BerandaInspirasiNasehatTadabbur QS Faṭir (35): 29, Tilawah, Shalat, Infak: Bisnis Ruhani yang Tak...

Tadabbur QS Faṭir (35): 29, Tilawah, Shalat, Infak: Bisnis Ruhani yang Tak Pernah Rugi

spot_img

KABARLAH.COM – بسم الله الرحمن الرحيم.
اِنَّ الَّذِيْنَ يَتْلُوْنَ كِتٰبَ اللّٰهِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً يَّرْجُوْنَ تِجَارَةً لَّنْ تَبُوْرَۙ ۝٢٩

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an), menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan pernah rugi.”

Di tengah dunia yang menilai manusia dari grafik untung-rugi, Al-Qur’an menghadirkan satu ayat yang menata ulang cara kita menghitung nilai hidup. QS Fāṭir:29 menyebut tiga amal utama—tilawah, shalat, dan infak—lalu menamainya dengan istilah ekonomi: tijārah lan tabūr (perniagaan yang tidak merugi). Ini bukan sekadar gaya bahasa indah. Ini adalah revolusi cara pandang: iman bukan beban ritual, tetapi investasi eksistensial; bukan pelarian dari dunia, tetapi cara paling waras mengelola dunia agar tidak menenggelamkan akhirat.

Ayat ini dimulai dengan “orang-orang yang membaca Kitab Allah.” Dalam makna zahir, tilawah bukan hanya melafazkan huruf, tetapi membaca dengan adab, memahami makna, lalu tunduk pada petunjuk. Tradisi tafsir klasik menempatkan tilawah sebagai gerbang: dari bunyi menuju makna, dari makna menuju amal. Karena itu, ukuran tilawah bukan sekadar berapa halaman selesai, melainkan berapa kebiasaan buruk yang mulai luruh. Banyak orang fasih membaca, tetapi hidupnya masih dipimpin ego. Di sini tadabbur menegur: bacaan yang benar semestinya melahirkan keberanian moral—berani jujur, berani adil, berani menahan diri dari yang haram meski menguntungkan secara cepat.

Lalu ayat menyebut “menegakkan shalat.” Kata yang dipakai bukan “melakukan,” tetapi “menegakkan”—sebuah kata yang membawa makna kualitas, kontinuitas, dan integritas. Shalat yang ditegakkan itu mengatur waktu, menata jiwa, dan menertibkan prioritas. Dalam bahasa populer: shalat bukan jeda dari hidup, shalat adalah pusat dari hidup. Jika shalat hanya berhenti di gerak badan tanpa efek akhlak, maka yang berdiri baru tubuh, belum hati. Padahal Al-Qur’an sendiri menegaskan fungsi moral shalat: mencegah fahsya’ dan munkar. Jadi shalat bukan sekadar kewajiban vertikal, melainkan pelatihan etika horizontal—supaya sesudah salam, lisan lebih bersih, janji lebih tepat, amanah lebih rapi.

Pilar ketiga ayat ini adalah infak: “dari rezeki yang Kami berikan, secara sembunyi dan terang-terangan.” Frasa ini menyembuhkan ilusi modern tentang kepemilikan. Al-Qur’an tidak berkata “dari apa yang mereka miliki,” tetapi “dari apa yang Kami rezekikan.” Artinya, kita bukan pemilik mutlak; kita pengelola amanah. Ketika amanah itu dibagikan, yang tumbuh bukan hanya pahala personal, tetapi ekologi sosial: kepercayaan, solidaritas, dan keadilan. Infak sembunyi menjaga ikhlas; infak terbuka menghidupkan teladan. Dua-duanya dibutuhkan. Yang satu menjaga batin, yang satu menggerakkan masyarakat.

Setelah tiga amal itu, ayat menutup dengan orientasi: “mengharap perniagaan yang tidak rugi.” Inilah titik filosofis paling dalam. Manusia modern terbiasa melihat untung sebagai akumulasi: makin banyak dikumpulkan, makin aman. Ayat ini membalik: keamanan sejati bukan pada apa yang ditumpuk, tapi pada apa yang dipersembahkan. Harta bisa lenyap, reputasi bisa turun, tubuh bisa menua, pasar bisa runtuh—tetapi amal yang ikhlas tidak pernah bangkrut. Itulah makna lan tabūr: tidak kolaps oleh krisis ekonomi, tidak hangus oleh perubahan rezim, tidak musnah oleh kematian. Ia tersimpan dalam “sistem nilai” Allah yang sempurna adil dan sempurna rahmah.

