KABARLAH.COM – Tadabbur QS An-Nisā’ (4): 125, Allah SWT berfirman:
وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَٱتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَٱتَّخَذَ ٱللَّهُ إِبْرَٰهِيمَ خَلِيلًا
Wa man aḥsanu dīnam mim man aslama waj-hahụ lillāhi wa huwa muḥsinuw wattaba’a millata ibrāhīma ḥanīfā, wattakhażallāhu ibrāhīma khalīlā
” Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.”
Banyak orang mengukur “agama” dari hal yang terlihat: identitas, simbol, atau seberapa lantang ia berbicara tentang kebenaran. Tetapi Al-Qur’an mengajukan pertanyaan yang membongkar ukuran-ukuran semu itu: “Siapa yang lebih baik agamanya…?” (QS 4:125). Pertanyaan ini retoris—maknanya tegas: tidak ada yang lebih baik daripada agama yang memenuhi tiga ciri:
Pertama. berserah total kepada Allah,
Kedua. berbuat ihsan, dan
Ketiga. mengikuti millah Ibrahim yang hanif—lalu Allah menutup ayat dengan puncak teladan: Ibrahim adalah khalīlullah, kekasih istimewa Allah. Seolah Allah berkata: jika kamu ingin tahu kualitas agama, lihatlah orientasi hidupmu, kualitas amalmu, dan kemurnian tauhidmu.
Pada tingkat zahir, ayat ini menjawab “rumus” agama terbaik dengan sangat praktis. Pertama: aslama wajhahu lillāh—menyerahkan wajah kepada Allah. “Wajah” dalam bahasa Arab bukan sekadar bagian tubuh; ia melambangkan arah diri. Menyerahkan wajah berarti menyerahkan orientasi: keputusan, langkah, dan tujuan hidup. Berserah bukan hanya saat butuh atau saat terdesak, tetapi sebagai gaya hidup: dalam ibadah, kerja, keluarga, dan akhlak. Inilah ikhlas yang membumi: bukan ikhlas yang hanya dirasakan, tetapi ikhlas yang terlihat dalam pilihan-pilihan.
Kedua: wa huwa muḥsin—sementara ia berbuat ihsan. Al-Qur’an tidak berhenti pada “tunduk”; Allah menuntut “indah”. Ihsan bukan sekadar baik hati, melainkan kualitas tertinggi dalam beragama. Nabi ﷺ menjelaskan ihsan: “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya; jika engkau tidak melihat-Nya, maka Dia melihatmu.” Ihsan adalah kesadaran pengawasan ilahi (muraqabah) yang membuat amal menjadi jujur, rapi, dan bersih. Orang yang berihsan bukan hanya melakukan yang benar, tetapi melakukannya dengan ruh yang benar—tanpa kecurangan, tanpa kelalaian, tanpa “sekadar selesai”.
Ketiga: wattaba‘a millata Ibrāhīma ḥanīfā—mengikuti millah Ibrahim yang hanif. Hanif adalah lurus: condong meninggalkan syirik menuju tauhid murni. Di sini Al-Qur’an memasang pagar: penyerahan diri tidak boleh berubah menjadi spiritualitas tanpa arah; ia harus berjalan di rel tauhid yang bersih, sebagaimana Ibrahim menolak semua sesembahan selain Allah. Artinya, “agama terbaik” bukan emosi religius semata, tetapi manhaj: jalan iman yang jelas, lurus, dan berakar.
Lalu Allah menutup ayat: “Dan Allah menjadikan Ibrahim sebagai khalīl.” Ini bukan sekadar pujian historis; ini pemberitahuan maqam. Khullah adalah bentuk kedekatan yang sangat istimewa. Secara akademik, para ulama menjelaskan bahwa Ibrahim mencapai maqam itu melalui ketaatan total dan keteguhan tauhid. Dengan kata lain, kedekatan kepada Allah bukan hadiah tanpa sebab; ia buah dari “aslama wajhahu” dan “ihsan” yang konsisten.
