KABARLAH.COM – Umat tidak selalu menjadi lemah karena jumlahnya sedikit. Ia juga tidak selalu kehilangan pengaruh karena miskin sumber daya. Ada kalanya sebuah umat besar secara demografi, kaya secara alamiah, luas secara geografis, tetapi kehilangan bobot dalam menentukan arah sejarah.
Rasulullah ﷺ telah mengingatkan keadaan semacam itu melalui sebuah hadits yang sangat tajam:
«يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا»
“Hampir tiba saatnya bangsa-bangsa saling mengajak menghadapi kalian sebagaimana orang-orang yang makan saling mengajak menuju hidangannya.”
Para sahabat bertanya, apakah keadaan itu terjadi karena umat Islam sedikit?
Rasulullah ﷺ menjawab:
«بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ»
“Bahkan kalian ketika itu banyak, tetapi kalian seperti buih yang dibawa arus banjir.”
Lalu Nabi ﷺ menjelaskan penyakit yang berada di balik kelemahan itu:
«حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ»
“Cinta dunia dan membenci kematian.”
Hadits Tsauban r.a. ini diriwayatkan dalam Sunan Abi Dawud, Kitab al-Malahim, nomor 4297.
Yang menarik, Nabi ﷺ tidak berhenti pada gambaran ancaman eksternal. Beliau justru membawa umat masuk ke ruang yang lebih sunyi: hati manusia.
Di situlah letak kedalaman hadits al-wahn.
Dari Meja Hidangan ke Meja Kepentingan
Perumpamaan qash‘ah menggambarkan sebuah hidangan yang menjadi objek rebutan banyak tangan.
Dalam tadabbur kontemporer, gambaran ini dapat membantu kita memahami bagaimana negeri-negeri dapat menjadi arena kepentingan: energi, mineral, pangan, pasar, jalur laut, pelabuhan, teknologi, data, bahkan pengaruh politik.
Namun kita tidak boleh menyederhanakan seluruh hubungan antarbangsa menjadi cerita konspirasi. Dunia memang dibangun di atas kepentingan. Negara berdagang, bernegosiasi, membangun aliansi, bersaing, dan bekerja sama.
Pertanyaan yang lebih penting bukan: mengapa pihak lain memiliki kepentingan?
Pertanyaannya adalah:
apakah kita memiliki kapasitas untuk menjaga kepentingan sendiri tanpa menjual prinsip?
Apakah kita mempunyai ilmu?
Apakah kita memiliki kemandirian ekonomi?
Apakah institusi kita kuat?
Apakah kepemimpinan kita amanah?
Apakah masyarakat kita cukup matang untuk berbeda tanpa saling menghancurkan?
Di sinilah hadits al-wahn menjadi relevan.
Ia tidak mengajari umat sibuk mencari kambing hitam.
Ia memaksa kita bercermin.
Banyak Tetapi Ringan
Nabi ﷺ memakai kata ghutsā’.
Buih dapat memenuhi permukaan sungai.
Ia terlihat banyak.
Tetapi ia tidak mempunyai bobot.
Ia tidak menentukan ke mana sungai mengalir.
Ia justru dibawa oleh arus.
Inilah salah satu kritik peradaban paling dalam dalam hadits tersebut: kuantitas tidak identik dengan kualitas.
Jumlah penduduk besar belum tentu menjadi kekuatan jika pendidikan lemah.
Kekayaan alam belum tentu menghadirkan kemandirian jika teknologi dikuasai orang lain.
Banyaknya institusi belum tentu melahirkan peradaban apabila disiplin, integritas, dan produktivitas rendah.
Bahkan banyaknya kegiatan keagamaan belum otomatis menghasilkan kebangkitan apabila agama belum menjelma menjadi kejujuran, amanah, budaya ilmu, etos kerja, dan keberanian moral.
Karena itu, hadits ini tidak layak dibaca sebagai penghinaan terhadap umat.
Ia adalah alarm.
Buih bukan vonis abadi.
