BerandaInspirasiNasehatTadabbur QS Al A'raf 87, Sabar di Tengah Perbedaan Iman: Menunggu Keputusan...

Tadabbur QS Al A’raf 87, Sabar di Tengah Perbedaan Iman: Menunggu Keputusan Allah dengan Hikmah dan Keteguhan

spot_img

KABARLAH.COM, Pekanbaru – بسم الله الرحمن الرحيم.
وَاِنْ كَانَ طَاۤىِٕفَةٌ مِّنْكُمْ اٰمَنُوْا بِالَّذِيْٓ اُرْسِلْتُ بِهٖ وَطَاۤىِٕفَةٌ لَّمْ يُؤْمِنُوْا فَاصْبِرُوْا حَتّٰى يَحْكُمَ اللّٰهُ بَيْنَنَاۚ وَهُوَ خَيْرُ الْحٰكِمِيْنَ ۝٨٧
wa ing kâna thâ’ifatum mingkum âmanû billadzî ursiltu bihî wa thâ’ifatul lam yu’minû fashbirû ḫattâ yaḫkumallâhu bainanâ, wa huwa khairul-ḫâkimîn.
Jika ada segolongan di antara kamu yang beriman kepada (ajaran) yang aku diutus menyampaikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, bersabarlah sampai Allah menetapkan keputusan di antara kita. Dia adalah pemberi putusan yang terbaik.

Di dalam sejarah para nabi, salah satu kenyataan yang paling sering berulang adalah ini: kebenaran tidak selalu langsung diterima oleh semua orang. Wahyu datang membawa cahaya, tetapi manusia menanggapinya dengan beragam keadaan hati. Ada yang luluh karena kejujuran jiwanya, ada yang menolak karena kesombongan akalnya, ada pula yang bimbang karena terikat kepentingan dunia. Dalam konteks inilah firman Allah tentang ucapan Nabi Syu‘aib menjadi sangat relevan:

“Jika ada segolongan di antara kamu yang beriman kepada ajaran yang aku diutus menyampaikannya dan ada pula segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah sampai Allah menetapkan keputusan di antara kita. Dia adalah pemberi keputusan yang terbaik.”
(QS. Al-A‘rāf: 87)

Ayat ini tampak sederhana, tetapi sebenarnya memuat filsafat dakwah, etika perbedaan, dan kedewasaan ruhani yang sangat dalam. Ia mengajarkan bahwa ketika masyarakat terbelah dalam merespons kebenaran, seorang pembawa risalah tidak boleh kehilangan arah. Ia tidak boleh mabuk oleh kemarahan, dan tidak pula jatuh ke dalam keputusasaan. Ia harus tetap berdiri di atas sabar, hikmah, dan tawakkal.

Secara makna zahir, ayat ini menegaskan bahwa perbedaan sikap terhadap kebenaran adalah kenyataan sosial yang tidak bisa diingkari. Nabi Syu‘aib tidak menutup mata terhadap fakta bahwa di dalam satu kaum bisa ada dua kelompok: yang beriman dan yang menolak. Ini sangat penting, sebab banyak orang ingin melihat perubahan secara instan: semua harus langsung setuju, semua harus langsung sejalan, semua harus langsung menerima. Padahal Al-Qur’an mendidik kita untuk realistis. Kebenaran tidak menghapus ujian; justru kebenaran sering memperjelas siapa yang jujur dan siapa yang keras kepala.

Di sinilah ayat ini menjadi akademik sekaligus sangat manusiawi. Ia mengajarkan bahwa dalam membangun masyarakat, kita harus memahami pluralitas respons manusia terhadap nilai. Tidak semua penolakan lahir dari kebodohan; kadang ia lahir dari kepentingan, ego, trauma, tradisi, atau rasa takut kehilangan posisi. Karena itu, dakwah dan perubahan sosial membutuhkan pembacaan realitas yang cermat. Kita tidak cukup hanya benar; kita juga harus bijak membaca manusia.

Lalu apa respons Nabi Syu‘aib? Beliau tidak berkata: “Paksa mereka.” Beliau juga tidak berkata: “Tinggalkan kebenaran agar semua tenang.” Yang beliau katakan justru: “Bersabarlah.” Ini bukan ajakan untuk pasif, melainkan ajakan untuk teguh tanpa kasar, istiqamah tanpa panik, dan yakin tanpa tergesa-gesa. Kesabaran dalam ayat ini adalah daya tahan moral. Ia adalah kemampuan untuk tetap memegang kebenaran ketika hasil belum tampak. Ia adalah kekuatan untuk melanjutkan dakwah ketika penolakan belum berhenti.

