BerandaInspirasiNasehatTadabbur: Ketika Rezeki Tidak Lagi Diukur dengan Uang, Belajar Melihat Kekayaan yang...

Tadabbur: Ketika Rezeki Tidak Lagi Diukur dengan Uang, Belajar Melihat Kekayaan yang Sudah Allah Titipkan

spot_img

KABARLAH.COM – Ungkapan berikut bukan ayat Al-Qur’an dan bukan pula hadis Nabi ﷺ. Namun ia membawa kita kepada sebuah pertanyaan yang sangat mendasar: apa sebenarnya yang dimaksud dengan rezeki?

رِزْقًا قَدْ تَمْلِكُهَا وَأَنْتَ تَظُنُّ نَفْ. سَكَ فَقِيرًا

“Ada rezeki yang mungkin sudah engkau miliki, sementara engkau masih mengira dirimu miskin.”

Dalam kehidupan modern, rezeki sering dipersempit menjadi angka. Berapa penghasilan kita, berapa saldo yang tersimpan, berapa luas rumah yang dimiliki, berapa kendaraan yang terparkir, atau seberapa tinggi posisi sosial yang berhasil diraih. Ukuran semacam ini tidak sepenuhnya salah, sebab harta memang termasuk rezeki. Tetapi masalah muncul ketika rezeki hanya dipahami sebagai harta.

Al-Qur’an mengajarkan cara melihat yang lebih luas.

Allah berfirman:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

“Jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya.” QS. An-Nahl: 18

Ayat ini tidak mengatakan bahwa nikmat Allah sulit dihitung. Lebih jauh, manusia tidak akan mampu menghitungnya secara sempurna.

Mengapa?

Karena sebagian nikmat terlalu dekat dengan diri kita sehingga justru tidak lagi kita sadari sebagai nikmat.

Kita baru menyadari harga kesehatan ketika sakit datang. Kita baru memahami nikmat tidur ketika malam dipenuhi kegelisahan. Kita baru mengetahui mahalnya keamanan ketika ketakutan memasuki kehidupan. Kita baru merasakan arti orang tua ketika kursi mereka di rumah telah kosong.

Maka salah satu penyakit manusia bukan hanya kekurangan nikmat, tetapi kehilangan kemampuan untuk mengenali nikmat.

Rezeki yang Tidak Masuk ke Rekening

Kesehatan adalah rezeki.
الصِّحَّةُ رِزْقٌ

Tubuh yang mampu berdiri, berjalan, melihat, mendengar dan bernapas adalah kekayaan yang tidak ditampilkan dalam laporan keuangan. Bahkan kemampuan mengangkat tangan ketika takbir, membungkukkan badan dalam rukuk dan meletakkan dahi dalam sujud merupakan modal akhirat yang sangat besar.

Tetapi di atas kesehatan terdapat pula ‘āfiyah.
الْعَافِيَةُ رِزْقٌ
‘Afiyah lebih luas daripada sekadar sehat. Ia adalah perlindungan Allah dari berbagai keburukan: keselamatan agama, badan, keluarga, kehormatan dan kehidupan. Seseorang mungkin sehat secara fisik, tetapi hidupnya dipenuhi konflik, ketakutan dan kegelisahan. Karena itu kesehatan adalah nikmat, sedangkan ‘afiyah adalah payung besar yang menaungi banyak nikmat.

Ada pula:
الْأَمَانُ رِزْقٌ — rasa aman adalah rezeki.

Allah bahkan menyebut keamanan bersama makanan dalam QS. Quraisy:

أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ

“Yang memberi mereka makanan untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.”

Makanan menghilangkan ancaman terhadap tubuh. Keamanan menghilangkan ancaman terhadap jiwa.

Manusia membutuhkan keduanya.

Seseorang dapat mempunyai rumah megah, tetapi bila setiap malam hidup dalam ketakutan, rumah itu belum tentu menghadirkan ketenteraman. Sebaliknya, rumah yang sederhana tetapi aman dan damai dapat terasa seperti istana.

Di sinilah kita mulai memahami bahwa kekayaan tidak selalu identik dengan banyak memiliki, tetapi juga dengan tenang menikmati apa yang Allah titipkan.

Kekayaan yang Berada di Dalam Diri

Ada rezeki yang lebih dekat lagi: akal, waktu dan ketenangan hati.

