KABARLAH.COM – Tadabbur QS Al-Ma’idah (5): 35:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱبْتَغُوٓا۟ إِلَيْهِ ٱلْوَسِيلَةَ وَجَٰهِدُوا۟ فِى سَبِيلِهِۦ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha wabtagū ilaihil-wasīlata wa jāhidụ fī sabīlihī la’allakum tufliḥụn
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.”
Ada satu kerinduan yang paling fitri pada diri manusia: rindu untuk dekat kepada Allah. Namun tidak semua “rindu” otomatis menjadi “dekat”. Rindu bisa berubah menjadi angan, bila tidak menemukan jalannya. QS Al-Mā’idah (5): 35 datang sebagai peta pulang yang ringkas tapi lengkap: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, carilah wasilah untuk mendekat kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya agar kalian beruntung (tufliḥūn).” Tiga perintah—taqwa, wasilah, jihad—disatukan oleh satu tujuan: falah. Ini bukan sekadar ayat motivasi; ini metodologi kedekatan kepada Allah.
Secara zahir, ayat ini mengajari bahwa kedekatan bukan lahir dari perasaan semata, melainkan dari jalan yang Allah ridai. Banyak orang ingin dekat, tetapi tidak mau menutup pintu dosa; ingin tenang, tetapi tidak mau menata adab; ingin terkabul doa, tetapi enggan membenahi hubungan dengan Allah. Karena itu, ayat ini memulai dengan ittaqullāh—bertakwalah. Taqwa adalah fondasi: pasang “rem” pada yang haram, pasang “kompas” pada yang halal. Taqwa bukan hanya menjauhi dosa besar; ia juga menjaga hal-hal kecil yang merusak hati: kebohongan halus, riya’ yang disimpan, zalim yang dianggap wajar, dan lisan yang tak terjaga. Tanpa taqwa, amal bisa tampak indah tetapi rapuh, karena tercampur niat yang rusak.
Setelah fondasi diletakkan, Allah berfirman: wabtaghū ilaihi al-wasīlah—carilah wasilah untuk mendekat kepada-Nya. Di sinilah ayat ini sangat menyeimbangkan. Islam tidak melarang kerinduan spiritual, tetapi Islam mengarahkan kerinduan itu agar menempuh jalur yang benar. “Wasilah” bukan simbol kosong; ia adalah sarana pendekatan. Dalam pemahaman mayoritas mufassir Sunni, wasilah bermakna al-qurbah: segala amal ketaatan yang mendekatkan kepada Allah—shalat, sedekah, puasa, zikir, doa, bakti kepada orang tua, menyambung silaturahim, memperbaiki akhlak, menahan amarah, dan menunaikan amanah. Karena itu, kedekatan bukan mistik bebas; ia disiplin ibadah dan akhlak yang terukur.
Ayat ini juga menutup salah paham yang sering muncul: seolah “wasilah” membolehkan pendekatan yang tidak berdalil. Tafsir Sunni menegaskan: wasilah harus berada dalam koridor tauhid dan syariat. Artinya, apa pun jalan kedekatan harus sesuai dengan apa yang Allah syariatkan—bukan sekadar “terasa khusyuk”, bukan sekadar “kata orang ampuh”, bukan sekadar tradisi yang tidak jelas sandarannya. Di sinilah adab ilmiah bertemu adab ruhani: rindu perlu dalil, dan dalil perlu rindu agar hidup.
Lalu Allah menutup peta itu dengan perintah ketiga: wajāhidū fī sabīlih—berjihadlah di jalan-Nya. Ini penegasan yang realistis: kedekatan kepada Allah tidak terjadi tanpa mujahadah. Banyak orang tahu jalan, tetapi tidak kuat berjalan. Banyak orang mengerti kebaikan, tetapi kalah oleh malas. Maka jihad di sini luas: jihad melawan nafsu, jihad menegakkan ketaatan, jihad dakwah dan amal sosial, serta jihad qitāl pada kondisi dan syarat yang ditetapkan syariat. Dalam struktur ayat, jihad diletakkan setelah wasilah seakan berkata: “jalan kedekatan itu ada, tetapi ia menuntut tenaga dan keteguhan.”
Kita bisa melihat contoh “wasilah” yang disepakati melalui hadis yang sangat kuat: kisah tiga orang yang terjebak di gua. Mereka tidak bertawassul dengan klaim-klaim kosong, melainkan dengan amal saleh yang nyata: bakti kepada orang tua, menjaga diri dari zina padahal mampu, dan amanah dalam mengembalikan hak pekerja. Mereka berdoa dengan menyebut amal tersebut semata-mata karena Allah—dan Allah membukakan jalan selamat. Ini adalah pelajaran besar: ketika amal menjadi wasilah, doa menjadi jernih; dan ketika doa jernih, pertolongan Allah dekat.
Nabi ﷺ juga memberi ukuran yang sangat praktis untuk wasilah: “Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu walau sedikit.” Artinya, kedekatan sering dibangun dari hal kecil yang dijaga setiap hari. Dua rakaat yang konsisten lebih membentuk jiwa daripada sepuluh rakaat yang sekali-sekali. Istighfar yang rutin lebih menenangkan daripada ledakan zikir yang sesekali. Sedekah yang diam-diam lebih menyuburkan hati daripada proyek besar yang dibanggakan. Wasilah bukan tentang sensasi; ia tentang istiqamah.
Masuk ke makna batin, ayat ini adalah pendidikan hati tentang jalan mendekat yang benar. Pertama, taqwa sebagai pagar batin: banyak orang ingin dekat, tetapi masih memelihara dosa; padahal dosa adalah tembok. Taqwa adalah keberanian mengatakan “tidak” pada yang haram. Kedua, wasilah sebagai peta rindu: rindu yang benar harus punya jalur, dan jalurnya adalah amal. Wasilah adalah bukti rindu: shalat dijaga, istighfar hidup, sedekah diam-diam, akhlak dibenahi. Ketiga, jihad sebagai energi istiqamah: kedekatan memerlukan perlawanan terhadap diri sendiri—mengalahkan malas, menundukkan ego, memutus kebiasaan dosa, dan menggantinya dengan kebiasaan taat.
Secara filosofis, QS 5:35 mengintegrasikan empat hal: pagar (taqwa), jalan (wasilah), tenaga (jihad), dan tujuan (falah). Ia menolak dua ekstrem: spiritualitas perasaan tanpa disiplin syariat, dan aktivisme kering tanpa orientasi mendekat kepada Allah. Ayat ini menegaskan bahwa kedekatan kepada Allah adalah proyek etis: ada aturan, metode, dan kerja. Dan falah bukan sekadar sukses dunia, tetapi keberuntungan komprehensif: selamat dari murka Allah, meraih ridha-Nya, dan pulang dengan hati yang tenang.
Kerangka “Tadabbur wa ‘Amal” mengajak ayat ini menjadi program harian, bukan slogan. Maka amal operasionalnya sederhana namun tajam: pilih satu dosa yang ditinggalkan tegas hari ini (taqwa); pilih dua amal pendekatan harian yang realistis (wasilah); pilih satu kebiasaan yang dilawan (jihad); lalu evaluasi tujuh hari: apakah hati makin dekat, akhlak membaik, dosa berkurang (falah). Di sinilah rindu berubah menjadi jalan; dan jalan, insyaAllah, menjadi perjumpaan.
Allāhumma a‘innā ‘alā dhikrika wa syukrika wa ḥusni ‘ibādatik. Āmīn.
Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



