BerandaInspirasiNasehatKesaksian Tauhid di Hari Pengadilan: Isa Berlepas Diri dari Ghuluw

Kesaksian Tauhid di Hari Pengadilan: Isa Berlepas Diri dari Ghuluw

spot_img

KABARLAH.COM, Pekanbaru – Tadabbur QS Al-Ma’idah (5): 116, Allah SWT berfirman:

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.

وَاِذْ قَالَ اللّٰهُ يٰعِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ ءَاَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوْنِيْ وَاُمِّيَ اِلٰهَيْنِ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِۗ قَالَ سُبْحٰنَكَ مَا يَكُوْنُ لِيْٓ اَنْ اَقُوْلَ مَا لَيْسَ لِيْ بِحَقٍّۗ اِنْ كُنْتُ قُلْتُهٗ فَقَدْ عَلِمْتَهٗۗ تَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِيْ وَلَآ اَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِكَۗ اِنَّكَ اَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوْبِ ۝١١٦
wa idz qâlallâhu yâ ‘îsabna maryama a anta qulta lin-nâsittakhidzûnî wa ummiya ilâhaini min dûnillâh, qâla sub-ḫânaka mâ yakûnu lî an aqûla mâ laisa lî biḫaqq, ing kuntu qultuhû fa qad ‘alimtah, ta‘lamu mâ fî nafsî wa lâ a‘lamu mâ fî nafsik, innaka anta ‘allâmul-ghuyûb.

(Ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam, apakah engkau mengatakan kepada orang-orang, ‘Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?’” Dia (Isa) menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa pun yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa pun yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa pun yang ada pada diri-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.”

Ada momen di Hari Kiamat yang digambarkan Al-Qur’an dengan sangat mengguncang: bukan sekadar pengadilan amal, tetapi pengadilan akidah—ketika kebenaran dibuka di hadapan seluruh makhluk. QS Al-Mā’idah (5): 116 menampilkan “sidang terbuka” yang meluruskan satu penyimpangan terbesar dalam sejarah: pengultusan Nabi Isa عليه السلام dan ibundanya hingga melampaui batas tauhid. Allah bertanya kepada Isa: “Apakah engkau berkata kepada manusia: jadikan aku dan ibuku dua sesembahan selain Allah?” Isa menjawab dengan adab tertinggi: “Mahasuci Engkau! Tidak pantas bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku mengatakannya, tentu Engkau mengetahuinya…” Ini bukan karena Allah membutuhkan informasi—Allah Mahatahu—melainkan untuk menegakkan hujjah, membongkar kebohongan, dan membersihkan para nabi dari tuduhan yang tidak mereka ajarkan.

Pada tingkat zahir—bahasa umat—ayat ini mengajarkan satu pelajaran yang tajam: figur yang dikultuskan akan berlepas diri dari kultus itu. Isa yang dipuja sebagai “tuhan” justru tampil sebagai hamba yang paling tunduk. Ia memulai jawabannya dengan tasbih: “Subḥānaka”—mensucikan Allah dari segala sekutu. Seolah ia berkata: “Betapa agung Engkau; mustahil aku berani mengajarkan manusia menyembah selain-Mu.” Lalu ia menutup pintu kemungkinan itu: “tidak layak bagiku.” Ini adab seorang nabi: ketika perkara menyangkut syirik, langkah pertama adalah membersihkan Allah dari segala sangkaan, baru kemudian menjelaskan. Ayat ini menegaskan bahwa para nabi adalah pembawa tauhid; penyimpangan terjadi pada pengikut yang melampaui batas.

Pesan populisnya sangat relevan untuk umat Islam juga: ghuluw—berlebih-lebihan dalam memuliakan manusia saleh—adalah jalan licin menuju syirik. Islam memuliakan nabi, mencintai ulama, menghormati orang tua, dan memuliakan wali-wali Allah. Tetapi Islam memasang pagar: jangan ada satu makhluk pun yang diberi sifat ketuhanan, atau dijadikan sandaran batin seperti “tuhan kecil”. Karena itu Nabi ﷺ memberi peringatan yang amat jelas: “Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku sebagaimana kaum Nasrani berlebih-lebihan memuji putra Maryam. Aku hanyalah hamba. Maka katakanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya.” Ini bukan merendahkan Nabi ﷺ, justru menjaga kemuliaan beliau tetap berada di koridor ubudiyah—kemuliaan tertinggi seorang manusia.

Ayat ini juga menyambung dengan garis besar misi Isa dalam Al-Qur’an. Isa mengajarkan tauhid: “Sembahlah Allah, Rabb-ku dan Rabb kalian.” Dan sejak bayi Isa menegaskan identitasnya: “Aku adalah hamba Allah.” Jadi QS 5:116 tidak menyerang Isa; ia membela Isa dari ajaran yang tidak ia bawa. Ia membebaskan Isa dari fitnah teologis yang dibangun oleh sebagian pengikutnya.

