BerandaInspirasiNasehatTadabbur: Dunia Tempat Singgah, Akhirat Tempat Pulang

Tadabbur: Dunia Tempat Singgah, Akhirat Tempat Pulang

spot_img

KABARLAH.COM – Ada satu kalimat sederhana, tetapi mengandung filsafat kehidupan yang sangat dalam:

“Dunia hanyalah tempat singgah, bukan tempat tinggal selamanya.”

Kalimat ini bukan ajakan membenci dunia. Islam tidak mengajarkan manusia meninggalkan pekerjaan, keluarga, pendidikan, kesehatan, pembangunan, atau kenikmatan yang halal. Yang hendak diluruskan adalah cara memandang dunia.

Dunia bukan tujuan terakhir. Dunia adalah ruang perjalanan, tempat ujian, ladang amal, sekaligus jembatan menuju kehidupan yang lebih panjang dan lebih hakiki.

Allah berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap jiwa akan merasakan kematian.”
QS. Āli ‘Imrān: 185

Ayat ini menghancurkan salah satu ilusi terbesar manusia: seolah-olah kehidupan dunia akan berlangsung selamanya.

Kita membangun rumah, mengumpulkan harta, mengejar ilmu, membesarkan anak, menyusun karier, merencanakan masa depan. Semua itu wajar, bahkan bisa bernilai ibadah. Namun ada satu kenyataan yang tidak pernah berubah:

semuanya akan ditinggalkan.

Karena itu persoalan bukanlah memiliki dunia. Persoalannya adalah ketika dunia memiliki hati kita.

Dunia: Digunakan, Bukan Dipertuhankan

Allah berfirman:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” QS. Āli ‘Imrān: 185

Kata مَتَاعٌ — matā‘ menunjukkan sesuatu yang dinikmati dan digunakan dalam waktu terbatas.

Inilah posisi dunia dalam pandangan Al-Qur’an.

Dunia bukan kehampaan.

Dunia bukan keburukan mutlak.

Tetapi dunia juga bukan keabadian.

Ia seperti tempat persinggahan seorang musafir.

Seorang musafir boleh makan, tidur, menikmati pemandangan, bahkan beristirahat dengan nyaman. Namun ia tidak pernah lupa bahwa tempat persinggahan itu bukan tujuan perjalanan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.” HR. Bukhari

Musafir yang cerdas bukan orang yang membenci tempat singgah. Ia hanya tidak tertipu olehnya.

Demikian pula seorang mukmin.

Ia boleh memiliki dunia, tetapi dunia tidak boleh memiliki dirinya.

Dunia Tidak Terlalu Besar untuk Dicintai, tetapi Terlalu Penting untuk Disia-siakan

Di sinilah Islam mengambil jalan yang seimbang.

Ada orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan tertinggi. Seluruh hidupnya berputar pada harta, jabatan, pengaruh, popularitas, dan kenyamanan.

Allah menggambarkan keadaan seperti ini:

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka mengetahui yang lahir dari kehidupan dunia, tetapi terhadap akhirat mereka lalai.” QS. Ar-Rūm: 7

Namun ada pula kekeliruan sebaliknya: menganggap dunia tidak perlu diurus.

Padahal Allah berfirman:

وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Janganlah engkau melupakan bagianmu di dunia.” QS. Al-Qaṣaṣ: 77

Maka bukan dunia yang harus dibuang, melainkan ketergantungan hati kepada dunia.

Dunia menjadi sarana.

Akhirat menjadi tujuan.

Allah menjadi orientasi tertinggi.

Kematian Mengembalikan Ukuran Segala Sesuatu

Mengapa manusia mudah terlena?

Karena dunia terlihat.

Uang dapat dihitung.

Rumah dapat disentuh.

Pangkat dapat dibanggakan.

Pujian dapat didengar.

Sedangkan akhirat belum terlihat oleh mata.

Karena itulah iman diperlukan.

Allah memuji orang bertakwa:

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ

“Mereka yang beriman kepada yang gaib.” QS. Al-Baqarah: 3

Kematian kemudian datang sebagai pengingat paling jujur bahwa manusia bukan pemilik kehidupan.

Dalam pandangan materialistik, kematian tampak sebagai kehancuran.

Dalam iman, kematian adalah perpindahan menuju fase berikutnya dari perjalanan manusia.

Allah berfirman:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.” QS. Al-Baqarah: 156

Kalimat ini bukan hanya ucapan ketika ada orang meninggal.

Ia adalah filsafat kehidupan seorang mukmin.

Kita milik Allah.

Umur milik Allah.

Harta milik Allah.

Anak-anak adalah amanah Allah.

Kesehatan adalah titipan Allah.

Jabatan adalah amanah.

Dan suatu hari seluruh titipan itu akan dikembalikan.

Apa yang Benar-Benar Kita Bawa?

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa tiga perkara mengikuti jenazah: keluarga, harta, dan amalnya. Dua kembali, sedangkan satu tetap bersamanya, yaitu amalnya.

Di sinilah ukuran keberhasilan berubah.

Pertanyaan terpenting bukan lagi:

“Berapa banyak yang saya miliki?”

Tetapi:

“Berapa banyak yang sudah saya kirimkan untuk kehidupan setelah mati?”

Rumah akan tinggal.

Mobil akan tinggal.

Jabatan akan tinggal.

Rekening akan tinggal.

Popularitas akan tinggal.

