BerandaInspirasiNasehatTADABBUR QS. AL-KAHFI (18): 100–110 "Benteng Iman Penangkal Dajjal Zaman Modern: dari...

TADABBUR QS. AL-KAHFI (18): 100–110 “Benteng Iman Penangkal Dajjal Zaman Modern: dari Ilusi Citra ke Kejujuran Tauhid”

spot_img

KABARLAH.COM, Pekanbaru – قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًاࣖ ۝١١٠
qul innamâ ana basyarum mitslukum yûḫâ ilayya annamâ ilâhukum ilâhuw wâḫid, fa mang kâna yarjû liqâ’a rabbihî falya‘mal ‘amalan shâliḫaw wa lâ yusyrik bi‘ibâdati rabbihî aḫadâ.

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya.

Di era yang serba cepat, fitnah terbesar sering tidak datang sebagai “kebatilan telanjang,” tetapi sebagai kebenaran semu yang dikemas cerdas, emosional, dan menarik. Inilah wajah “dajjal modern”: bukan sekadar figur akhir zaman yang kita imani akan datang, tetapi pola tipuan yang sudah bekerja sejak sekarang—membalik ukuran, mengaburkan hakikat, menukar nilai dengan citra. Pada titik ini, QS Al-Kahfi 18:100–110 tampil sebagai peta keselamatan: membongkar ilusi, menegakkan neraca wahyu, dan menuntun manusia dari prestise palsu menuju keselamatan hakiki.

Ayat-ayat ini dimulai dengan gambaran keras: Jahannam ditampakkan nyata bagi orang yang menolak kebenaran (18:100). Secara zahir, ini menegaskan bahwa akhirat bukan simbol psikologis, tetapi realitas objektif. Secara batin, ayat ini mengingatkan bahwa “api” itu mulai menyala sejak di dunia ketika hati mengeras, mata batin tertutup, dan jiwa kehilangan rasa takut kepada Allah. Dalam bahasa populer: banyak orang tidak menunggu neraka di akhirat; ia membawa bibitnya dari dunia—kesombongan, penghinaan pada kebenaran, dan pembenaran diri.

Lalu Allah menggambarkan akar krisis itu: mata tertutup dari dzikir dan telinga enggan mendengar (18:101). Ini bukan soal kurang data, tetapi rusaknya adab menerima petunjuk. Dalam masyarakat digital, informasi melimpah namun hidayah bisa menipis. Orang “tahu banyak” tetapi tidak tunduk. Secara akademik, ini menyerupai motivated reasoning: akal tidak lagi mencari kebenaran, melainkan membela hawa nafsu. Secara filosofis, kebutaan batin lebih berbahaya daripada kebutaan fisik; sebab fisik hanya membatasi penglihatan, sedangkan batin yang buta merusak orientasi hidup.

Ayat berikutnya menelanjangi penyakit loyalitas: manusia menjadikan selain Allah sebagai pelindung mutlak (18:102). Hari ini, berhala itu bisa berupa reputasi, algoritma, jabatan, pasar, bahkan “opini publik.” Dajjal modern bekerja dengan satu pola: membuat manusia takut kehilangan penerimaan sosial lebih daripada takut kehilangan ridha Allah. Maka penangkal pertama adalah tahqiq tauhid—memastikan pusat takut, cinta, dan harap kembali kepada Allah. Kita tetap menghormati sebab-sebab dunia, tapi tidak menyembahnya secara batin.

Kemudian datang ayat paling mengguncang dunia aktivisme religius: “Maukah Kami beritakan orang yang paling merugi amalnya?” (18:103–104). Mereka bekerja keras, namun tersesat; mereka merasa paling benar, padahal kosong di sisi Allah. Ini kritik terhadap “agama performatif”: ramai gerak, minim keikhlasan; banyak simbol, kurang muhasabah. Dalam kerangka ulama Sunni klasik dan kontemporer, kaidahnya jelas: amal diterima bila ikhlas dan ittiba’ (benar niat, benar cara). Inilah benteng anti-dajjal: jangan tertipu kuantitas aktivitas jika kualitas niat dan kesesuaian sunnah rapuh.

