BerandaInspirasiNasehatTadabbur: Jangan Tinggalkan Dakwah Karena Kecewa

Tadabbur: Jangan Tinggalkan Dakwah Karena Kecewa

spot_img

KABARLAH.COM – Ada orang yang meninggalkan sebuah perjuangan bukan karena ia tidak lagi percaya kepada kebenaran, melainkan karena ia kecewa kepada manusia yang berada di dalamnya.

Ada yang dahulu begitu bersemangat, tetapi kemudian menjauh karena merasa tidak dihargai. Ada yang telah lama berkorban, tetapi perlahan kehilangan tenaga karena pendapatnya tidak didengar. Ada pula yang terluka oleh sikap sahabat seperjalanan, lalu tanpa sadar menjadikan luka itu sebagai alasan untuk meninggalkan medan kebaikan.

Di sinilah seorang da‘i perlu kembali bertanya:

Sebenarnya untuk siapa kita berjalan?

Jika dakwah hanya dijalani ketika suasana menyenangkan, ketika orang menghargai, ketika pendapat diterima, ketika posisi diberikan, maka mungkin yang sedang kita cintai bukan sepenuhnya dakwah, melainkan kenyamanan yang kita peroleh darinya.

Padahal dakwah pada hakikatnya bukan proyek untuk mendapatkan pengakuan manusia.

Dakwah adalah ‘ubūdiyyah.

Ia adalah bagian dari penghambaan kepada Allah.

Allah mengabadikan perkataan Nabi Syu‘aib ‘alaihissalām:
«إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ ۚ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ»

“Aku tidak bermaksud kecuali melakukan perbaikan semampuku. Dan tidak ada taufik bagiku kecuali dengan pertolongan Allah.” QS. Hūd: 88

Ayat ini mengajarkan keseimbangan yang sangat dalam.

Ada kalimat:
«مَا اسْتَطَعْتُ
“Semampuku.”»

Inilah wilayah manusia.

Kita berpikir.

Kita merencanakan.

Kita bekerja.

Kita menasihati.

Kita mendidik.

Kita memperbaiki.

Tetapi sesudah itu Allah berfirman melalui lisan Nabi-Nya:
«وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ»

“Tidak ada taufik bagiku kecuali dengan pertolongan Allah.”

Inilah wilayah Allah.

Manusia diwajibkan berusaha, tetapi manusia tidak pernah diberi kekuasaan mutlak atas hasil.

Kita dapat menanam, tetapi kita tidak mampu memerintahkan benih agar tumbuh.

Kita dapat menyampaikan kebenaran, tetapi kita tidak dapat memaksa hati untuk menerimanya.

Kita dapat mendidik bertahun-tahun, tetapi hidayah tetap milik Allah.

Bahkan kepada Rasulullah ﷺ, Allah berfirman:
«إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ»

“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.” QS. Al-Qaṣaṣ: 56

Maka seorang da‘i harus belajar membedakan antara amanah beramal dan keinginan menguasai hasil.

Kita bertanggung jawab terhadap kesungguhan.

Tetapi kita tidak berkuasa terhadap buah akhirnya.

Tidak Semua Benih Segera Menjadi Pohon

Manusia modern terbiasa dengan kecepatan.

Pesan dikirim, kita menunggu balasan.

Program dibuat, kita menunggu hasil.

Kebaikan dilakukan, kita menunggu apresiasi.

Nasihat diberikan, kita menunggu perubahan.

Ketika perubahan tidak segera datang, kita merasa gagal.

Padahal sunnatullah tidak selalu bekerja dengan cara yang serba cepat.

Sebuah pohon besar bermula dari benih kecil yang lama tersembunyi di dalam tanah.

Orang yang melihat permukaan mungkin berkata:

“Tidak terjadi apa-apa.”

Padahal di bawah tanah sedang tumbuh akar.

Begitu pula dakwah.

Tidak semua nasihat langsung membuahkan perubahan.

Tidak semua pendidikan segera menampakkan hasil.

Tidak semua perjuangan akan kita saksikan buahnya selama hidup kita.

Ada kalanya seseorang menanam pohon yang justru akan dinaungi oleh generasi sesudahnya.

Maka dakwah membutuhkan satu sifat yang sangat mahal:

tsabāt — keteguhan.

Memulai kebaikan terkadang mudah.

Yang sulit adalah tetap berjalan setelah semangat mulai menurun.

Tetap beramal ketika tidak ada yang memuji.

