BerandaInspirasiNasehatTadabbur: Maju dengan Keahlian dan Kuat dengan Persatuan, Jalan Umat Menuju Kemuliaan

Tadabbur: Maju dengan Keahlian dan Kuat dengan Persatuan, Jalan Umat Menuju Kemuliaan

spot_img

KABARLAH.COM, Pekanbaru – Ada umat yang penuh semangat, tetapi tidak maju karena miskin keahlian. Ada pula kelompok yang memiliki banyak orang cerdas, tetapi tetap rapuh karena kehilangan persatuan. Dari sini kita belajar satu pelajaran besar: semangat saja tidak cukup untuk melahirkan kemajuan, dan jumlah saja tidak cukup untuk melahirkan kekuatan. Sebuah masyarakat, umat, atau bangsa hanya akan benar-benar tegak jika dua unsur ini bertemu dalam satu bangunan: kompetensi yang nyata dan kesatuan yang utuh. Karena itu, ungkapan “maju dengan keahlian, kuat dengan persatuan” bukan sekadar kalimat motivasi, melainkan rumus peradaban.

Al-Qur’an meletakkan fondasi ini dengan sangat jelas. Allah memerintahkan umat agar berpegang teguh kepada tali-Nya dan tidak bercerai-berai. Ayat ini menunjukkan bahwa persatuan dalam Islam bukan hiasan tambahan, tetapi inti dari kekuatan umat. Namun persatuan yang dimaksud bukan sekadar berkumpul secara fisik, bukan pula kesepakatan dangkal yang mudah pecah ketika diuji. Persatuan yang sejati adalah persatuan yang dibangun di atas hidayah, di atas nilai yang sama, dan di atas kesadaran bahwa kita berjalan menuju Allah yang sama. Maka, ketika Al-Qur’an melarang perpecahan, sebenarnya ia sedang menyelamatkan umat dari penyakit ego kolektif: merasa paling benar, paling penting, paling berjasa, lalu sulit bekerja sama.

Tetapi wahyu tidak berhenti pada perintah bersatu. Allah juga memerintahkan agar umat menyiapkan kekuatan semampunya. Dalam makna yang luas, ayat ini mengajarkan bahwa agama tidak merestui kelemahan yang pasif. Umat tidak boleh hanya saleh secara niat, tetapi juga harus kuat secara kapasitas. Karena itu, “maju dengan keahlian” berarti membangun ilmu, keterampilan, disiplin, profesionalitas, manajemen, teknologi, pendidikan, dan budaya kerja yang serius. Islam tidak mengajarkan umatnya menjadi asal jadi. Islam ingin umatnya bermanfaat, siap, cakap, dan terpercaya. Niat baik itu penting, tetapi niat baik tanpa kemampuan sering gagal melahirkan maslahat. Dengan kata lain, agama menuntut ketulusan hati sekaligus ketepatan kerja.

Hadits Nabi ﷺ tentang mukmin yang kuat menjelaskan hal ini dengan sangat indah. Beliau tidak hanya menyebut mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, tetapi juga memerintahkan agar kita bersemangat terhadap apa yang bermanfaat, meminta pertolongan kepada Allah, dan tidak lemah. Di sini terlihat keseimbangan Islam yang luar biasa: kekuatan, manfaat, dan tawakal dipadukan dalam satu tarikan napas. Ini berarti kemajuan yang benar bukan kemajuan yang membuat manusia sombong kepada Allah, dan tawakal yang benar bukan tawakal yang mematikan ikhtiar. Seorang Muslim yang baik bukan hanya orang yang hatinya lembut, tetapi juga orang yang ilmunya bertambah, kerjanya rapi, tanggung jawabnya kuat, dan manfaatnya terasa.

Namun tema ini menjadi lebih dalam ketika dibaca pada lapisan batin. Sebab keahlian bukan hanya urusan teknis, tetapi juga urusan jiwa. Orang yang ingin ahli harus sanggup melawan malas, melawan cepat puas, melawan keinginan serba instan, dan melawan kecenderungan setengah-setengah. Maka dalam makna batin, “maju dengan keahlian” sesungguhnya berbicara tentang mujahadah: perjuangan mendidik diri agar sabar, tekun, disiplin, jujur, dan istiqamah. Banyak orang ingin hasil besar, tetapi tidak cinta proses. Banyak orang ingin dianggap ahli, tetapi malas ditempa. Karena itu, keahlian sejati tidak hanya dibangun oleh bakat, tetapi oleh akhlak batin yang kuat.

