BerandaInspirasiNasehatTadabbur: Nasehat Dengan Pekertinya

Tadabbur: Nasehat Dengan Pekertinya

spot_img

KABARLAH.COM – Firman Allah dalam Surah Al-‘Ashr:

وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Dan mereka saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.”

Jika “nasehat dengan pekertinya” menekankan kualitas pribadi yang menyampaikan nasihat, maka “watawashaw bil haq watawashaw bissobr” menekankan budaya kolektif dalam masyarakat. Keduanya saling melengkapi: yang satu membangun integritas individu, yang satu lagi membangun kekuatan jamaah.

Secara zahir, ayat ini mengajarkan bahwa kebenaran tidak akan tegak hanya dengan diketahui atau diyakini secara pribadi. Ia harus dijaga bersama, dihidupkan dalam hubungan sosial, dan diperkuat melalui saling mengingatkan. Kebenaran memerlukan ekosistem. Dan ekosistem itu terbentuk ketika manusia tidak saling membiarkan, tetapi saling meneguhkan dalam jalan yang benar.

Namun Al-Qur’an tidak berhenti pada “kebenaran” saja. Ia langsung memasangkan dengan “kesabaran”. Ini mengandung makna yang sangat dalam. Sebab setiap upaya menegakkan kebenaran pasti akan menghadapi ujian: penolakan, kelelahan, kesalahpahaman, bahkan luka batin. Tanpa sabar, nasihat akan berhenti di tengah jalan. Tanpa sabar, orang yang benar bisa berubah menjadi keras, atau bahkan mundur dari perjuangannya.

Dalam perspektif ruhani, “watawashaw bil haq” adalah penjagaan arah, sedangkan “watawashaw bissobr” adalah penjagaan daya tahan. Yang pertama memastikan kita tidak tersesat, yang kedua memastikan kita tidak berhenti.

Jika dikaitkan dengan “nasehat dengan pekertinya”, maka menjadi semakin jelas bahwa nasihat yang hidup tidak hanya benar dalam isi, tetapi juga benar dalam cara dan kuat dalam perjalanan. Orang yang pekertinya baik akan menasihati dengan kelembutan, kejujuran, dan ketulusan. Dan ketika menghadapi respon yang tidak mudah, ia tidak tergesa-gesa marah atau putus asa, tetapi tetap sabar, karena ia memahami bahwa perubahan hati manusia adalah proses, bukan perintah instan.

Dalam tradisi Melayu-Islam, hal ini tampak dalam cara para datuk, ninik mamak, dan ulama mendidik masyarakat. Mereka tidak hanya menyampaikan yang benar, tetapi juga menjaga suasana hati masyarakat agar tetap lapang. Mereka tahu bahwa kebenaran yang disampaikan tanpa sabar bisa melukai, dan kesabaran tanpa kebenaran bisa menyesatkan. Maka keduanya harus berjalan beriringan.

Di zaman kini, ketika nasihat sering disampaikan dengan cepat dan kadang tanpa kedalaman rasa, prinsip ini menjadi sangat penting. Banyak orang ingin menyampaikan kebenaran, tetapi kurang sabar dalam menghadapi perbedaan. Banyak pula yang memilih diam demi menjaga kenyamanan, tetapi akhirnya membiarkan kebenaran melemah. “Watawashaw bil haq watawashaw bissobr” mengajarkan keseimbangan: berani menyampaikan yang benar, sekaligus matang dalam menanggung prosesnya.

Pada akhirnya, jika dirangkai bersama:

“Nasehat dengan pekertinya” → menuntut keteladanan pribadi

“Watawashaw bil haq” → menuntut kebenaran isi nasihat

“Watawashaw bissobr” → menuntut keteguhan dalam perjalanan nasihat

Maka lahirlah satu bangunan utuh pendidikan peradaban: nasihat yang benar, disampaikan oleh pribadi yang benar, dan dijalani dengan kesabaran yang benar.

Hikmah penutup: Kebenaran tanpa pekerti kehilangan cahaya, pekerti tanpa kesabaran kehilangan daya,
dan kesabaran tanpa kebenaran kehilangan arah.

Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img