Tetap berkhidmat ketika tidak lagi berada di depan.

Tetap menjaga adab ketika pendapat ditolak.

Tetap mencintai kebaikan ketika manusia mengecewakan.

Hari ini dihargai—tetap bekerja.

Besok dilupakan—tetap bekerja.

Hari ini dipercaya—bersyukur.

Besok tidak diberi posisi—tetap berkhidmat.

Inilah salah satu tanda kematangan seorang da‘i:

ia tidak menjadikan perlakuan manusia sebagai bahan bakar utama perjuangannya.

Kekecewaan Dapat Menjadi Cermin

Kekecewaan tidak selalu buruk.

Kadang ia menjadi cermin yang sangat jujur.

Ketika kita merasa tidak dihargai, di situlah hati diperiksa.

Ketika nama kita tidak disebut, di situlah niat diuji.

Ketika gagasan kita tidak digunakan, di situlah ego berbicara.

Kita mungkin berkata:

“Aku melakukan semua ini karena Allah.”

Tetapi ketika manusia tidak berterima kasih, semangat kita hilang.

Maka kita perlu bertanya kepada diri sendiri:

Jika memang semuanya karena Allah, mengapa berubahnya sikap manusia begitu mudah mengubah hubungan kita dengan amal?

Pertanyaan ini bukan untuk menghakimi.

Ia adalah bagian dari muhasabah.

Keikhlasan bukan sesuatu yang sekali diperoleh lalu selesai selamanya.

Ia harus dibersihkan berulang kali.

Kadang Allah menghilangkan pujian manusia agar kita mengetahui kepada siapa sebenarnya hati kita bergantung.

Kadang Allah mengurangi kedudukan agar kita mengetahui apakah kita mencintai perjuangan atau mencintai posisi di dalam perjuangan.

Kadang Allah membiarkan kita tidak dipahami agar hati belajar berkata:

Cukuplah Allah mengetahui.

Namun ini bukan berarti seorang da‘i tidak boleh lelah atau sedih.

Manusia tetaplah manusia.

Ada perbedaan besar antara:
«أنا متعب
“Aku sedang lelah.”»

dengan:
«لن أعمل بعد اليوم
“Aku tidak akan beramal lagi.”»

Lelah memerlukan istirahat.

Luka memerlukan penyembuhan.

Kesalahan memerlukan evaluasi.

Strategi yang tidak tepat membutuhkan perbaikan.

Tetapi semua itu tidak harus berakhir dengan meninggalkan jalan Allah.

Ketika Dakwah Kehilangan Ruh

Ada bahaya lain yang sering tidak disadari.

Seorang aktivis dapat sangat sibuk mengurus dakwah, tetapi semakin jauh dari ruh dakwah.

Hari-harinya dipenuhi rapat.

Target.

Agenda.

Struktur.

Program.

Laporan.

Persoalan manusia.

Tetapi perlahan tilawah berkurang.

Sujud memendek.

Dzikir melemah.

Munajat menghilang.

Muhasabah jarang dilakukan.

Pada titik itulah dakwah dapat berubah menjadi pekerjaan sosial yang sangat melelahkan.

Sebab hakikat perjalanan seorang da‘i bukan hanya:

bergerak di tengah manusia,

tetapi:
«سَيْرٌ إِلَى الله»

“Perjalanan menuju Allah.”

Kita tidak berdakwah hanya agar masyarakat berubah.

Kita berdakwah agar dalam proses memperbaiki masyarakat, jiwa kita sendiri semakin mengenal Allah.

Karena itu, ketika hati mulai kering, tidak selalu yang dibutuhkan adalah program baru.

Kadang yang dibutuhkan hanyalah mushaf yang kembali dibuka dengan hati.

Sujud yang dipanjangkan.

Istighfar yang diperbanyak.

Dzikir yang dihidupkan.

Keheningan bersama Allah.

Lalu bertanya:

Untuk siapa sebenarnya aku melakukan semua ini?

Jangan Berjalan Sendirian

Manusia juga membutuhkan lingkungan yang menjaga jiwanya.

Allah berfirman:

«وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ»

“Tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan.” QS. Al-Mā’idah: 2

Kita membutuhkan orang-orang shalih bukan karena mereka sempurna.

Tidak ada lingkungan manusia yang sepenuhnya tanpa kekurangan.

Kita membutuhkan mereka karena manusia sering tidak mampu melihat kelemahan dirinya sendiri.

Kadang kita berkata:

“Aku berhenti karena prinsip.”

