KABARLAH.COM – بسم الله الرحمن الرحيم.
“وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَا تَسْمَعُوْا لِهٰذَا الْقُرْاٰنِ وَالْغَوْا فِيْهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُوْنَ ٢٦
wa qâlalladzîna kafarû lâ tasma‘û lihâdzal-qur’âni walghau fîhi la‘allakum taghlibûn.
Orang-orang yang kufur berkata,
Janganlah kamu mendengarkan (bacaan) Al-Qur’an ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya agar kamu dapat mengalahkan (mereka).
Ada satu hal yang sangat menarik dari cara Al-Qur’an menggambarkan perlawanan terhadap kebenaran: kebatilan tidak selalu datang dengan argumen yang kuat. Kadang ia datang dengan cara yang jauh lebih sederhana, tetapi sangat efektif: menciptakan kebisingan. Itulah yang tergambar dalam firman Allah pada QS. Fuṣṣilat: 26, ketika orang-orang kafir berkata, “Janganlah kamu mendengarkan Al-Qur’an ini, dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, agar kamu dapat mengalahkan.” Ayat ini terasa singkat, tetapi kandungannya sangat besar. Ia tidak hanya bicara tentang kaum Quraisy di masa silam, tetapi tentang pola abadi perlawanan terhadap wahyu: bila kebenaran sulit dibantah, maka perhatian manusia harus direbut dan dipecah.
Secara lahiriah, ayat ini menunjukkan kecerdikan musuh wahyu. Mereka mengerti satu hal yang sangat mendasar: Al-Qur’an memiliki daya pengaruh yang luar biasa bila didengar dengan jujur dan tenang. Karena itu, strategi mereka bukan pertama-tama menyiapkan hujjah tandingan yang kokoh, tetapi menutup pintu masuknya pengaruh itu. Mereka berkata, jangan dengarkan. Bila itu belum cukup, mereka melangkah lebih jauh: buat kegaduhan di sekitarnya. Dengan demikian, pesan wahyu tidak pernah sampai utuh ke hati. Ini adalah taktik yang sangat modern, meskipun lahir berabad-abad lalu. Musuh kebenaran tahu bahwa manusia yang sempat hening di hadapan wahyu berpotensi berubah. Maka yang diserang bukan hanya isi kebenaran, tetapi juga kesempatan manusia untuk berjumpa dengan kebenaran secara jernih.
Di sinilah ayat ini menjadi sangat aktual. Dunia modern hidup dalam banjir suara, informasi, notifikasi, opini, konten, dan distraksi. Kita mungkin tidak sedang berdiri di sekitar Nabi ﷺ sambil berteriak ketika Al-Qur’an dibaca, tetapi kita hidup dalam budaya yang sering menghasilkan hal serupa dalam bentuk yang lebih halus: terlalu banyak suara yang memecah perhatian, terlalu banyak hiburan yang mengaburkan kesadaran, dan terlalu banyak keramaian yang membuat manusia tidak sempat mendengar dirinya sendiri, apalagi mendengar Tuhan. Kebisingan hari ini bukan hanya bunyi; ia adalah pola hidup. Ia bisa berupa layar yang tak pernah padam, percakapan yang tak pernah hening, debat yang tidak pernah bertujuan mencari kebenaran, atau arus konten yang membuat sesuatu yang mendalam terasa kalah oleh sesuatu yang dangkal tetapi ramai.
Dari sudut pandang filosofis, ayat ini mengajarkan bahwa pertarungan antara haq dan batil bukan hanya pertarungan ide, tetapi juga pertarungan atas ruang kesadaran. Kebenaran memerlukan keterbukaan batin. Ia memerlukan pendengaran yang rela menerima, akal yang mau menimbang, dan hati yang bersedia disentuh. Sebaliknya, kebatilan sering hidup dari kegaduhan. Ia tidak kuat berdiri lama dalam ruang hening, sebab keheningan memberi peluang bagi kebenaran untuk tampak dalam kejernihannya. Karena itu, “hiruk-pikuk” dalam ayat ini bisa dibaca sebagai simbol dari segala bentuk gangguan yang membuat manusia kehilangan kualitas mendengar. Dan ketika manusia kehilangan kualitas mendengar, ia perlahan kehilangan kualitas memahami; ketika kehilangan kualitas memahami, ia kehilangan kualitas beriman.