Jika kita masuk lebih dalam ke makna batin—tanpa keluar dari pagar Ahlus Sunnah—ayat ini adalah kurikulum tazkiyah: ketundukan yang indah. Ada tiga lapisan penyucian jiwa. Pertama, ikhlas orientasi: hati tidak bercabang; Allah menjadi tujuan, bukan sekadar “alat” untuk tujuan dunia. Banyak orang berdoa agar urusannya lancar, tetapi lupa menata orientasi agar Allah menjadi pusat, bukan pelengkap. QS 4:125 menata ulang pusat itu: wajahmu harus menghadap Allah, bukan menghadap pujian manusia.
Kedua, muraqabah kualitas: ihsan membuat amal kecil bernilai besar. Kadang kita merasa “amal saya kecil”, padahal Allah menilai kualitasnya. Amal yang sama—sedekah yang sama, shalat yang sama, pekerjaan yang sama—bisa berubah bobotnya ketika dilakukan dengan kesadaran “Dia melihatku”. Inilah yang membuat ihsan menjadi puncak: ia menghidupkan agama dari dalam, sehingga agama tidak tinggal menjadi rutinitas.
Ketiga, hanifiyah kemurnian: tauhid yang bersih dari ketergantungan batin. Syirik tidak selalu tampil sebagai patung; kadang ia tampil sebagai ketergantungan pada penilaian manusia, takut berlebihan pada makhluk, atau cinta dunia yang mengendalikan pilihan. Hanif berarti mencondongkan hati kembali: “Allah dulu”, “ridha Allah dulu”, “kebenaran dulu”. Jika tiga lapisan ini menyatu, lahirlah agama terbaik: bukan agama yang membuat pelakunya tinggi hati, tetapi agama yang membuat pelakunya paling tunduk, paling jujur, paling bermanfaat.
Secara filosofis, QS 4:125 menolak dua ekstrem yang sering merusak peradaban. Ekstrem pertama: ritual tanpa akhlak—tunduk lahir, namun batin tidak dibentuk; ibadah ada, tetapi kejujuran runtuh; zikir ramai, tetapi amanah bocor. Ekstrem kedua: akhlak tanpa tauhid—kebaikan sosial yang bagus, tetapi tidak berakar pada penyerahan kepada Allah; ia mudah berubah menjadi proyek ego atau pencarian nama. Ayat ini menegaskan integrasi: total submission + excellence (ihsan) + manhaj tauhid (Ibrahim). Agama bukan hanya identitas, melainkan pembentukan manusia.
Nuansa ulama kontemporer juga sejalan: Ramadan al-Buthi sering menekankan ihsan sebagai rasa kehadiran Allah yang menghidupkan amal di seluruh ruang hidup, bukan hanya di sajadah. Abdul Halim Mahmud dikenal menaruh perhatian besar pada tazkiyah dan akhlak; tidak heran bila ihsan dipahami sebagai inti kualitas Islam. Dan Said Hawwa, dalam corak tarbiyah-dakwahnya, dapat dibaca menegaskan: ayat ini bukan teori, tetapi kurikulum pembentukan insan: ikhlas, ihsan, istiqamah di jalan hanif.
Kerangka “Al-Qur’an: Tadabbur wa ‘Amal” mengingatkan bahwa tadabbur tidak boleh berhenti di pemahaman; ia harus berubah menjadi latihan. Maka amal praktisnya sangat jelas:
(1) sebelum aktivitas, niatkan “ini untuk Allah”;
(2) pilih satu amal harian dan kerjakan dengan standar ihsan—jujur, rapi, tuntas;
(3) tinggalkan satu ketergantungan batin yang mengganggu tauhid (riya, pamer, takut manusia);
(4) teladani Ibrahim: tegas pada tauhid, lembut pada manusia, kokoh dalam ujian;
(5) doakan: “Ya Allah, jadikan aku termasuk muhsinin.”
Akhirnya, ayat ini memberi kabar gembira yang halus: agama terbaik itu mungkin diraih siapa pun—selama ia mau menata orientasi, memperindah amal, dan memurnikan tauhid. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang “aslama wajhahu”, muhsin, dan berjalan di jejak Ibrahim—hingga hidup bukan sekadar panjang, tetapi bermakna di sisi-Nya.
Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab



