BerandaInspirasiNasehatTadabbur QS Al-An‘am:53, Syukur Melawan Elitisme, Tawadhu Menyelamatkan Peradaban

Tadabbur QS Al-An‘am:53, Syukur Melawan Elitisme, Tawadhu Menyelamatkan Peradaban

spot_img

KABARLAH.COM – وَكَذَٰلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لِّيَقُولُوٓا۟ أَهَٰٓؤُلَآءِ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنۢ بَيْنِنَآ ۗ أَلَيْسَ ٱللَّهُ بِأَعْلَمَ بِٱلشَّٰكِرِينَ

Wa każālika fatannā ba’ḍahum biba’ḍil liyaqụlū a hāulāi mannallāhu ‘alaihim mim baininā, a laisallāhu bi`a’lama bisy-syākirīn

Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: “Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah Allah kepada mereka?” (Allah berfirman): “Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?”

Ada satu penyakit lama yang terus berganti baju dari zaman ke zaman: merasa lebih pantas di hadapan Tuhan karena status sosial, garis keturunan, pendidikan, atau reputasi. QS Al-An‘ām:53 membongkar penyakit itu dari akarnya. Allah berfirman bahwa Dia menguji sebagian manusia dengan sebagian yang lain, sampai keluar ucapan sombong: “Orang-orang seperti inikah yang diberi karunia Allah di antara kita?” Lalu Allah menutup dengan kalimat yang menghancurkan arogansi itu: “Bukankah Allah lebih mengetahui siapa yang bersyukur?”

Ayat ini bukan sekadar kritik terhadap kaum elit Quraisy masa lalu. Ia adalah cermin untuk kita hari ini: di masjid, kampus, birokrasi, organisasi, bahkan ruang dakwah digital. Sering kali yang dipertanyakan bukan kebenaran pesannya, tetapi “siapa yang menyampaikan.” Kita masih terjebak pada logika kasta: yang berbicara harus “orang besar,” yang berhak tampil harus “dari lingkaran tertentu,” yang diterima harus “satu kelas sosial.” Padahal Al-Qur’an mengajarkan standar yang lain: bukan prestise, tetapi syukur; bukan gengsi, tetapi ketundukan hati pada kebenaran.

Secara filosofis, ayat ini menampar arogansi epistemik—kesombongan merasa paling layak menentukan siapa yang pantas mendapat hidayah. Manusia hanya melihat permukaan: pakaian, aksen, jabatan, jumlah pengikut. Allah melihat batin: niat, luka, taubat, kesungguhan, dan syukur. Kita menilai berdasarkan citra; Allah menilai berdasarkan hakikat. Maka ketika manusia berkata, “Kok dia?” sesungguhnya yang sedang diuji bukan “dia,” tetapi “kita.” Apakah kita mampu menerima pilihan Allah tanpa iri? Apakah kita cukup rendah hati untuk mengakui bahwa karunia Ilahi tidak tunduk pada hierarki sosial buatan manusia?

Dalam horizon akademik, QS Al-An‘ām:53 dapat dibaca melalui tiga lapis analisis.

Pertama, teologi hidayah: hidayah adalah anugerah, bukan hak istimewa kelompok. Ini menghancurkan klaim monopoli kebenaran berbasis kelas.
Kedua, sosiologi agama: perbedaan sosial memang nyata, tetapi ia adalah arena ujian moral, bukan legitimasi dominasi. Kata fatan-nā (Kami menguji) menunjukkan bahwa relasi sosial adalah laboratorium etika.
Ketiga, etika publik Qur’ani: masyarakat beriman harus anti-elitisme, inklusif, dan memuliakan martabat manusia. Jika ruang agama berubah menjadi ruang seleksi kasta, berarti kita sedang menyalahi ruh ayat ini.

Dalam bahasa populis: Allah sedang bilang kepada kita, “Aku sengaja bikin manusia beda-beda untuk mengetes hati kalian.” Yang gagal biasanya bukan yang miskin, tapi yang merasa “lebih berkelas.” Mereka sulit menerima jika cahaya Allah jatuh ke orang yang mereka anggap biasa. Karena itu, pelajaran paling praktis dari ayat ini sederhana namun berat: jangan meremehkan orang; jangan sinis pada hidayah orang lain; jangan merasa kelompok kita paling berhak atas rahmat Allah.

