BerandaInspirasiNasehatKetika Kesaksian Tertinggi Mengembalikan Manusia pada Arah Hidupnya

Ketika Kesaksian Tertinggi Mengembalikan Manusia pada Arah Hidupnya

spot_img

KABARLAH.COM, Pekanbaru – Tadabbur QS Al-An‘am ayat 19, Allah SWT berfirman:

قُلْ أَىُّ شَىْءٍ أَكْبَرُ شَهَٰدَةً ۖ قُلِ ٱللَّهُ ۖ شَهِيدٌۢ بَيْنِى وَبَيْنَكُمْ ۚ وَأُوحِىَ إِلَىَّ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانُ لِأُنذِرَكُم بِهِۦ وَمَنۢ بَلَغَ ۚ أَئِنَّكُمْ لَتَشْهَدُونَ أَنَّ مَعَ ٱللَّهِ ءَالِهَةً أُخْرَىٰ ۚ قُل لَّآ أَشْهَدُ ۚ قُلْ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ وَإِنَّنِى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ

Qul ayyu syaiin akbaru syahādah, qulillāh, syahīdum bainī wa bainakum, wa ụḥiya ilayya hāżal-qurānu liunżirakum bihī wa mam balag, a innakum latasy-hadụna anna ma'allāhi ālihatan ukhrā, qul lā asy-had, qul innamā huwa ilāhuw wāḥiduw wa innanī barīum mimmā tusyrikụn

Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?” Katakanlah: “Allah”. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?” Katakanlah: “Aku tidak mengakui”. Katakanlah: “Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)”.

Di zaman ketika opini lebih nyaring daripada kebenaran, manusia sering terjebak pada satu ilusi: yang paling viral dianggap paling benar, yang paling kuat dianggap paling layak diikuti. Di titik itulah QS Al-An‘ām: 19 datang seperti palu kesadaran: “Katakanlah: siapakah yang paling besar kesaksiannya? Katakanlah: Allah.” Ayat ini bukan sekadar jawaban teologis atas kaum musyrik; ia adalah koreksi peradaban bagi manusia modern yang sering menjadikan pasar, popularitas, dan ego sebagai hakim terakhir.

Secara filosofis, ayat ini menempatkan fondasi ontologis kebenaran: al-Ḥaqq tidak lahir dari voting manusia. Kebenaran bukan produk kompromi kepentingan, bukan hasil tekanan mayoritas, bukan pula konstruksi citra. Ia bersumber dari Allah, Dzat Yang Mahatahu, Mahaadil, dan Mahabenar. Maka, ketika Allah menjadi saksi atas kerasulan Muhammad ﷺ, itu berarti risalah tidak membutuhkan “stempel legitimasi” dari struktur kuasa manusia. Inilah kemerdekaan paling hakiki: kebenaran tidak tunduk kepada pasar, dan wahyu tidak bergantung pada tepuk tangan publik.

Namun ayat ini tidak berhenti pada deklarasi metafisik. Ia langsung bergerak ke fungsi praksis: “Dan diwahyukan kepadaku Al-Qur’an ini agar aku memberi peringatan kepadamu dengannya, dan kepada siapa pun yang sampai (pesan ini).” Di sini kita melihat wajah akademik Al-Qur’an: wahyu hadir sebagai sumber ilmu, sumber etika, sekaligus sumber transformasi. Peringatan (inzar) bukan teror psikologis, tetapi tindakan penyelamatan—membangunkan manusia dari tidur panjang: tidur syahwat, tidur kesombongan intelektual, dan tidur kelalaian akhirat.

Dalam bahasa populis: Qur’an itu bukan pajangan rak, bukan sekadar bacaan seremoni. Qur’an adalah alarm jiwa. Ia menegur saat kita bengkok, menenangkan saat kita runtuh, menuntun saat kita bingung. Karena itu, ukuran tadabbur bukan seberapa indah suara kita melantunkan ayat, tetapi seberapa jauh ayat mengubah keputusan hidup: dari zalim ke adil, dari riya ke ikhlas, dari keras ke rahmah, dari bingung ke istiqamah.

