondasi ketahanan jiwa. Ia melahirkan pribadi yang tidak mudah goyah oleh isu, tidak mudah panik oleh krisis, dan tidak mudah putus asa oleh kegagalan.
Sebagai orang tua, sebagai pendidik, sebagai pemimpin masyarakat, tugas kita bukan hanya mewariskan harta atau jabatan, tetapi mewariskan cara pandang. Ajarkan anak-anak kita untuk selalu melihat Allah dengan kasih sayang dan harapan, bukan dengan ketakutan yang berlebihan.
Karena ketika seseorang yakin bahwa Tuhannya Maha Baik, Maha Pengampun, dan Maha Mengetahui yang terbaik untuknya, maka ia akan menjalani hidup dengan keberanian dan ketenangan.
Dan di situlah letak rahasia kekuatan sejati: berprasangka baik kepada Allah dalam segala keadaan.
Selamat berpuasa semoga ibadah puasa kita diterima disisiNya.
Oleh: Dr. Mardianto Manan, MT




