KABARLAH.COM, Pekanbaru – Di zaman yang bising oleh data, manusia sering merasa “tahu banyak”, tetapi justru kehilangan arah. Kita bisa membaca ribuan opini dalam sehari, namun tetap rapuh ketika diuji oleh kecemasan, konflik, atau godaan. Di titik inilah kata tadabbur menjadi kunci: bukan sekadar membaca Al-Qur’an, melainkan membiarkan Al-Qur’an membaca kita—membongkar motif, menata niat, dan mengubah kebiasaan. Karena “kembali kepada Al-Qur’an” bukan nostalgia romantis Ramadhan, melainkan kebutuhan epistemik dan moral: kebutuhan akan standar kebenaran yang tidak tunduk pada tren, serta penyembuhan batin yang tidak bisa diganti oleh teknologi.
Secara filosofis, krisis modern bukan semata krisis informasi, tetapi krisis makna. Kita hidup dalam era “banjir pengetahuan”, tetapi miskin hikmah. Dalam Islam, hikmah bukan sekadar cerdas, melainkan kemampuan menempatkan sesuatu pada tempatnya—sebuah keteraturan akal dan hati. Dan itulah peran Al-Qur’an: memberi petunjuk ke jalan paling lurus (QS al-Isrā’ 17:9). Lurus di sini bukan lurus menurut mayoritas, melainkan lurus menurut wahyu. Ketika wahyu ditinggalkan, manusia menciptakan standar sendiri: yang viral dianggap benar, yang menyenangkan dianggap baik, yang menguntungkan dianggap bijak—padahal bisa merusak jiwa.
Namun “meninggalkan Al-Qur’an” sering tidak tampak kasar. Ia bisa terjadi ketika mushaf tetap dibaca, tetapi nilai Qur’an tidak hadir dalam keputusan. Keluhan Rasulullah ﷺ tentang umat yang menjadikan Al-Qur’an “mahjūr” (ditinggalkan) (QS al-Furqān 25:30) bukan hanya kritik terhadap orang yang tidak tilawah, tetapi juga teguran bagi yang berhenti pada suara: lantunan tanpa perubahan, kajian tanpa pengendalian nafs, hafalan tanpa keadilan sosial. Inilah paradoks: tilawah ramai, tetapi kezaliman juga ramai; majelis penuh, tetapi lisan tetap tajam; simbol agama kuat, tetapi amanah publik rapuh. Maka pertanyaannya bukan “apakah kita membaca?”, melainkan “apakah Qur’an membentuk kita?”
Di sinilah tadabbur memulihkan makna. Al-Qur’an sendiri memberi metodologi: ia diturunkan penuh berkah agar ditadabburi ayat-ayatnya (QS Ṣād 38:29). Tadabbur bukan sekadar kontemplasi emosional, tetapi kerja epistemik: memahami pesan, melihat konteks, lalu mengikatnya pada realitas diri. Tadabbur adalah “jembatan” dari teks menuju transformasi. Tilawah adalah pintu; pemahaman adalah peta; tadabbur adalah perjalanan; amal adalah bukti bahwa perjalanan itu benar-benar terjadi.
Secara akademik, tadabbur bisa dipahami sebagai proses integratif yang menyatukan tiga dimensi manusia: akal, hati, dan perilaku. Akal menimbang makna ayat; hati menangkap isyaratnya; perilaku membuktikan keseriusannya. Karena itu Al-Qur’an disebut ruh (energi kehidupan): “Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Qur’an)…” (QS asy-Syūrā 42:52). Ruh berarti pusat hidup. Manusia bisa hidup biologis, tetapi mati orientasi: bergerak tanpa tujuan, bekerja tanpa makna, berprestasi tanpa kedekatan kepada Allah. Qur’an menghidupkan kembali pusat itu: tauhid sebagai arah, adab sebagai bentuk, amal sebagai bukti.
Lebih dari itu, Al-Qur’an adalah syifā’ (penyembuh) bagi penyakit dada (QS Yūnus 10:57). Penyakit dada hari ini sering tampil sebagai masalah psikologis, padahal akar terdalamnya adalah masalah spiritual: resah karena kehilangan sandaran, iri karena standar hidup diukur oleh perbandingan, riya karena nilai diri bergantung pada pujian, putus asa karena memutus hubungan dengan Rahmat Allah. Qur’an menyembuhkan bukan dengan meninabobokan, tetapi dengan menjernihkan cara memandang hidup: musibah dibaca sebagai ujian, nikmat dibaca sebagai amanah, waktu dibaca sebagai ladang, dan kematian dibaca sebagai pintu pulang.
Di jalur tarbiyah–tazkiyah Sunni, Sa‘īd Ḥawwā menekankan bahwa kebangkitan bukan lahir dari slogan, melainkan dari penyucian jiwa yang bertahap: membersihkan penyakit batin lalu membangun disiplin ibadah dan akhlak sampai menjadi karakter. Prinsip ini selaras dengan ruh tadabbur: ayat tidak cukup menggetarkan, ia harus mengarahkan. Sementara tradisi ulama sufi Sunni seperti ‘Abdul Ḥalīm Maḥmūd mengingatkan bahwa rahasia Al-Qur’an terbuka seiring naiknya adab dan kesungguhan: semakin jujur seseorang menundukkan diri, semakin dalam ia menangkap “cahaya” makna. Dan Ramadhān al-Būṭī menegaskan dimensi tarbiyah Qur’ani: wahyu bukan hanya teks hukum, melainkan pendidikan jiwa dan akal—mendidik cara berpikir agar tunduk pada kebenaran, bukan pada nafs.
Akhirnya, tadabbur menuntut nizham—sistem. Di sinilah pendekatan “tadabbur–amal” menjadi realistis: bukan menunggu ideal, tapi memulai yang terukur. Pola 30 menit sehari adalah contoh kebijaksanaan praktis: 10 menit tilawah, 10 menit memahami, 5 menit menulis pelajaran, 5 menit menetapkan amal. Ini bukan sekadar jadwal, tetapi “cara” Qur’an masuk ke darah kehidupan. Tanpa sistem, semangat mudah padam; dengan sistem, perubahan kecil menjadi jalan panjang.
Hadits sahih mengokohkan orientasi ini: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR al-Bukhārī) — artinya kembali itu tidak berhenti pada diri, tetapi melahirkan transfer kebaikan. Dan “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang memberi syafa’at bagi pembacanya” (HR Muslim) — syafa’at itu bukan hadiah untuk suara, melainkan buah dari keterhubungan: membaca, memahami, menghayati, lalu meniti.
Maka “kembali” yang sejati adalah ketika Al-Qur’an menjadi imam: ia memimpin keputusan, membentuk adab, dan melahirkan kemaslahatan. Tadabbur adalah pintu yang menghubungkan wahyu dengan realitas. Jika kita ingin Qur’an memuliakan hidup, kita harus berhenti menjadikannya sekadar bacaan—dan mulai menjadikannya cermin. Satu hari satu ayat, satu ayat satu perubahan. Itulah tadabbur yang menghidupkan: bukan hanya mengharukan, tetapi mengubah.
Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



