KABARLAH.COM, Pekanbaru – Ada satu kesalahpahaman yang diam-diam merugikan umat: kita mengira kedekatan dengan Al-Qur’an cukup diukur dari seberapa sering ia terdengar. Padahal, yang paling menentukan bukan sekadar tilawah di telinga, melainkan tadabbur di hati—ketika ayat memengaruhi cara kita memilih, menilai, dan bertindak. Ramadhan disebut Syahrul Qur’an bukan semata karena banyaknya bacaan, tetapi karena ia seharusnya menjadi musim pulangnya wahyu ke pusat keputusan: ke ruang batin, keluarga, pekerjaan, dan amanah sosial.
Dalam konteks ini, Asmā’ul Ḥusnā adalah pintu tadabbur yang paling “menghidupkan”. Allah tidak hanya memerintahkan kita membaca, tetapi mengenal Dia yang berbicara dalam Al-Qur’an. Firman-Nya: “Dan Allah memiliki Asmā’ul Ḥusnā, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmā’ul Ḥusnā itu.” (QS. Al-A‘rāf 7:180). Ini bukan sekadar dalil dzikir. Ini peta hidup. Karena ketika kita berdoa dengan nama-nama Allah, kita sedang belajar: kapan memanggil Ar-Raḥmān, kapan berlindung kepada Al-‘Azīz, kapan berharap kepada Al-Ghafūr, kapan takut kepada Shadīd al-‘Iqāb. Dari sinilah keseimbangan ruhani lahir: harap dan takut, lembut dan tegas, dekat dan tunduk.
Secara populis, kebahagiaan orang beriman tidak lahir dari “hidup tanpa masalah”, tetapi dari “memiliki sandaran yang tidak rapuh”. Dunia berubah, manusia berubah, reputasi naik-turun, ekonomi berguncang—tetapi Allah tidak berubah. Al-Qur’an menegaskan: “Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Milik-Nya al-Asmā’ al-Ḥusnā.” (QS. Ṭāhā 20:8). Kalimat ini bukan teologi dingin; ia pagar jiwa. Jika semua kesempurnaan ada pada Allah, maka kebutuhan jiwa (tenang, aman, dicintai, diampuni, dipandu) tidak perlu ditagih habis-habisan kepada manusia. Manusia terbatas; Allah tidak.
Tadabbur yang benar lalu menuntun kita pada dua poros besar: Asmā’ al-Jamāl dan Asmā’ al-Jalāl. Jamāl adalah nama-nama yang menumbuhkan cinta dan keakraban: Ar-Raḥmān, Ar-Raḥīm, Al-Laṭīf, Al-Karīm, Al-Ghafūr, At-Tawwāb. Jalāl adalah nama-nama yang menegakkan wibawa dan adab: Al-Malik, Al-Qahhār, Al-‘Azīz, Al-Jabbār, Al-Ḥakīm, Shadīd al-‘Iqāb. Dua poros ini bukan dua Tuhan; ini dua wajah kesempurnaan Tuhan yang satu. Keduanya adalah “dua sayap” yang menahan iman agar tidak jatuh pada ekstrem.
Dari sisi akademik—sebagaimana ditekankan tradisi tarbiyah ruhiyah ulama Sunni—ma‘rifah bukan sekadar pengetahuan, melainkan mesin pembentukan karakter (tazkiyah). Ketimpangan batin sering melahirkan dua tipe problem:
- hanya Jamāl → agama jadi longgar, dosa dinormalisasi;
- hanya Jalāl → agama jadi kering, mudah menghakimi, miskin rahmah
Al-Qur’an menyatukan dua arus ini dengan tegas: “Beritakanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS. Al-Ḥijr 15:49–50). Inilah “kurikulum keseimbangan”: hati lembut tapi prinsip kuat; optimis tapi waspada; penuh cinta tapi tidak permisif.
Di titik ini, tadabbur menjadi proses filosofis: ayat tidak lagi diperlakukan sebagai “objek baca”, melainkan “subjek penilai” yang menilai kita. Kita berhenti menanyakan “apa yang cocok untukku?” lalu mulai menanyakan “apa yang Allah minta dariku?” Itulah sebabnya Allah memuji tadabbur: “(Ini) Kitab yang Kami turunkan… agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya.” (QS. Ṣād 38:29). Tadabbur memindahkan pusat otoritas dari ego menuju wahyu.
Hadits shahih memperkuat arah itu. Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama; siapa yang aḥṣāhā maka ia masuk surga.” (Muttafaq ‘alaih). Aḥṣāhā bukan sekadar hafalan. Ia mencakup memahami makna, berdoa dengannya, dan beramal sesuai tuntutannya. Maka ma‘rifah Asmā’ adalah jalan surga karena ia melahirkan “kehidupan baru” di dalam diri.
Kebahagiaan tadabbur Asmā’ paling mudah diukur dari perubahan nyata. Saat berdosa, ia pulang kepada Al-Ghafūr dan At-Tawwāb—taubat cepat, bukan normalisasi salah. Saat takut masa depan, ia bersandar kepada Al-Wakīl dan Ar-Razzāq—ikhtiar berjalan, hati tidak panik. Saat memegang amanah, ia ingat Al-Malik dan Al-Ḥakīm—kuasa adalah titipan, bukan hak mutlak. Saat terluka oleh manusia, ia ingat Al-‘Adl—keadilan Allah sempurna, maka ia tidak membalas zalim dengan zalim. Saat beribadah, ia hadirkan Jalāl dan Jamāl: takut yang memuliakan, cinta yang melembutkan.
Inilah cara Ramadhan mengubah kita: bukan hanya menambah bacaan, tetapi menambah adab kepada Allah. Dan adab itulah akar kebahagiaan. Sebab orang yang mengenal Allah akan lebih sedikit mengemis validasi manusia; ia bekerja keras tanpa menjadikan hasil sebagai Tuhan; ia sabar tanpa kehilangan harap; ia lembut tanpa kehilangan prinsip.
Maka serasikan tema Ramadhan Syahrul Qur’an dengan langkah sederhana: satu nama Allah per hari, cari ayat pendukungnya, tutup dengan satu doa, lalu ambil satu amal nyata. Kecil, tetapi istiqamah. Dari situlah tadabbur menjadi kebiasaan; ma‘rifah menjadi hidup; dan Al-Qur’an kembali memimpin keputusan. Bahagia yang lahir bukan euforia sesaat, melainkan bahagia terarah: hati lembut karena Jamāl-Nya, tulang punggung tegak karena Jalāl-Nya—hingga kita pulang kepada Allah dalam keadaan mengenal-Nya dan diridhai-Nya.
Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.