الْعَقْلُ رِزْقٌ — akal adalah rezeki.

Kemampuan memahami, membandingkan, mempertimbangkan konsekuensi dan mengambil pelajaran merupakan karunia besar. Tetapi akal membutuhkan wahyu. Akal dapat dianalogikan sebagai lampu yang menerangi jalan, sedangkan wahyu menunjukkan ke mana jalan itu harus menuju.

Tanpa akal manusia sulit memahami petunjuk. Tetapi tanpa wahyu, kecerdasan tidak selalu membawa manusia kepada kebenaran.

Lalu ada:
الْوَقْتُ رِزْقٌ — waktu adalah rezeki.

Uang yang hilang mungkin dapat kembali. Barang yang rusak dapat diganti. Tetapi satu menit yang berlalu tidak pernah dapat dipanggil kembali.

Karena itu usia bukan hanya jumlah tahun sejak manusia lahir. Secara filosofis, usia adalah kesempatan yang terus berkurang.

Setiap matahari terbit membawa rezeki berupa satu hari baru. Dan setiap matahari terbenam membawa sebagian umur yang tidak pernah kembali.

Pertanyaannya bukan hanya:

“Berapa umur kita sekarang?”

Tetapi:

“Berapa banyak umur yang benar-benar telah kita hidupkan untuk sesuatu yang bernilai?”

Ada pula رَاحَةُ الضَّمِيرِ, ketenangan hati nurani.

Ini merupakan kekayaan yang tidak bisa dibeli. Orang dapat memiliki tempat tidur yang mahal tetapi kehilangan tidur; memiliki kekuasaan tetapi kehilangan ketenteraman; memiliki popularitas tetapi kehilangan kedamaian dengan dirinya sendiri.

Ketenangan hati tumbuh ketika hidup tidak terus-menerus bertentangan dengan kebenaran yang diketahui hati.

Manusia di Sekitar Kita Juga Rezeki

Orang tua adalah rezeki.
الْوَالِدَانِ رِزْقٌ

Selama mereka masih hidup, tersedia kesempatan untuk berbakti yang suatu hari akan tertutup. Ada tangan yang masih dapat dicium, suara yang masih dapat didengar, kebutuhan yang masih dapat kita layani.

Anak-anak juga rezeki.
الْأَبْنَاءُ رِزْقٌ

Mereka bukan sekadar penerus keluarga, tetapi amanah yang dapat menjadi jalan pahala. Namun keberadaan anak juga merupakan ujian: apakah kita sekadar membesarkan tubuh mereka atau benar-benar membentuk jiwa dan iman mereka?

Pasangan yang saleh adalah rezeki.
الزَّوْجُ الصَّالِحُ رِزْقٌ

Nilainya tidak semata pada kecantikan, ketampanan atau kemampuan ekonomi. Pasangan yang mengingatkan ketika lalai, menguatkan ketika lemah dan membantu menuju Allah adalah bagian dari kekayaan kehidupan.

Demikian pula sahabat yang setia:
الصَّدِيقُ الْوَفِيُّ رِزْقٌ

Di zaman ketika pertemanan dapat diukur dengan jumlah pengikut dan interaksi digital, seorang sahabat yang tulus tetap merupakan sesuatu yang langka.

Al-Qur’an mengingatkan:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman dekat pada hari itu sebagian menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang bertakwa.” QS. Az-Zukhruf: 67

Persahabatan terbaik bukan hanya yang menemani kita menikmati dunia, tetapi yang membantu kita selamat menuju akhirat.

Qana‘ah: Ketika Hati Menjadi Kaya

Salah satu rezeki paling besar adalah:

الْقَنَاعَةُ رِزْقٌ

“Qana‘ah adalah rezeki.”

Qana‘ah bukan kemiskinan yang dihias dengan kata-kata agama. Ia bukan alasan untuk malas, tidak produktif atau berhenti berusaha.

Qana‘ah adalah kemerdekaan batin dari perbudakan keinginan.

Orang yang qana‘ah tetap bekerja. Ia boleh meningkatkan penghasilan, membangun usaha, memiliki rumah yang lebih baik dan mengejar pendidikan yang tinggi. Tetapi satu hal telah berubah: kebahagiaannya tidak menunggu sampai semua keinginannya dipenuhi.

Di sinilah terdapat paradoks kehidupan.

Ada orang yang banyak mempunyai, tetapi terus merasa kurang.