Dalam pengertian inilah ayat ini tidak hanya berbicara tentang musuh di luar, tetapi juga tentang musuh di dalam diri. Ada saat-saat ketika hati kita sendiri berkata: jangan terlalu dengarkan Al-Qur’an, nanti engkau harus berubah. Jangan terlalu lama tadabbur, nanti engkau akan diminta jujur pada dirimu sendiri. Jangan terlalu dekat dengan wahyu, nanti kebiasaan lama akan terusik. Maka “kebisingan” tidak selalu datang dari luar. Kadang ia muncul dari dalam jiwa: dari hawa nafsu, kesibukan yang tak tertata, ego yang enggan tunduk, atau kegelisahan yang terus mencari pelarian. Dalam keadaan seperti itu, manusia bisa saja membaca Al-Qur’an, tetapi tidak sungguh mendengarnya. Bibirnya aktif, tetapi batinnya gaduh. Matanya bergerak di atas ayat, tetapi qalbunya tidak hadir di hadapan Allah.
Tadabbur ayat ini membawa kita pada satu kesadaran penting: iman memerlukan adab mendengar. Al-Qur’an tidak hanya meminta dibaca, tetapi juga diterima dengan kesungguhan batin. Karena itu, lawan dari budaya “jangan dengar dan bikin gaduh” adalah budaya diam, dengar, resapi, lalu berubah. Keheningan dalam Islam bukan kekosongan yang pasif, melainkan ruang aktif untuk menerima nur. Dalam keheningan, manusia mulai melihat sesuatu dengan ukuran yang benar. Ia mulai paham bahwa tidak semua yang ramai itu bernilai, dan tidak semua yang sunyi itu hampa. Bahkan justru banyak kebenaran besar lahir dari jiwa yang mau berhenti sejenak dari riuh dunia.
Secara akademik, QS. Fuṣṣilat: 26 juga memperlihatkan bahwa propaganda adalah instrumen tua dalam sejarah penolakan terhadap risalah. Cara kerja propaganda bukan selalu dengan menyampaikan kebohongan terang-terangan, tetapi sering dengan menciptakan suasana di mana kebenaran tidak dapat didengar secara utuh. Ada pengalihan isu, pencemaran persepsi, pembingkaian negatif, dan pengaburan fokus. Maka ayat ini mengajarkan literasi ruhani sekaligus literasi sosial: seorang mukmin harus mampu mengenali kapan sebuah ruang sedang dibangun untuk mencari kebenaran, dan kapan sebuah ruang sedang direkayasa untuk menenggelamkannya.
Di titik ini, tadabbur atas ayat ini menjadi sangat personal. Barangkali pertanyaan terbesarnya bukan hanya: siapa yang membuat gaduh terhadap Al-Qur’an? Tetapi juga: apa saja kegaduhan dalam hidupku yang menghalangiku dari Al-Qur’an? Apakah itu kelelahan jiwa, kecanduan distraksi, ambisi yang tak terarah, atau lingkungan yang terlalu riuh untuk memberi tempat bagi wahyu? Ayat ini seakan menuntun kita untuk membersihkan “ruang dengar” dalam diri. Sebab sebelum Al-Qur’an membentuk amal, ia harus lebih dahulu mendapat tempat yang layak dalam hati.
Akhirnya, QS. Fuṣṣilat: 26 mengajarkan bahwa kemenangan kebenaran tidak selalu dimulai dari forum besar atau perdebatan ramai. Kadang ia dimulai dari satu momen sangat sederhana: seseorang yang memilih diam lalu sungguh-sungguh mendengar firman Allah. Di situlah perubahan lahir. Di situlah kebatilan mulai kehilangan kuasa. Sebab kebatilan paling takut bukan hanya pada argumen yang benar, tetapi pada hati yang tenang, jujur, dan siap menerima cahaya Al-Qur’an. Maka di zaman penuh bising ini, salah satu bentuk jihad ruhani yang paling penting adalah memulihkan keheningan agar wahyu kembali terdengar.
Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.