Secara akademik, para mufassir Sunni menegaskan hikmah pertanyaan Allah. Al-Baghawī menjelaskan bahwa pertanyaan itu bukan untuk mengetahui, melainkan sebagai bentuk penegasan dan penampakan kebatilan: seperti seseorang bertanya “apakah kamu melakukan ini?” padahal ia tahu tidak—untuk menampakkan kesalahan pihak lain dan menunjukkan bahayanya. Ibn Kathīr menjelaskan dialog ini sebagai ancaman dan teguran bagi orang yang menjadikan Isa dan ibunya sebagai sesembahan; Isa menjawab untuk membersihkan diri di hadapan “para saksi”, agar kebenaran tegak secara publik.

Para ulama juga menyoroti adab jawaban Isa. Al-Qurṭubī menukil bahwa Isa memulai dengan tasbih karena dua makna: (1) mensucikan Allah dari sekutu, dan (2) menunjukkan ketundukan dan rasa takut kepada kebesaran Allah—adab ketika menyebut perkara syirik. Sebagian penjelasan menyebut “getaran” (rasa gentar) Isa ketika pertanyaan itu dibacakan—menunjukkan betapa beratnya perkara syirik bagi seorang nabi. Tafsir al-Wasīṭ menegaskan keindahan adab Isa: ia tidak menjawab dengan gaya defensif “aku tidak pernah berkata begitu”, melainkan menafikan kelayakan itu dari dirinya dan mengembalikan ilmu sepenuhnya kepada Allah yang Maha Mengetahui gaib. Ini adab puncak: mengakui kelemahan hamba di hadapan ilmu Allah.

Bagian yang sering ditanyakan adalah: mengapa disebut “aku dan ibuku” sebagai dua sesembahan? Sebagian orang beranggapan “tidak ada yang menyembah Maryam.” Para ulama memberi beberapa arah penjelasan: ada yang menyebutnya sebagai ilzām (konsekuensi logis) dari menuhankan Isa; ada yang memandangnya sebagai penamaan “ilah” karena pengagungan berlebihan yang menyerempet ibadah; dan ada pula yang menyebut kemungkinan adanya kelompok yang mengultuskan Maryam. Intinya, ayat ini menutup semua pintu pengangkatan makhluk ke derajat ilahi—baik eksplisit maupun tersamar lewat kultus.

Makna batin ayat ini adalah pendidikan hati tentang tiga disiplin tauhid. Pertama, memuliakan tanpa mengultuskan. Cinta kepada orang saleh harus melahirkan ittiba’ (mengikuti), bukan pengkultusan; hormat harus melahirkan adab, bukan ketergantungan batin. Kedua, adab ketika fitnah akidah muncul: mulai dengan “Subḥānaka”—bersihkan Allah dari sangkaan, lalu luruskan dengan hujjah dan rahmah. Ketiga, muraqabah: “Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku…” menanamkan rasa bahwa Allah mengetahui batin. Bahaya terbesar bukan hanya kata-kata syirik, tetapi kecenderungan hati yang mencari sandaran selain Allah—seperti menggantungkan keselamatan pada makhluk, menuhankan sebab, atau menjadikan figur sebagai pengganti tawakal.

Secara filosofis, QS 5:116 mengajarkan bahwa kebenaran agama tidak boleh dibangun di atas mitos dan kultus, tetapi di atas kesaksian tauhid yang jernih. Manusia memang butuh teladan, namun ketika kebutuhan teladan berubah menjadi kebutuhan “tuhan”, teladan digeser menjadi ilah. Ayat ini menunjukkan mekanisme koreksi ilahi: pada akhirnya, figur yang dikultuskan akan bersaksi bahwa ia hanyalah hamba—dan kebohongan runtuh oleh kesaksian yang paling jujur.

Dalam nada pembinaan ruhani Sunni kontemporer, pesan utamanya adalah ittiba’ Qur’an–Sunnah dan tazkiyatun-nafs agar iman tidak tergelincir menjadi ghuluw. Metode “Tadabbur wa ‘Amal” menuntut ayat ini menjadi latihan: membersihkan ghuluw, meluruskan konsep tauhid, dan melatih adab dakwah. Lensa “Al-Fathu Nawa” (cermin–gerak–rahmat) bisa diterapkan: cermin—apakah aku mengkultuskan makhluk? gerak—kembali ke tauhid murni dengan amal; rahmat—Allah membukakan jalan lurus bagi yang kembali.

Amal operasionalnya sederhana namun tajam: audit ghuluw; kuatkan kalimat tauhid dengan tadabbur ayat-ayat tauhid; luruskan akidah dengan adab (tasbih, hujjah, rahmah); dan pegang wasiat Nabi ﷺ agar cinta tetap dalam koridor ubudiyah. Semoga Allah menjaga kita dari syirik yang terang maupun tersamar, dan meneguhkan kita pada tauhid yang murni.

Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img