Padahal mungkin sebenarnya:

“Aku sedang terluka.”

Kita berkata:

“Aku sudah tidak membutuhkan siapa-siapa.”

Padahal mungkin hati sedang memasuki futur.

Sahabat yang baik bukan orang yang selalu membenarkan kita.

Kadang justru orang yang paling mencintai kita adalah orang yang berkata:

“Memang engkau disakiti. Tetapi jangan karena kesalahan manusia, engkau meninggalkan sesuatu yang dicintai Allah.”

Itulah makna persahabatan ruhani.

Bukan sekadar membuat kita nyaman.

Tetapi menjaga kita tetap berada di jalan yang benar.

«لَا تَبْحَثْ عَنْ صُحْبَةٍ تُرِيحُ هَوَاكَ، بَلْ عَنْ صُحْبَةٍ تَحْفَظُ إِيمَانَكَ»

“Jangan hanya mencari persahabatan yang menyenangkan hawa nafsumu; carilah persahabatan yang menjaga imanmu.”

Namun ada satu hal yang juga harus dijaga.

Kesetiaan kepada dakwah bukan berarti membenarkan setiap kesalahan manusia.

Ukhuwah tidak boleh menjadi alasan untuk menutupi kezaliman.

Ketaatan tidak boleh berubah menjadi kultus individu.

Kesabaran tidak berarti membiarkan penghinaan dan kemaksiatan.

Meninggalkan sebuah jabatan belum tentu meninggalkan dakwah.

Meninggalkan suatu struktur belum tentu meninggalkan perjuangan.

Sebab dakwah lebih besar daripada organisasi.

Dakwah lebih luas daripada jabatan.

Dakwah lebih panjang daripada usia sebuah kepengurusan.

Yang harus dijaga adalah:

«طَرِيقُ الدَّعْوَةِ إِلَى الله»

“Jalan mengajak manusia kepada Allah.”

Jangan Menghukum Jalan Karena Orang di Dalamnya

Inilah salah satu pelajaran terpenting.

Jangan menghukum agama Allah karena kesalahan manusia.

Jangan membenci jalan kebaikan karena pernah disakiti seseorang yang berjalan bersamamu.

Jangan menukar misi seumur hidup dengan emosi beberapa hari.

Kita tidak pernah tahu kapan buah dakwah akan muncul.

Mungkin nasihat yang hari ini ditolak baru dipahami sepuluh tahun kemudian.

Mungkin anak didik yang hari ini tampak jauh suatu hari akan kembali kepada Allah.

Mungkin amal kecil yang dianggap tidak berarti justru menjadi sebab lahirnya kebaikan besar.

Kita hanya menanam.

Allah yang menumbuhkan.

Kita hanya mengetuk hati.

Allah yang membukanya.

Kita hanya menyalakan pelita.

Allah yang menentukan siapa yang mendapatkan cahaya darinya.

Karena itu keberhasilan seorang da‘i tidak hanya diukur dari pertanyaan:

Berapa banyak orang berubah melalui tanganku?

Tetapi juga:

Apakah selama memperbaiki manusia, aku sendiri semakin dekat kepada Allah?

Boleh jadi Allah belum memperlihatkan buah dakwah di luar diri kita.

Tetapi Dia sedang menumbuhkan sesuatu di dalam hati:

keikhlasan yang lebih murni,

kesabaran yang lebih panjang,

ego yang lebih kecil,

jiwa yang lebih tenang,

ukhuwah yang lebih matang,

dan ketergantungan yang semakin utuh kepada-Nya.

Pada akhirnya seorang da‘i perlu memahami:

«نَحْنُ مَأْمُورُونَ بِالْعَمَلِ، وَلَسْنَا مَالِكِينَ لِلنَّتَائِجِ»

“Kita diperintahkan untuk beramal, tetapi kita bukan pemilik hasil.”

Maka teruslah berjalan.

Bukan karena manusia selalu memahami kita.

Bukan karena perjuangan selalu menyenangkan.

Bukan karena setiap kebaikan mendapatkan penghargaan.

Tetapi karena jalan ini adalah bagian dari penghambaan kepada Allah.

Dan itulah tsabāt:

bukan hidup tanpa kecewa, tetapi kecewa tanpa meninggalkan Allah;
bukan perjalanan tanpa luka, tetapi terluka tanpa meninggalkan jalan;
dan bukan hidup tanpa lelah, tetapi lelah tanpa kehilangan arah.
Allahu a’lam

Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img