Frasa “wa man balagh” (“dan siapa pun yang sampai kepadanya”) memiliki daya ledak peradaban yang besar. Ia menegaskan universalitas risalah: pesan Qur’an melintasi etnis, bahasa, zaman, dan teknologi. Dalam kerangka hari ini, “sampainya pesan” bisa terjadi lewat mimbar, buku, kelas, video pendek, bahkan potongan nasihat di gawai. Tetapi konsekuensinya berat: begitu pesan sampai, netralitas moral berakhir. Manusia masuk ke wilayah amanah—belajar, mengamalkan, lalu menyampaikan sesuai ilmu dan adab. Di sinilah hadis “Sampaikan dariku walau satu ayat” menemukan relevansi sosialnya: dakwah bukan monopoli panggung besar, tapi tanggung jawab setiap hati yang disentuh petunjuk.

Jika kita tarik ke ranah spiritualitas, ayat ini mengobati penyakit yang paling senyap: ketergantungan pada validasi manusia. Banyak orang tampak berjuang untuk kebenaran, tetapi di dalam hati masih menunggu pengakuan. QS Al-An‘ām: 19 mendidik kita: cukup Allah sebagai saksi. Bila niat benar, hinaan tak merobohkan; bila hati jernih, pujian tak memabukkan. Ini inti tazkiyah: memindahkan pusat gravitasi jiwa dari “apa kata orang” menjadi “apa nilai di sisi Allah”.

Benang merah ini sejalan dengan corak ulama Sunni kontemporer. Sa‘īd Ḥawwā menekankan bahwa Qur’an harus melahirkan gerak perubahan, bukan berhenti pada romantisme teks. Abdul Halim Mahmud menegaskan jalan ruhani yang berpijak pada akidah lurus: zikir yang benar harus menumbuhkan adab sosial yang benar. Ramadhan al-Būṭī mengingatkan dakwah agar tetap berburhan, ilmiah, berakhlak, dan tidak tergelincir menjadi agitasi kosong. Tiga arus ini bertemu pada satu simpul: aqidah yang sahih melahirkan hati yang bersih, lalu mengalir menjadi amal yang tertib dan kemaslahatan publik.

Di level kebudayaan, ayat ini juga menjadi kritik terhadap “agama simbolik”—agama yang ramai di slogan namun minim di karakter. Kita bisa fasih bicara tauhid, tetapi tetap menyembah “berhala modern”: jabatan tanpa amanah, uang tanpa halal-haram, pengaruh tanpa adab. Padahal ujung ayat menolak syirik secara tegas. Syirik bukan hanya menyembah patung; ia juga hadir saat sesuatu selain Allah menjadi pusat ketaatan tertinggi dalam diri kita. Ketika ego diikuti mutlak, ketika hawa nafsu jadi hukum, ketika gengsi mengalahkan kebenaran—di sanalah “tuhan-tuhan kecil” mengambil alih singgasana hati.

Maka tadabbur atas QS Al-An‘ām: 19 semestinya melahirkan proyek perbaikan yang konkret. Pertama, tauhid epistemik: jadikan Qur’an-Sunnah sebagai rujukan nilai, bukan sekadar dekorasi wacana. Kedua, adab dakwah: menyampaikan kebenaran dengan hikmah, bukan dengan penghinaan. Ketiga, disiplin amal: setiap ayat dicari jejak praksisnya dalam keluarga, profesi, lembaga, dan kebijakan. Keempat, kejujuran niat: bekerja karena Allah, bukan karena panggung. Kelima, tanggung jawab sosial: ilmu yang sampai harus menjadi rahmat, bukan alat superioritas.

Pada akhirnya, ayat ini mengajarkan bahwa iman bukan pelarian dari realitas, tetapi keberanian menata realitas dengan cahaya wahyu. Ketika Allah menjadi saksi tertinggi, manusia tidak lagi mudah dibeli oleh pujian atau ditakut-takuti oleh cemoohan. Ketika Qur’an menjadi peringatan hidup, agama tidak membeku sebagai identitas, melainkan bergerak sebagai peradaban adab. Dan ketika “wa man balagh” disadari sebagai amanah, kita berhenti menjadi penonton sejarah—kita menjadi pelaku kebaikan.

Inilah tadabbur yang kita perlukan hari ini: bukan tadabbur yang hanya menghangatkan emosi sesaat, tetapi tadabbur yang menata cara berpikir, cara merasakan, dan cara bertindak. Dari wahyu ke kesadaran, dari kesadaran ke amal, dari amal ke kemaslahatan.
Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan beragama bukan seberapa keras kita berbicara tentang kebenaran, melainkan seberapa tulus kita tunduk kepada-Nya—Dzat yang kesaksian-Nya paling besar, paling benar, dan paling menyelamatkan.

Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img