BerandaInspirasiNasehatKosmos yang Benar, Firman yang Benar, dan Hidup yang Harus Benar

Kosmos yang Benar, Firman yang Benar, dan Hidup yang Harus Benar

spot_img

KABARLAH.COM – Tadabbur QS Al-An’am (6) ayat 73
وَهُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ بِالْحَقِّۗ وَيَوْمَ يَقُوْلُ كُنْ فَيَكُوْنُۚ قَوْلُهُ الْحَقُّۗ وَلَهُ الْمُلْكُ يَوْمَ يُنْفَخُ فِى الصُّوْرِۗ عٰلِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ وَهُوَ الْحَكِيْمُ الْخَبِيْرُ ۝٧٣
wa huwalladzî khalaqas-samâwâti wal-ardla bil-ḫaqq, wa yauma yaqûlu kun fa yakûn, qauluhul-ḫaqq, wa lahul-mulku yauma yunfakhu fish-shûr, ‘âlimul-ghaibi wasy-syahâdati wa huwal-ḫakîmul-khabîr.

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan hak (benar). (Sungguh benar ketetapan-Nya) pada hari (ketika) Dia berkata, “Jadilah!” Maka, jadilah sesuatu itu. Firman-Nya adalah benar, dan milik-Nyalah segala kekuasaan pada waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dialah Yang Mahabijaksana lagi Mahateliti.

Ada satu krisis besar manusia modern: kita semakin mampu menjelaskan “bagaimana” alam bekerja, tetapi semakin kabur menjawab “untuk apa” kita hidup. Sains memberi detail mekanisme; tetapi makna, tujuan, dan arah moral sering tertinggal. Di tengah kekosongan itu, QS Al-An‘ām: 73 datang sebagai poros: Allah menciptakan langit dan bumi bil-haqq. Artinya, realitas ini bukan kebetulan tanpa tujuan. Semesta berdiri di atas kebenaran, bukan absurditas.

Ayat ini tampak singkat, namun struktur maknanya sangat dalam. Ia menggabungkan tiga dimensi besar sekaligus: kosmologi (asal ciptaan), teologi (otoritas kehendak Ilahi), dan eskatologi (kepastian hari akhir). Dari tiga dimensi ini lahir dimensi keempat: etika—bagaimana manusia seharusnya hidup.

Pertama, frasa “khalaqa as-samawati wal-ardha bil-haqq” menegaskan bahwa penciptaan memiliki maksud, ukuran, dan hikmah. “Bil-haqq” bukan sekadar “dengan benar” secara teknis, tetapi “dengan tujuan yang benar.” Dalam bahasa populis: dunia ini bukan panggung sandiwara tanpa sutradara; bukan permainan tanpa arah. Karena itu, hidup manusia tidak boleh disusun di atas dusta, manipulasi, dan kepalsuan. Jika kosmos saja dibangun di atas haqq, mengapa hidup manusia justru dibangun di atas citra?

Kedua, ayat melanjutkan: “wa yauma yaqulu kun fayakun.” Ini deklarasi rububiyah yang absolut. Kehendak Allah tidak menunggu izin sebab-sebab; sebab-sebab justru bekerja karena diizinkan-Nya. Secara akademik, ini menyeimbangkan akal kausalitas dan iman ketuhanan: kita diperintah berikhtiar, meneliti, menyusun strategi; tetapi kita tidak boleh menuhankan mekanisme. Sebab tertinggi tetap Allah. “Kun fayakun” membebaskan hati dari kesombongan intelektual: sehebat apa pun rencana manusia, ia tetap berada dalam takdir dan hikmah-Nya.

Ketiga, ayat menyatakan: “qauluhul-haqq.” Firman-Nya adalah kebenaran. Ini kalimat epistemologis yang sangat penting. Dalam era banjir informasi, manusia mudah mengira semua pendapat setara. Al-Qur’an menolak kerancuan itu: ada ucapan yang relatif, ada Firman yang absolut. Firman Allah bukan opini di antara opini; ia sumber nilai, cahaya orientasi, dan standar benar-salah. Di sinilah adab ilmu dimulai: berpikir kritis tanpa kehilangan tunduk kepada wahyu.