Di titik ini, dimensi batin ayat menjadi sangat penting. Masalah terbesar manusia beragama sering bukan kurang dalil, tapi penyakit hati saat melihat karunia Allah pada orang lain. Hasad berkata, “Kenapa dia?” Ujub berkata, “Harusnya saya.” Kibir berkata, “Dia tidak layak.” QS Al-An‘ām:53 datang sebagai terapi ruhani: Allah lebih tahu siapa yang bersyukur. Artinya, ukuran kemuliaan bukan “siapa yang paling terlihat religius,” tetapi siapa yang paling jujur berterima kasih kepada Allah—dengan hati yang tunduk, lisan yang santun, dan amal yang konsisten.

Syukur dalam ayat ini bukan sekadar ucapan “alhamdulillah.” Syukur adalah kapasitas eksistensial: menerima kebenaran walau datang dari orang sederhana, tidak menutup pintu hidayah bagi orang lain, serta memandang nikmat iman sebagai amanah, bukan atribut status. Orang yang bersyukur tidak sibuk mengukur orang lain dengan neraca gengsi; ia sibuk memperbaiki amanah dirinya sendiri.

Benang merah ini sejalan dengan tradisi ulama lintas masa. Tafsir klasik menegaskan bahwa kemuliaan bukan milik elit sosial, melainkan milik orang yang menerima hidayah dengan jujur. Corak tarbawi kontemporer—seperti yang sering ditekankan Sa‘id Hawwa—mengarahkan tazkiyah agar berbuah gerak sosial: iman harus melahirkan komunitas yang adil, bukan eksklusif. Abdul Halim Mahmud menegaskan jalur tasawuf Sunni: makin dekat kepada Allah harus makin halus adabnya kepada manusia, bukan makin merasa suci. Sementara Ramadhan al-Buthi mengingatkan bahwa dakwah mesti berlandas hikmah dan rahmah; agama tidak boleh dijadikan identitas kelas yang menyingkirkan “yang kecil.”

Karena itu, tadabbur ayat ini tidak boleh berhenti di kepala; ia harus turun ke kultur hidup. Dalam keluarga, jangan bandingkan anak dengan nada merendahkan—itu bibit elitisme psikologis. Dalam majelis ilmu, jangan hanya memuliakan yang berpenampilan “mapan”—bisa jadi yang duduk paling belakang justru paling tulus. Dalam organisasi, jangan jadikan akses kebaikan sebagai hak istimewa lingkaran dalam. Dalam dakwah digital, jangan membunuh pesan karena tidak suka pembawa pesan. Kebenaran tetap kebenaran, meski disampaikan oleh orang yang secara sosial tidak kita perhitungkan.

Akhirnya, QS Al-An‘ām:53 mengajak kita berpindah dari peradaban gengsi ke peradaban syukur. Dari kompetisi citra ke kompetisi takwa. Dari pertanyaan “siapa dia?” ke pertanyaan “apa respon hatiku saat Allah memilih hamba-Nya?” Inilah inti tadabbur: membaca ayat sampai ayat membaca kita. Menilai diri sebelum menilai orang lain. Merendahkan ego agar meninggikan adab.

Jika ayat ini benar-benar hidup dalam jiwa umat, banyak luka sosial bisa sembuh: diskriminasi berkurang, dakwah menjadi lebih ramah, ilmu lebih membumi, dan komunitas beriman menjadi rumah bagi semua pencari Tuhan—bukan klub tertutup bagi yang merasa paling pantas. Maka doa kita semestinya bukan “Ya Allah, jadikan kami terlihat mulia,” tetapi: “Ya Allah, jadikan kami termasuk asy-syakirīn—hamba yang bersyukur, rendah hati, dan layak menerima cahaya-Mu.”

Sebab pada akhirnya, bukan kita yang menentukan siapa yang bernilai di hadapan langit. Allah lebih mengetahui siapa yang bersyukur.

Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img