Ada orang yang tidak memiliki segalanya, tetapi hatinya merasa cukup.

Karena sesungguhnya kemiskinan dan kekayaan memiliki dimensi material sekaligus batin.

Islam tidak pernah menafikan kemiskinan ekonomi. Orang lapar harus diberi makan. Orang yang kehilangan tempat tinggal harus dibantu. Keadilan sosial tetap merupakan tanggung jawab.

Tetapi Al-Qur’an juga mengajarkan bahwa manusia dapat memiliki banyak hal namun tetap hidup dalam kemiskinan psikologis, karena matanya terus melihat apa yang dimiliki orang lain.

Hidayah: Rezeki yang Mengarahkan Semua Rezeki

Kemudian kita sampai pada rezeki yang jauh lebih tinggi:

الْهِدَايَةُ رِزْقٌ

“Hidayah adalah rezeki.”

Bisa mengenal Allah adalah rezeki.

Bisa mencintai iman adalah rezeki.

Hati yang masih merasa bersalah setelah maksiat adalah rezeki.

Keinginan untuk kembali kepada Allah adalah rezeki.

Bahkan kemampuan berkata:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus,”

adalah rezeki.

Lebih dalam lagi:

السُّجُودُ لِلَّهِ رِزْقٌ

“Kemampuan bersujud kepada Allah adalah rezeki.”

Tidak semua orang yang memiliki tubuh sehat merasakan manisnya sujud.

Maka apabila Allah masih menggerakkan hati kita untuk berwudhu, berdiri menghadap kiblat lalu meletakkan wajah di tanah hanya untuk-Nya, jangan melihatnya sebagai prestasi ego.

Katakan:

وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ

“Tidak ada taufikku kecuali dengan pertolongan Allah.” QS. Hud: 88

Kemampuan taat bukan alasan untuk merasa lebih tinggi. Ia adalah nikmat yang justru menuntut lebih banyak syukur.

Dari Nikmat Menuju Al-Mun‘im

Di sinilah perjalanan ruhani menemukan kedalamannya.

Pada tingkat syariat, kita menggunakan nikmat sesuai aturan Allah.

Pada tingkat tarekat, kita mendidik nafs agar tidak terus membandingkan pemberian Allah kepada kita dengan pemberian-Nya kepada orang lain.

Pada tingkat hakikat, kita menyadari bahwa seluruh nikmat bukan hasil kekuatan kita semata, tetapi berlangsung karena izin, pertolongan dan taufik Allah.

Dan pada tingkat makrifat, perhatian tidak lagi berhenti pada nikmat.

Kita mulai mengenal:

الْمُنْعِم

Al-Mun‘im — Sang Pemberi nikmat.

Syukur pada tingkat ini bukan hanya berkata:

“Alhamdulillah, aku sehat.”

Tetapi:

“Ya Allah, Engkau yang menyehatkanku.”

Bukan hanya:

“Aku mempunyai keluarga.”

Tetapi:

“Ya Allah, Engkau yang menitipkan mereka kepadaku.”

Bukan hanya:

“Aku mampu bersujud.”

Tetapi:

“Ya Allah, Engkau yang masih mengizinkan dan menolongku bersujud kepada-Mu.”

Di sinilah makna firman Allah menjadi sangat hidup:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

“Jika kalian bersyukur, pasti Aku akan menambah kalian.” QS. Ibrahim: 7

Syukur bukan sekadar menambah nikmat yang kita miliki. Syukur terlebih dahulu menambah kemampuan hati untuk melihat nikmat yang selama ini sudah ada.

Mungkin itulah salah satu rahasia terbesar kebahagiaan:

Boleh jadi kita merasa miskin bukan karena Allah sedikit memberi, tetapi karena hati kita belum belajar menghitung pemberian-Nya.

Kesehatan akan berakhir. Rumah akan kita tinggalkan. Orang-orang yang dicintai suatu saat akan berpisah. Umur pun memiliki batas.

Tetapi jika semua nikmat itu membawa kita kepada hidayah, syukur, sujud dan ma‘rifatullah, maka rezeki dunia telah menemukan tujuan tertingginya.

Pada akhirnya, kekayaan terbesar bukanlah memiliki segala sesuatu.

Kekayaan terbesar adalah memiliki hati yang mampu melihat Allah sebagai Sang Pemberi di balik setiap pemberian.

Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img