Tetapi salat, sedekah, ilmu yang bermanfaat, kejujuran, kesabaran, kasih sayang, pengampunan, dan kebaikan kepada manusia menjadi bagian dari perjalanan akhirat.

Demikian pula kezaliman, kesombongan, fitnah, harta haram, dan dosa yang tidak ditaubati.

Karena itu ungkapan yang masyhur di kalangan ulama:

الدُّنْيَا مَزْرَعَةُ الْآخِرَةِ

“Dunia adalah ladang akhirat.”

sangat tepat sebagai hikmah: apa yang ditanam di sini akan dipanen di sana.

Zuhud: Dunia di Tangan, Bukan di Hati

Zuhud sering disalahpahami.

Zuhud bukan kemiskinan.

Seseorang dapat miskin tetapi sangat mencintai dunia. Sebaliknya, seseorang dapat kaya tetapi hatinya tidak diperbudak harta.

Zuhud adalah kemampuan menempatkan dunia sesuai ukurannya.

Seorang yang zuhud tetap bekerja.

Tetap mencari nafkah.

Tetap membangun.

Tetap belajar.

Tetap berusaha menjadi profesional.

Tetapi identitas terdalamnya tidak dibangun dari semua itu.

Jika hartanya berkurang, imannya tidak ikut hilang.

Jika jabatan pergi, harga dirinya tidak runtuh.

Jika manusia tidak memuji, ia tetap melakukan kebaikan.

Sebab ukuran dirinya bukan pendapat manusia.

Ukuran dirinya adalah hubungannya dengan Allah.

Inilah kemerdekaan batin.

Syariat, Tarekat, Hakikat, dan Makrifat

Pandangan tentang dunia juga dapat dibaca melalui empat jenjang pendidikan ruhani.

Syariat mengajarkan bagaimana menggunakan dunia sesuai ketentuan Allah: mencari yang halal, meninggalkan yang haram, menunaikan kewajiban, menjaga hak manusia, dan memikul amanah.

Tarekat mendidik hati agar tidak melekat berlebihan kepada dunia. Di sini tumbuh zuhud, sabar, syukur, qanaah, dan tawakal.

Hakikat menyadarkan bahwa seluruh yang kita miliki hanyalah titipan. Kita menggunakan sebab, tetapi tidak mempertuhankan sebab.

Bekerja, tetapi Allah pemberi rezeki.

Berobat, tetapi Allah pemberi kesembuhan.

Belajar, tetapi Allah pemberi ilmu.

Makrifat membawa hamba melihat seluruh perjalanan sebagai jalan menuju Allah.

Nikmat melahirkan syukur.

Musibah melahirkan sabar.

Dosa mendorong taubat.

Keberhasilan melahirkan tawaduk.

Kematian menumbuhkan kesiapan untuk kembali.

Semakin dalam makrifat, semakin sedikit manusia tertipu oleh kefanaan.

Tanda Dunia Sudah Masuk Terlalu Dalam

Ada saatnya manusia perlu bertanya kepada dirinya sendiri:

Apakah kehilangan uang membuat saya kehilangan ketenangan?

Apakah kehilangan jabatan membuat saya merasa tidak berguna?

Apakah pujian manusia menentukan kebahagiaan saya?

Apakah urusan pekerjaan membuat salat menjadi nomor dua?

Apakah demi keuntungan saya mulai berani mendekati yang haram?

Apakah saya begitu sibuk mempersiapkan masa depan dunia tetapi hampir tidak pernah mempersiapkan akhirat?

Jika jawabannya mulai mengkhawatirkan, mungkin tempat singgah telah kita perlakukan sebagai rumah permanen.

Hiduplah, tetapi Jangan Lupa Pulang

Kesadaran akan akhirat bukan alasan untuk berhenti hidup.

Justru ia membuat hidup menjadi lebih bermakna.

Orang yang menyadari waktunya terbatas akan lebih cepat meminta maaf.

Lebih sedikit menyimpan dendam.

Lebih ringan bersedekah.

Lebih hati-hati menyakiti manusia.

Lebih serius menjaga waktu.

Lebih sadar bahwa setiap hari yang berlalu tidak pernah kembali.

Karena itu kematian bukan untuk membuat manusia putus asa.

Kematian adalah guru yang mengajarkan prioritas.

Akhiran

“Dunia hanyalah tempat singgah” bukan berarti dunia tidak penting.

Justru dunia sangat penting karena di sinilah akhirat dipersiapkan.

Dunia terlalu sementara untuk dijadikan tujuan terakhir.

Tetapi terlalu berharga untuk disia-siakan.

Maka seorang mukmin hidup dengan rumus:

Dunia di tangan, Allah di hati, akhirat di depan mata.

Miliki harta, tetapi jangan biarkan harta memiliki kita.

Cintai keluarga, tetapi sadari mereka amanah.

Bangun masa depan, tetapi jangan lupa kehidupan setelah mati.

Bekerjalah sungguh-sungguh, namun jangan jadikan dunia sebagai kiblat hati.

Karena akhirnya setiap manusia akan sampai pada satu kenyataan:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.”

Kita datang dengan kehendak Allah, hidup dengan amanah dari Allah, dan akhirnya kembali menghadap Allah.

Maka kebijaksanaan terbesar bukanlah berhenti mencintai kehidupan, melainkan mencintainya dengan ukuran yang benar: menjadikan dunia sebagai jalan, bukan tujuan; sebagai ladang, bukan rumah; sebagai amanah, bukan kepemilikan mutlak; dan sebagai perjalanan menuju Allah, bukan tempat tinggal selamanya.

Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img