BerandaInspirasiNasehatTadabbur QS Al-Baqarah: 183, Puasa Sebagai Revolusi Diri Dari Lapar Fisik Menuju...

Tadabbur QS Al-Baqarah: 183, Puasa Sebagai Revolusi Diri Dari Lapar Fisik Menuju Kejernihan Ruh

spot_img

KABARLAH.COM – Al-Baqarah Ayat 183

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ۝١٨٣
yâ ayyuhalladzîna âmanû kutiba ‘alaikumush-shiyâmu kamâ kutiba ‘alalladzîna ming qablikum la‘allakum tattaqûn.

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Ada ayat yang setiap Ramadhan kita dengar berulang-ulang, tetapi sering belum sungguh-sungguh kita masuki maknanya:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini pendek, tetapi memuat peta besar peradaban diri. Ia bukan sekadar pengumuman hukum, melainkan undangan transformasi. Dalam bahasa yang paling sederhana: puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, melainkan latihan menjadi manusia yang kembali dipimpin oleh hati yang sadar Allah.

Secara zahir, ayat ini dimulai dengan panggilan terhormat: “Yā ayyuhalladzīna āmanū.” Allah memanggil “orang beriman,” bukan sekadar “orang yang hidup.” Artinya, puasa adalah proyek kesadaran, bukan kebiasaan musiman. Kalau iman aktif, puasa terasa bernilai. Kalau iman redup, puasa terasa sekadar rutinitas biologis: lapar di siang hari, balas dendam di malam hari.

Lalu datang kata kunci kedua: “kutiba ‘alaikum.” Diwajibkan. Bukan opsi gaya hidup, bukan pilihan selera spiritual. Ini menegaskan bahwa Islam tidak dibangun hanya oleh rasa suka, tetapi oleh komitmen. Dalam disiplin syariat, komitmen itulah yang mendidik jiwa. Kita sering mengira kebebasan adalah “melakukan apa yang kita mau.” Al-Qur’an justru mengajar: kebebasan sejati adalah kemampuan menahan diri dari apa yang kita mau, demi apa yang Allah ridha.

Kata kunci ketiga: “kamā kutiba ‘alalladzīna min qablikum.” Sebagaimana diwajibkan kepada umat sebelum kalian. Ini penting secara akademik dan historis. Puasa adalah tradisi lintas zaman, lintas umat, lintas peradaban rohani. Ia adalah bahasa universal penyucian manusia. Pesan halusnya: perjuangan menundukkan ego bukan beban eksklusif umat ini; semua pencari Tuhan menempuh jalan yang sama—menata nafs, menertibkan hasrat, dan menguatkan orientasi kepada Yang Mahatinggi.

Dan puncaknya: “la‘allakum tattaqūn.” Agar kalian bertakwa. Inilah tujuan final. Bukan lapar, bukan haus, bukan turun berat badan, bukan romantika religius. Tujuan puasa adalah takwa: keadaan batin yang membuat kita merasa diawasi Allah, lalu memilih yang benar walau berat, meninggalkan yang salah walau nikmat.

Di titik ini, makna batin puasa menjadi sangat dalam. Zahir puasa menahan yang halal (makan, minum, relasi suami-istri) pada waktu tertentu. Batin puasa menahan yang haram sepanjang waktu: dusta, ghibah, hasad, riya’, sombong, zalim, dan segala bentuk pengkhianatan amanah. Jadi ukuran keberhasilan puasa bukan hanya “berapa jam tidak makan,” melainkan “berapa besar diri kita berubah.”

Nabi ﷺ memberi standar tegas: siapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh dari dirinya sekadar lapar dan haus. Hadis ini mengguncang: puasa bisa sah secara fikih, tetapi gagal secara ruhiyah. Artinya, puasa yang benar harus mengubah karakter: lisan lebih jujur, emosi lebih terjaga, mata lebih bersih, tangan lebih amanah, dan hati lebih lembut.

Dalam pendekatan filosofis, puasa memulihkan hirarki manusia:

tubuh tetap penting, tetapi tidak berkuasa mutlak;

akal tetap bekerja, tetapi tidak arogan;

ruh kembali menjadi kompas.

Modernitas sering menipu kita dengan slogan: “ikuti saja apa yang kamu rasakan.” Al-Qur’an mengoreksi: tidak semua yang dirasakan harus diikuti. Ada nafs yang harus dididik. Ada keinginan yang harus ditunda. Ada dorongan yang harus ditata. Puasa adalah laboratorium untuk itu.

Dalam pendekatan akademik, QS 2:183 menyajikan model pendidikan integral yang sangat rapi. Pertama, identitas: dimulai dari panggilan iman. Kedua, norma: ada kewajiban yang jelas. Ketiga, kontinuitas sejarah: syariat ini punya akar panjang dalam sejarah manusia. Keempat, tujuan etik: takwa sebagai luaran yang terukur dalam perilaku. Ini bukan sekadar doktrin, melainkan desain pendidikan ilahiah: membentuk manusia utuh, bukan hanya patuh formal.

Karena itu, tadabbur ayat ini harus melampaui romantika Ramadhan. Ia menuntut evaluasi jujur:

Apakah puasa membuat saya lebih jujur atau tetap manipulatif?

Apakah puasa membuat saya lebih lembut pada keluarga atau tetap kasar?

Apakah puasa membuat saya lebih amanah dalam kerja atau tetap lalai?

Apakah puasa membuat saya lebih adil dalam menilai orang atau tetap merasa paling benar?

Kalau jawaban-jawaban itu tidak bergerak, mungkin kita baru menyentuh kulit puasa, belum masuk ke jantungnya.

Di sinilah kebijaksanaan para ulama—klasik maupun kontemporer—bertemu: puasa adalah jalan tazkiyah (penyucian jiwa), bukan sekadar ritual musiman. Bahasa mereka mungkin berbeda, tetapi arahnya sama: syariat harus melahirkan adab; ibadah harus melahirkan akhlak; zikir harus melahirkan tanggung jawab sosial. Takwa bukan konsep privat yang berhenti di sajadah. Takwa harus terlihat di pasar, kantor, ruang publik, dan kebijakan.

Maka, dalam bahasa paling populis, pesan QS 2:183 bisa kita ringkas begini:
Ramadhan datang bukan untuk membuat kita sibuk, tapi untuk membuat kita jernih.
Jernih melihat Allah sebagai tujuan.
Jernih melihat manusia sebagai amanah.
Jernih melihat diri sebagai hamba, bukan pusat semesta.

Akhirnya, tadabbur ayat ini mengantar kita pada satu keputusan eksistensial: apakah kita ingin puasa sebagai tradisi tahunan, atau puasa sebagai titik balik kehidupan? Jika yang kita pilih adalah titik balik, maka sejak hari pertama Ramadhan, niat kita harus diperbarui: bukan sekadar menahan lapar, tetapi menumbuhkan takwa; bukan sekadar memperbanyak amal, tetapi memperbaiki asal amal; bukan sekadar mengejar suasana religius, tetapi membangun kejujuran spiritual.

Karena ketika puasa berhasil, yang lahir bukan hanya pribadi yang “kuat menahan diri,” tetapi pribadi yang “tepat membawa diri”: rendah hati saat dipuji, sabar saat diuji, adil saat berkuasa, jujur saat bertransaksi, dan lembut saat berinteraksi.

Itulah manusia takwa—tujuan akhir QS. Al-Baqarah: 183. Dan itulah inti tadabbur: membaca ayat sampai ayat itu membaca kita.

Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img