Dalam kerangka akademik, ayat ini dapat dibaca sebagai model “ekonomi spiritual” yang utuh. Tilawah membangun fondasi epistemik—bagaimana manusia mengetahui benar dan salah. Shalat membangun regulasi psikologis—bagaimana manusia mengelola dorongan, emosi, dan disiplin waktu. Infak membangun dimensi sosial-ekonomi—bagaimana keberagamaan berbuah redistribusi dan perlindungan martabat manusia. Lalu orientasi akhirat menghadirkan horizon teleologis—bahwa tindakan hari ini harus dibaca dalam rentang jangka panjang, bukan sekadar laba sesaat. Ini menjelaskan mengapa ayat ini begitu relevan untuk keluarga, lembaga pendidikan, bahkan kepemimpinan publik: ia menyatukan integritas pribadi dan tanggung jawab sosial.

Secara batin, ayat ini juga merupakan terapi bagi jiwa yang cemas. Banyak kecemasan lahir karena manusia meletakkan seluruh harapannya pada variabel dunia yang rapuh: gaji, jabatan, pengakuan, statistik. Al-Qur’an memindahkan pusat harap ke janji Allah. Bukan berarti mengabaikan ikhtiar duniawi, tetapi menolak menjadikan dunia sebagai satu-satunya sumber makna. Ketika seseorang hidup dengan tiga pilar ayat ini, ia tidak mudah hancur oleh kehilangan. Mengapa? Karena ia sadar nilai dirinya tidak ditentukan oleh apa yang hilang dari tangan, melainkan oleh apa yang tetap hidup di sisi Allah.

Benang merah ulama klasik dan kontemporer juga bergerak ke titik yang sama: agama bukan simbol pasif. Tilawah harus melahirkan kesadaran, shalat melahirkan ketundukan, infak melahirkan keadaban sosial. Spirit tarbawi menekankan produktivitas iman; spirit tazkiyah menekankan ikhlas dan kebersihan hati; spirit dakwah menekankan adab sosial dan rahmah. Maka rumus sederhananya: wahyu mencerahkan akal, shalat menstabilkan jiwa, infak memanusiakan masyarakat.

Lalu bagaimana ayat ini turun ke level amal harian? Mulailah dengan hal kecil tetapi istiqamah. Satu: tilawah harian disertai satu keputusan praktis—misalnya hari ini menjaga lisan dari ghibah. Dua: jadikan waktu shalat sebagai “paku jadwal,” bukan aktivitas sisipan. Tiga: tetapkan infak rutin mingguan, walau kecil. Empat: kombinasikan amal sunyi (agar hati ikhlas) dan amal sosial (agar manfaat meluas). Lima: lakukan audit niat bulanan—masih karena Allah atau mulai karena citra. Enam: hidupkan budaya rumah Qur’ani: baca bersama, shalat berjamaah, dan program berbagi keluarga.

Pada akhirnya, QS Fāṭir:29 mengajarkan bahwa hidup ini memang pasar—tetapi kita bebas memilih pasar mana. Ada pasar yang ramai hari ini lalu tutup esok; ada pasar ilahi yang mungkin sunyi dari tepuk tangan manusia tetapi tidak pernah rugi. Di pasar pertama, orang menukar integritas dengan popularitas. Di pasar kedua, orang menukar ego dengan ridha Allah. Di pasar pertama, laba cepat sering dibayar dengan kehampaan batin. Di pasar kedua, pengorbanan hari ini dibayar dengan ketenangan yang panjang.

Maka, jangan tunggu sempurna untuk memulai. Mulailah dari tilawah yang jujur, shalat yang diperjuangkan khusyuknya, dan infak yang konsisten. Karena saat ayat ini benar-benar hidup, kita tidak lagi bertanya: “Berapa yang sudah saya kumpulkan?” Kita mulai bertanya yang lebih dalam: “Apa yang sudah saya kirim untuk bertemu Allah?”

Itulah tijārah lan tabūr—bisnis ruhani yang tak pernah rugi.

Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img