Keempat, ayat mengunci dengan: “walahul-mulku yauma yunfakhu fish-shur.” Seluruh kepemilikan semu manusia akan runtuh pada hari sangkakala. Jabatan, jaringan, reputasi, kekayaan—semuanya kehilangan kulit kebesarannya. Yang tersisa hanya hakikat: siapa kita di hadapan Allah. Ayat ini menghancurkan ilusi kuasa manusia. Di dunia, orang bisa tampak “mengendalikan.” Di akhirat, semua terkendali. Di dunia, orang bisa “mengatur narasi.” Di akhirat, narasi selesai—yang bicara adalah kebenaran.

Kelima, ayat ditutup dengan dua nama agung: ‘Ālimul-ghaibi wasy-syahādah, Al-Hakīm Al-Khabīr. Allah mengetahui yang gaib dan yang nyata; Mahabijaksana dan Mahateliti. Ini bukan hanya informasi teologis, tetapi terapi moral. Kita sering merasa aman saat dosa tak terlihat, atau merasa benar saat dipuji publik. Ayat ini memotong dua ilusi itu: yang tersembunyi diketahui, yang tampak diuji, yang niat dinilai, yang tindakan dihisab. Maka agama bukan sekadar manajemen tampilan, melainkan kejujuran ontologis di hadapan Tuhan.

Dalam kerangka zahir dan batin, ayat ini sangat harmonis.

Zahirnya: menegakkan tauhid rububiyah, hari akhir, dan otoritas wahyu.

Batinnya: menuntut integritas hati—jujur, tawakal, rendah hati, dan sadar hisab.

Dalam manhaj Sunni, batin tidak boleh melawan zahir. Batin adalah ruh dari zahir. Karena itu, orang yang benar tadabburnya akan makin lurus syariatnya, bukan makin liar simbolismenya.

Secara filosofis, QS 6:73 juga menjawab nihilisme modern. Jika realitas “hanya materi,” maka moral jadi selera; jika hidup “tanpa tujuan,” maka tanggung jawab jadi ilusi. Tetapi jika realitas dicipta bil-haqq, maka etika menjadi niscaya. Kebenaran bukan konstruksi sosial yang bisa diganti sesuka pasar; kebenaran berakar pada sumber penciptaan itu sendiri. Dari sini lahir keberanian moral: berpegang pada yang benar meski tidak populer.

Secara sosial, ayat ini menegur budaya kepalsuan: politik citra, ekonomi tipu daya, relasi yang transaksional, dan spiritualitas yang hanya kosmetik. “Qauluhul-haqq” menuntut kita menata ulang bahasa dan tindakan: jangan jadikan agama sebagai slogan, jangan jadikan kebenaran sebagai alat, jangan jadikan amanah sebagai komoditas.

Lalu apa bentuk amal dari tadabbur ayat ini?

  1. Audit kebenaran pribadi: adakah kebohongan yang dinormalisasi dalam hidup kita—di rumah, pekerjaan, dakwah, atau organisasi?
  2. Latihan tawakal aktif: susun ikhtiar terbaik, lalu lepaskan kesombongan hasil kepada Allah.
  3. Detoks citra: kurangi orientasi dilihat manusia, perkuat orientasi dinilai Allah.
  4. Kesadaran akhirat harian: ingat “yauma yunfakhu fish-shur” sebelum keputusan besar—agar pilihan kita tidak hanya efektif, tapi juga benar.
  5. Disiplin ilmu-wahyu: gunakan akal maksimal, tetapi jangan melampaui batas adab terhadap firman.

Pada akhirnya, QS Al-An‘ām: 73 mengajarkan satu peta hidup yang utuh:
asal realitas adalah kebenaran, pengarah hidup adalah firman kebenaran, dan ujung perjalanan adalah pengadilan kebenaran.

Maka pertanyaan terdalam untuk diri kita bukan “seberapa berhasil aku terlihat,” tetapi “seberapa benar aku hidup di hadapan Allah.”

Ringkasnya:
ketika kosmos dicipta bil-haqq, manusia tidak punya hak hidup dengan batil.
ketika firman-Nya adalah haqq, kita tidak layak mempermainkan kebenaran.
ketika al-mulk kembali total kepada-Nya, kesombongan kita hanyalah jeda singkat sebelum runtuh.

Itulah tadabbur: membaca ayat sampai ayat itu membaca kita—dan mengubah cara kita hidup.

Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img