Ayat 105–106 menegaskan mengapa amal bisa runtuh: kufur terhadap ayat Allah dan perjumpaan akhirat, lalu menjadikan agama bahan olok-olok. Ketika akhirat dikeluarkan dari horizon, etika berubah jadi kalkulasi untung-rugi sesaat. Orang berani menipu karena merasa hisab “jauh.” Orang meremehkan lisan karena lupa setiap kata dicatat. Dajjal modern menormalkan sinisme: segala yang suci dianggap bahan komedi, semua batas dianggap represi. Al-Qur’an menjawab tegas: kebebasan tanpa adab berubah menjadi kebiadaban.

Namun Al-Kahfi tidak berhenti pada ancaman. Ia membuka horizon harapan: orang beriman dan beramal saleh mendapat Firdaus (18:107–108). Ini penting secara psikologis-spiritual: benteng iman tidak dibangun oleh rasa takut semata, tapi oleh harapan yang benar. Masyarakat yang hanya ditakut-takuti akan kering; masyarakat yang hanya dihibur akan lalai. Qur’an menyeimbangkan keduanya: inzar dan busyra. Dalam bahasa populis: jangan putus asa menghadapi rusaknya zaman—pintu surga tetap terbuka bagi iman yang jujur dan amal yang lurus.

Ayat 109 memunculkan prinsip epistemologis yang sangat dibutuhkan pada zaman “merasa paling tahu”: seandainya laut jadi tinta, kalimat Allah takkan habis. Ini melahirkan tawaduk ilmiah. Penangkal dajjal bukan anti-ilmu, melainkan ilmu yang beradab—semakin tahu, semakin rendah hati; semakin luas wawasan, semakin sadar batas diri. Kesombongan intelektual adalah pintu tipuan, karena ia membuat manusia menolak koreksi wahyu atas nama “kemajuan.”

Penutup surah (18:110) adalah formula emas anti-fitnah zaman: Nabi manusia seperti kita yang menerima wahyu; siapa berharap bertemu Rabb-nya, hendaklah beramal saleh dan tidak menyekutukan Allah dalam ibadah. Inilah inti seluruh proyek penangkal dajjal: tauhid niat + kesahihan amal. Secara filosofis, ini memindahkan hidup dari ego-sentris ke Tuhan-sentris. Secara akademik, ini standar evaluasi permanen:

  1. Benarkah sumbernya?
  2. Benarkah metodenya?
  3. Bersihkah niatnya?
  4. Maslahatkah dampaknya?

Dalam corak tarbiyah-tazkiyah yang sejalan dengan Sa‘id Hawwa, Abdul Halim Mahmud, dan Ramadhan al-Buti, ayat-ayat ini bukan sekadar informasi tafsir, tapi manhaj pembentukan manusia: iman yang melahirkan adab, adab yang melahirkan amal, amal yang melahirkan maslahat. Selaras dengan pendekatan “tadabbur–amal,” kita bisa merumuskannya menjadi latihan harian yang sederhana namun tajam:

Fahm: baca Al-Kahfi rutin (khususnya awal/akhir, sesuai hadis sahih Muslim tentang perlindungan dari fitnah Dajjal), pahami makna bukan hanya lafaz.

Muhasabah: cek tiga hal setiap malam—niat, lisan, dan transaksi harian.

Iltizam: perbaiki satu amal konkret per hari (shalat tepat waktu, jujur dalam kerja, menahan ghibah, infak meski kecil).

Istiqamah: banyak berdoa perlindungan dari fitnah yang tampak dan tersembunyi, termasuk fitnah Dajjal.

Maka, substansi penangkal Dajjal zaman ini bukan paranoia, melainkan pemurnian orientasi: menolak ilusi yang membesar-besarkan dunia, mengembalikan wahyu sebagai neraca, dan menumbuhkan hamba yang tidak mudah dibeli pujian atau ditakuti celaan. Dajjal modern menjual tampilan; Al-Kahfi menuntun hakikat. Dajjal modern memabukkan ego; Al-Kahfi menyehatkan tauhid. Dajjal modern mengajak “tampak hebat”; Al-Kahfi mengajar “menjadi benar.”

Akhirnya, benteng itu bukan di luar, tapi di dalam: hati yang hidup oleh dzikir, akal yang tunduk pada wahyu, dan amal yang jujur karena Allah. Itulah manusia Al-Kahfi—yang tetap pbercahaya meski zaman gelap.

Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img