Secara filosofis, sabar di sini menunjukkan bahwa kebenaran tidak selalu menang secara cepat, tetapi ia menang secara hakiki. Waktu manusia sering pendek, emosi manusia sering terburu-buru, tetapi keputusan Allah selalu berada di atas horizon yang lebih luas. Karena itu Nabi Syu‘aib mengembalikan semuanya kepada putusan Allah: “Dia adalah sebaik-baik hakim.” Kalimat ini mengandung ketenangan metafisik. Artinya, sejarah ini bukan liar dan tanpa makna; ia berada dalam penglihatan Allah, pengadilan Allah, dan hikmah Allah.

Pada titik ini, ayat ini berbicara bukan hanya tentang masyarakat, tetapi juga tentang batin manusia. Secara makna batin, dua kelompok dalam ayat itu dapat dibaca sebagai dua kecenderungan yang sering bertarung di dalam diri kita sendiri: bagian jiwa yang ingin tunduk kepada kebenaran, dan bagian jiwa yang ingin mengikuti hawa nafsu. Ada saat ketika hati menerima nasihat dengan lapang; ada pula saat ketika ego menolaknya dengan seribu alasan. Maka ayat ini tidak hanya bicara tentang “mereka di luar sana”, tetapi juga tentang pertarungan iman di dalam diri kita.

Karena itu, sabar di sini juga berarti sabar dalam tazkiyah: sabar memperbaiki diri, sabar meluruskan niat, sabar melawan ego, sabar membersihkan hati dari amarah, dengki, dan keinginan untuk selalu menang sendiri. Banyak orang bisa berdakwah kepada orang lain, tetapi gagal sabar menghadapi kebisingan batinnya sendiri. Padahal kemenangan spiritual tidak lahir dari debat yang dimenangkan, melainkan dari hati yang berhasil ditundukkan kepada Allah.

Di sinilah kedalaman ayat ini menjadi sangat terasa. Ia mengajarkan bahwa orang beriman tidak hidup dari ilusi bahwa semua orang akan selalu menerima kebenaran dengan mudah. Ia juga tidak hidup dari obsesi untuk segera melihat hasil. Ia hidup dari keyakinan bahwa tugasnya adalah menyampaikan, memperbaiki, dan bersabar, sedangkan keputusan akhir adalah milik Allah. Ini melahirkan pribadi yang matang: aktif, tetapi tidak meledak-ledak; tegas, tetapi tidak kasar; yakin, tetapi tidak sombong.

Dalam kehidupan sosial hari ini, ayat ini sangat relevan. Kita hidup di zaman yang mudah pecah oleh perbedaan: perbedaan pemahaman, pilihan, strategi, bahkan gaya berdakwah. Banyak orang ingin memenangkan pertarungan opini, tetapi sedikit yang sanggup memelihara kejernihan hati. Banyak yang ingin terlihat paling benar, tetapi sedikit yang mampu bertahan di jalan benar dengan adab yang benar. Ayat ini mengoreksi semuanya. Ia mengingatkan bahwa kebenaran tidak membutuhkan kepanikan, tetapi keteguhan; tidak membutuhkan kegaduhan, tetapi kesabaran; tidak membutuhkan kesombongan, tetapi penyerahan kepada keputusan Allah.

Maka tadabbur ayat ini menuntun kita kepada satu kesimpulan yang sangat penting: ketika iman dan penolakan berhadapan, jalan orang beriman bukanlah putus asa dan bukan pula kesewenang-wenangan, tetapi sabar yang aktif, dakwah yang hikmah, dan hati yang tawakkal. Dari sanalah lahir kekuatan ruhani yang tidak mudah runtuh oleh penolakan manusia.

Pada akhirnya, ayat ini mengajarkan bahwa sejarah dakwah bukan hanya kisah tentang siapa yang menolak dan siapa yang menerima, tetapi juga kisah tentang siapa yang sanggup bertahan di jalan Allah dengan jiwa yang jernih. Dan di situlah letak kemuliaan orang beriman: ia terus berjalan, terus menyeru, terus membersihkan hati, sambil meyakini bahwa Allah tidak pernah salah menetapkan keputusan.

Iman membutuhkan kesabaran, dakwah membutuhkan hikmah, dan hati yang bersandar kepada Allah tidak akan kehilangan arah, sekalipun berada di tengah perbedaan yang tajam.

Oleh: Syekh Sofyan siroj Abdul Wahab.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img