Ia adalah peringatan agar umat membangun bobot.
Bobot itu lahir dari iman, ilmu, akhlak, kecakapan, disiplin, dan kelembagaan yang sehat.
Ketika Dunia Masuk ke Dalam Hati
Nabi ﷺ mendefinisikan al-wahn dengan dua hal: hubb al-dunya dan karahiyat al-maut.
Yang pertama adalah cinta dunia.
Tetapi kita perlu berhati-hati memahami istilah ini.
Islam tidak mencela dunia hanya karena ia dunia.
Bekerja bukan al-wahn.
Menjadi kaya bukan al-wahn.
Memiliki rumah, perusahaan, jabatan, kendaraan, teknologi, dan kekuasaan bukan dengan sendirinya penyakit.
Yang menjadi penyakit adalah ketika dunia tidak lagi berada di tangan, tetapi menduduki hati.
Seorang manusia boleh mempunyai harta.
Tetapi ketika ia tidak lagi berani berkata benar karena takut kehilangan harta, maka sesuatu telah berubah.
Seseorang boleh memegang jabatan.
Tetapi ketika seluruh keputusannya diarahkan untuk mempertahankan kursi, bukan menunaikan amanah, jabatan telah mengambil alih orientasi batinnya.
Seseorang boleh dikenal banyak orang.
Tetapi ketika pujian manusia menjadi lebih penting daripada ridha Allah, popularitas telah berubah menjadi penjara.
Di sinilah zuhud perlu dipahami kembali.
Zuhud bukan miskin.
Zuhud bukan meninggalkan pekerjaan.
Zuhud bukan menolak dunia.
Zuhud adalah ketika dunia berada dalam genggaman, tetapi tidak menguasai jiwa.
Takut Mati atau Takut Kehilangan Dunia?
Bagian kedua al-wahn adalah karahiyat al-maut.
Manusia secara fitrah ingin hidup. Islam bahkan memerintahkan menjaga jiwa. Karena itu, membenci kematian dalam hadits ini tidak boleh dipahami sebagai tuntutan untuk mencari bahaya.
Masalahnya bukan sekadar ingin hidup.
Masalahnya adalah ketika seseorang begitu takut kehilangan dunia sampai kehilangan keberanian menunaikan amanah.
Ia tahu apa yang benar, tetapi memilih diam.
Ia mengetahui ketidakadilan, tetapi takut bersuara.
Ia mampu melakukan perbaikan, tetapi terlalu sibuk menjaga kenyamanan.
Dalam keadaan seperti itu, bukan kematian yang sebenarnya ditakuti.
Yang ditakuti adalah kehilangan dunia.
Padahal Al-Qur’an mengingatkan:
«وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ»
“Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya.” (QS. Al-‘Ankabut: 64)
Kesadaran akhirat tidak membuat seseorang meninggalkan dunia.
Sebaliknya, ia membuat dunia menjadi lebih bermakna.
Harta berubah menjadi amanah.
Ilmu berubah menjadi tanggung jawab.
Kekuasaan berubah menjadi pelayanan.
Usia berubah menjadi kesempatan beramal.
Penyakit Hati Bisa Menjadi Penyakit Institusi
Al-wahn bermula dari hati, tetapi tidak berhenti di hati.
Ketika penyakit batin menyebar ke ruang publik, ia dapat berubah menjadi penyakit peradaban.
Jika cinta dunia menguasai birokrasi, lahirlah penyalahgunaan amanah.
Jika cinta dunia menguasai pendidikan, ilmu dapat menyusut menjadi sekadar gelar.
Jika cinta dunia menguasai perdagangan, keuntungan mengalahkan kejujuran.
Jika cinta dunia menguasai dakwah, popularitas dapat mengalahkan keikhlasan.
Jika cinta dunia menguasai politik, kekuasaan dapat berubah dari amanah menjadi transaksi.
Inilah sebabnya perbaikan umat tidak cukup hanya melalui nasihat spiritual.
