KABARLAH.COM, Pekanbaru – Tadabbur QS Al-An‘am ayat 67.
لِّكُلِّ نَبَإٍ مُّسْتَقَرٌّ ۚ وَسَوْفَ تَعْلَمُونَ
Likulli naba`im mustaqarruw wa saufa ta’lamụn
Untuk setiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui.
Di era notifikasi, manusia belajar satu refleks: cepat. Cepat menjawab, cepat bereaksi, cepat menilai, cepat memvonis. Ukuran keberhasilan pun menyusut menjadi angka-angka instan: seberapa cepat hasil, seberapa cepat dikenal, seberapa cepat menang. Di titik ini, QS Al-An‘ām:67 turun seperti cahaya yang menertibkan napas: “Likulli naba’in mustaqar, wa sawfa ta‘lamūn”—setiap kabar memiliki titik ketetapan waktunya, dan kelak kamu akan mengetahui. Ayat ini pendek, tetapi ia meruntuhkan salah satu berhala modern: keyakinan bahwa segala yang benar harus terbukti sekarang juga.
Secara makna zahir, ayat ini menegaskan hukum waktu dalam sunnatullah. Para pendusta yang mengejek ancaman wahyu dikoreksi: setiap berita dari Allah—janji, ancaman, petunjuk, dan ketetapan—punya saat realisasi. Bukan karena manusia mendesak, bukan karena publik menuntut, melainkan karena hikmah Allah menempatkan segala sesuatu pada kadar yang tepat. Dengan begitu, ayat ini mendidik disiplin teologis: penundaan bukan pembatalan. Ketika kemenangan belum tampak, itu bukan bukti bahwa kebenaran lemah; bisa jadi itu fase pematangan jiwa, strategi, dan keteguhan.
Di sinilah kedalaman batin ayat bekerja. QS Al-An‘ām:67 bukan hanya informasi masa depan, melainkan terapi ruhani untuk hati yang cemas. Banyak kekecewaan lahir bukan dari jalan yang salah, tetapi dari ekspektasi waktu yang salah. Kita ingin benih hari ini menjadi pohon esok pagi. Kita ingin dakwah hari ini mengubah peradaban pekan depan. Kita ingin doa malam ini menghasilkan jawaban yang bisa difoto besok. Padahal Allah mengajar kita adab tinggi: berikhtiar sungguh-sungguh tanpa memaksa Allah mengikuti kalender ego kita.
Dalam bahasa populer: semua ada waktunya. Kebenaran tidak otomatis salah hanya karena belum viral. Kebatilan tidak otomatis benar hanya karena sedang ramai. Ada banyak hal yang tak trending tetapi bernilai abadi: kejujuran seorang ayah, doa seorang ibu, amanah seorang guru, istikamah seorang da’i yang bekerja sunyi. Al-Qur’an memulihkan orientasi ini: yang menentukan nilai bukan sorot publik, melainkan penilaian Allah atas hati dan amal.
Secara akademik, ayat ini melahirkan tiga fondasi penting. Pertama, epistemologi waktu: kebenaran wahyu memiliki dimensi prosesual; sebagian makna baru terbuka setelah rentang sejarah. Kedua, etika tindakan: mukmin dituntut menggabungkan rasionalitas ikhtiar dan kesabaran normatif—merancang, mengukur, mengevaluasi, lalu memperbaiki—tanpa berubah menjadi frustrasi. Ketiga, sosiologi perubahan: transformasi sosial tidak dibangun oleh ledakan emosi, tetapi oleh akumulasi amal kecil yang konsisten. Maka ayat ini menolak budaya “jalan pintas” yang sering efektif sesaat namun merusak adab jangka panjang.
Dari sudut filosofis, QS Al-An‘ām:67 menata ulang relasi manusia dengan waktu. Selama ini manusia cenderung memposisikan waktu sebagai properti dirinya: “target saya, deadline saya, ritme saya.” Al-Qur’an menggeser pusat itu: waktu adalah milik Allah; manusia berjalan di dalam ketetapan-Nya. Kesadaran ini tidak membuat manusia pasif, tetapi justru membebaskannya dari panik kronis. Kita tetap bekerja keras, tetapi tidak hancur oleh keterlambatan; kita tetap berjuang, tetapi tidak mabuk oleh percepatan. Ada jarak antara tanam dan panen, antara luka dan hikmah, antara kesetiaan dan kemenangan. Jarak itu bukan kekosongan—ia adalah madrasah pembentukan insan.
Benang merah ini selaras dengan arus ulama klasik-kontemporer: kebenaran harus dijaga dengan sabar yang aktif. Spirit tarbawi menekankan napas panjang kaderisasi: bukan sensasi, melainkan pembinaan. Spirit tazkiyah menegaskan adab hati: tidak tergesa menyalahkan takdir, tidak putus asa dari rahmat, tidak sombong saat hasil datang. Spirit dakwah berbasis burhan menuntut kestabilan prinsip: tidak reaktif terhadap gelombang opini, tidak menggadaikan hikmah demi popularitas. Intinya satu: istiqamah lebih mahal daripada euforia.
Lalu bagaimana ayat ini dihidupkan dalam amal? Pertama, bedakan wilayah ikhtiar dan wilayah hasil. Ikhtiar adalah kewajiban kita: belajar serius, kerja amanah, doa khusyuk, evaluasi berkala. Hasil akhir adalah hak Allah. Kedua, bangun “istiqamah mikro”: amal kecil harian yang tidak glamor tapi menumbuhkan akar—tilawah, dzikir, sedekah rutin, disiplin lisan, menepati janji. Ketiga, ubah cara membaca keterlambatan: bukan alasan menyerah, melainkan undangan memperbaiki metode dan memurnikan niat. Keempat, jaga horizon akhirat: “wa sawfa ta‘lamūn” mengingatkan bahwa sebagian pembuktian paling adil terjadi di hadapan Allah, bukan selalu di panggung dunia.
Ayat ini juga mengoreksi dua ekstrem yang sama-sama berbahaya. Ekstrem pertama: fatalisme—bersandar pada “takdir” untuk menutupi kemalasan. Ekstrem kedua: aktivisme tanpa tawakal—seolah hasil sepenuhnya bisa dipaksa oleh teknik manusia. Al-Qur’an menolak keduanya. Yang diminta adalah sabar yang bergerak, tawakal yang cerdas, harap yang matang. Kita bekerja sebaik mungkin, lalu menyerahkan waktu panen kepada Pemilik musim.
Akhirnya, tadabbur bukan sekadar memahami ayat, tetapi membiarkan ayat mengatur ritme hidup kita. QS Al-An‘ām:67 mengajak kita keluar dari agama yang reaktif menuju iman yang berakar; dari mental “sekarang juga” menuju peradaban “tekun sampai jadi.” Maka ketika hasil belum terlihat, jangan katakan “sia-sia,” katakan: “belum tiba.” Ketika kebenaran belum menang di mata manusia, jangan katakan “kalah,” katakan: “masih diproses oleh hikmah Allah.” Ketika doa belum dikabulkan dalam bentuk yang kita inginkan, jangan katakan “ditolak,” katakan: “sedang ditata.”
Karena janji ayat ini pasti: “wa sawfa ta‘lamūn”—kelak kamu akan mengetahui.
Dan pada saat itu, kita akan paham: tak ada amal jujur yang hilang, tak ada air mata ikhlas yang sia-sia, tak ada perjuangan lurus yang terbuang.
*Kita menanam hari ini; Allah menumbuhkan pada waktu-Nya.
Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.