Begitu pula persatuan. Secara batin, musuh terbesar persatuan bukan sekadar perbedaan pendapat, tetapi ego yang tidak dididik. Persatuan rusak bukan semata karena manusia berbeda, tetapi karena masing-masing ingin menjadi pusat. Aku ingin paling didengar. Aku tidak mau dikoreksi. Aku tidak rela dikalahkan. Aku paling berjasa. Aku paling benar. Dari sinilah perpecahan tumbuh. Maka “kuat dengan persatuan” pada lapisan batin berarti belajar tawadhu’, husnuzan, menahan marah, menerima perbedaan yang dibenarkan syariat, dan menempatkan maslahat bersama di atas kepentingan pribadi. Dalam bahasa filosofis, keahlian membangun kualitas diri, sedangkan persatuan membangun keluasan jiwa.

Di titik ini, pemikiran para ulama kontemporer terasa sangat relevan. Sa‘id Hawwa menekankan pentingnya tarbiyah ruhiyah: perjalanan menuju Allah yang dimulai dari penyucian jiwa. Dari semangat beliau, kita belajar bahwa keahlian tanpa tazkiyah mudah berubah menjadi kesombongan, dan aktivisme tanpa ruhiyah mudah berubah menjadi kelelahan yang rapuh. Abdul Halim Mahmud menempatkan pendidikan ruhani sebagai fondasi, seolah ingin mengingatkan bahwa persatuan tidak akan kokoh jika jiwa-jiwa penyusunnya masih penuh iri, dengki, dan ujub. Ramadhan al-Buthi, lewat pembacaan sirah yang sarat ibrah, menunjukkan bahwa sejarah bukan untuk dibanggakan secara romantis, tetapi untuk dipetik hukum-hukum Allah darinya. Artinya, umat tidak akan kuat hanya karena punya sejarah besar; umat kuat bila mau memenuhi syarat-syarat kebangkitan hari ini: ilmu, amanah, keadilan, solidaritas, dan kepemimpinan yang beradab.

Gambaran Al-Qur’an tentang barisan yang kokoh juga sangat penting. Allah mencintai mereka yang berjuang dalam صف yang teratur, seperti bangunan yang tersusun rapat. Ini adalah metafora yang sangat kaya. Bangunan kokoh tidak terjadi karena satu batu paling kuat, tetapi karena setiap bagian berada pada tempatnya, saling menopang, dan tunduk pada rancangan yang sama. Begitulah umat yang sehat: ada yang ahli ilmu, ada yang ahli pendidikan, ada yang ahli ekonomi, ada yang ahli organisasi, ada yang ahli dakwah, tetapi semuanya bergerak dalam arah yang satu. Kemuliaan umat tidak lahir dari semua orang menjadi seragam, melainkan dari semua orang memberikan kontribusi terbaiknya dalam kesatuan visi.

Maka, secara lebih mendalam, tema ini mengajarkan keseimbangan yang sangat Qur’ani. Keahlian menjaga mutu. Persatuan menjaga kekokohan. Cinta menjaga kehangatan. Tauhid menjaga arah. Bila keahlian tumbuh tanpa persatuan, yang lahir adalah kompetisi yang rapuh. Bila persatuan dijaga tanpa keahlian, yang lahir adalah kebersamaan yang lemah. Idealnya, umat melahirkan manusia-manusia yang ahli di bidangnya, tetapi tetap rendah hati; cakap, tetapi tidak meremehkan; berbeda, tetapi tidak tercerai; kuat, tetapi tidak menindas.

Akhirnya, tadabbur ini mengajak kita melihat bahwa kebangkitan umat bukan dimulai dari pidato besar, melainkan dari pembenahan dua hal yang sering terpisah: mutu diri dan kesatuan hati. Dalam bahasa populis: umat harus pintar dan kompak. Dalam bahasa akademik: peradaban memerlukan kualitas manusia dan kohesi sosial. Dalam bahasa filosofis: kemuliaan lahir ketika mutu bertemu kesatuan, dan keduanya dipusatkan pada tauhid. Itulah jalan umat menuju kemuliaan: ahli dalam karya, utuh dalam barisan, dan lurus dalam orientasi kepada Allah.

Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img