Kita membutuhkan dua gerakan sekaligus:
Islah al-qulub — memperbaiki hati, dan islah al-nuzhum — memperbaiki sistem.
Hati yang bersih tetapi tidak memiliki kecakapan dapat menghasilkan kebaikan yang lemah.
Sistem yang canggih tetapi kehilangan moral dapat menghasilkan kekuatan yang menindas.
Peradaban Islam membutuhkan keduanya:
iman yang membentuk karakter dan ilmu yang membentuk kapasitas.
Tauhid Membebaskan Manusia
Kalimat:
«لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ»
“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah,”
adalah kalimat yang sangat revolusioner bagi jiwa.
Ia menghancurkan kesombongan sekaligus ketakutan.
Kita tidak boleh sombong karena kekuatan bukan milik mutlak kita.
Tetapi kita juga tidak boleh takut berlebihan karena tidak ada satu pun kekuatan yang berada di luar kekuasaan Allah.
Tauhid melahirkan manusia merdeka.
Ia bekerja keras, tetapi tidak menyembah pekerjaan.
Ia memegang kekuasaan, tetapi tidak diperbudak kekuasaan.
Ia memiliki harta, tetapi tetap sanggup melepaskannya demi kebenaran.
Ia menghormati manusia, tetapi tidak menggantungkan harga dirinya kepada manusia.
Tauhid yang hidup akan melahirkan keberanian yang tenang.
Bukan keberanian yang gaduh.
Bukan keberanian yang ceroboh.
Tetapi keberanian yang lahir dari keyakinan bahwa yang paling pantas ditakuti hanyalah Allah.
Jalan Keluar dari Al-Wahn
Kebangkitan tidak dimulai dari slogan besar.
Ia dimulai dari pertanyaan kecil tetapi jujur:
Apa yang paling saya takut kehilangan?
Apakah harta?
Jabatan?
Nama baik?
Kenyamanan?
Pengaruh?
Lalu tanyakan lagi:
pernahkah ketakutan kehilangan itu membuat saya mengorbankan kebenaran?
Inilah muhasabah al-wahn.
Setelah hati diperbaiki, perbaiki pula kehidupan bersama.
Bangun pendidikan.
Hormati ilmu.
Perkuat riset.
Jaga pangan.
Kembangkan teknologi.
Bangun ekonomi produktif.
Tegakkan hukum secara adil.
Rawat persatuan.
Perkuat keluarga.
Didik anak agar beriman sekaligus cakap.
Karena umat tidak menjadi kuat hanya dengan kemarahan terhadap kelemahan.
Umat menjadi kuat dengan iman, ilmu, kerja, disiplin, dan amanah.
Pada akhirnya, hadits al-wahn mengajukan pertanyaan yang jauh lebih dalam daripada sekadar:
“Siapa yang sedang mengincar kita?”
Hadits ini bertanya:
“Apa yang sedang menguasai hati kita?”
Sebab boleh jadi ancaman terbesar bukan selalu berada di luar.
Kadang-kadang ia tumbuh diam-diam di dalam jiwa: kecintaan berlebihan kepada dunia, ketakutan kehilangan kenyamanan, dan keberanian yang perlahan mati.
Maka dunia tidak perlu ditinggalkan.
Dunia harus ditempatkan.
Di tangan, bukan di hati.
Kita membangun dunia sebagai amanah.
Kita mengejar ilmu sebagai ibadah.
Kita memegang kekuasaan sebagai tanggung jawab.
Kita mencari harta sebagai sarana kebaikan.
Tetapi tujuan terakhir tetap Allah.
Jika hati kembali kepada Allah, amanah akan hidup.
Jika amanah hidup, keberanian akan tumbuh.
Jika keberanian tumbuh bersama ilmu, umat akan kembali memiliki bobot.
Dan ketika umat memiliki bobot, ia tidak lagi menjadi buih yang mengikuti arus, tetapi menjadi kekuatan yang memberi arah bagi perjalanan zaman. Wallāhu a‘lam.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab



