BerandaInspirasiNasehatTadabbur QS An-Nisa (4): 48

Tadabbur QS An-Nisa (4): 48

spot_img

KABARLAH.COM – “اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا ۝٤٨
innallâha lâ yaghfiru ay yusyraka bihî wa yaghfiru mâ dûna dzâlika limay yasyâ’, wa may yusyrik billâhi fa qadiftarâ itsman ‘adhîmâ.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa pun yang mempersekutukan Allah sungguh telah berbuat dosa yang sangat besar.”

“Garis Merah Tauhid: Syirik Tidak Diampuni Tanpa Taubat, Selainnya Masih dalam Rahmat”

Ada ayat yang berdiri seperti “papan peringatan” di jalan hidup: bukan untuk menakut-nakuti tanpa harapan, tetapi untuk menyelamatkan kita dari jurang paling dalam. QS. An-Nisā’ (4): 48 menegaskan satu kaidah besar: Allah tidak mengampuni syirik—yakni jika seseorang bertemu Allah dalam keadaan syirik tanpa taubat—sementara dosa selain syirik berada di bawah kehendak Allah: bisa diampuni, bisa dibalas dengan keadilan-Nya, namun pintu rahmat tetap terbuka. Ayat ini meletakkan tauhid sebagai fondasi: bila fondasi runtuh, bangunan amal tak punya pijakan.

Populis: Allah sedang melindungi kita dari “dosa yang membatalkan arah”

Dalam bahasa umat, syirik itu bukan sekadar “kesalahan ritual”; ia adalah salah arah. Seperti orang yang menempuh jalan panjang, tapi kompasnya rusak: sekuat apa pun langkahnya, ia berjalan menjauh dari tujuan. Syirik berarti memindahkan hak tertinggi—ibadah, doa, takut, harap, ketundukan mutlak—dari Allah kepada selain-Nya. Itulah sebabnya ayat ini tegas: bukan karena Allah “tidak mau mengampuni”, tetapi karena syirik adalah penolakan paling mendasar terhadap hak Allah.

Namun ayat ini tidak membuat kita putus asa. Justru di tengah ketegasan itu, Allah membuka harapan: “dan Dia mengampuni selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” Artinya, sebesar apa pun dosa seorang bertauhid—jika ia tidak membawa syirik dan Allah menghendaki—dia masih berada dalam jangkauan ampunan. Maka ayat ini bukan “pintu tertutup”, melainkan “pintu yang ditata”: tauhid dulu, lalu amal.

Pada level batin, ayat ini juga mengingatkan tentang “berhala halus”: ketergantungan total kepada makhluk, seolah-olah makhluk menjadi penentu mutlak rezeki, keselamatan, dan masa depan. Islam membolehkan kita mengambil sebab, bekerja, mencari jaringan; tetapi hati tidak boleh “menyembah sebab”. Di sinilah syirik kadang mulai dari batin: bukan patung, tetapi rasa bergantung yang mematikan tawakkal.

Akademik: kaidah Ahlus Sunnah tentang pelaku dosa besar

Para ulama Ahlus Sunnah menjadikan ayat ini sebagai salah satu dalil utama tentang status pelaku dosa besar: selain syirik, mereka berada “taḥta al-masyī’ah”—di bawah kehendak Allah. Bila Allah berkehendak, Dia mengampuni; bila Allah berkehendak, Dia mengazab sesuai hikmah dan keadilan; namun orang bertauhid tidak kekal di neraka. Ini menjaga kita dari dua ekstrem:

ekstrem pertama: mengkafirkan pelaku dosa besar secara mutlak,

ekstrem kedua: meremehkan dosa karena “toh masih bisa diampuni”.

Ayat paralelnya (QS 4:116) mengulang kaidah yang sama—menunjukkan bahwa ini bukan pesan sampingan, tetapi prinsip yang berkali-kali ditekankan: syirik tanpa taubat adalah bencana akhir, sedangkan selain syirik masih ada ruang rahmat.

Al-Sa‘dī menambahkan dimensi tarbiyah: ampunan atas dosa selain syirik bisa terjadi melalui banyak sebab yang Allah tetapkan: taubat, amal shalih, musibah yang menggugurkan dosa, doa kaum mukmin, dan syafa’at dengan izin Allah. Tetapi semua sebab itu berputar pada satu poros: tauhid. Jadi “mengampuni selain syirik” bukan berarti dosa itu remeh; itu berarti Allah Maha Pemurah terhadap أهل التوحيد, tanpa menghilangkan keadilan-Nya.

Hadits yang menenangkan juga sejalan: siapa yang datang kepada Allah tidak menyekutukan-Nya, dia berada dalam janji keselamatan—meski mungkin masih melewati proses hisab atau pembersihan dosa—semua tetap dalam genggaman kehendak Allah. Dan ini harus dibaca bersama kaidah lain: syirik pun bisa diampuni jika bertaubat sebelum mati. Jadi ketegasan ayat 4:48 adalah ketegasan terhadap syirik yang dibawa sampai mati, bukan penutupan pintu taubat bagi orang yang masih hidup.

Filosofis: syirik sebagai kerusakan “peta realitas”

Secara filosofis, ayat ini menempatkan syirik sebagai kerusakan paling mendasar pada pemetaan wujud. Tauhid adalah pengakuan bahwa yang mutlak hanya Allah: sumber nilai, sumber hukum, sumber makna. Syirik memindahkan kemutlakan itu ke yang relatif: manusia, benda, kekuasaan, tradisi, atau energi gaib. Maka syirik disebut “iftirā’ itsman ‘azhīmā”—kedustaan besar—karena ia memalsukan kenyataan: yang lemah diperlakukan seakan-akan maha kuasa.

Dari sisi jiwa, tauhid menyatukan batin: satu kiblat, satu pusat nilai. Syirik memecah batin: banyak “tuhan kecil” yang harus dipuaskan. Hasilnya: kecemasan kronis, karena sandaran hati adalah sesuatu yang rapuh. Karena itu ayat ini adalah terapi: kembalikan pusat rasa aman kepada Allah. Ketika Allah menjadi satu-satunya “yang absolut”, hidup menjadi jernih: kita tetap bekerja dan mengambil sebab, tetapi kita tidak menuhankan sebab.

Jejak ulama kontemporer: tarbiyah, kedekatan, dan keseimbangan

Syekh Said Hawwa—dalam corak tarbiyah tafsirnya—sering menekankan bahwa pembinaan iman harus dimulai dari fondasi: luruskan tauhid, baru bangun amal. Ayat 4:48 tepat menjadi “batu pertama” pendidikan: jangan biarkan amal banyak tapi pondasi rusak.

Syekh Ali ‘Abdul Halim Mahmud menekankan tarbiyah ruhiyah yang melahirkan “kedekatan kepada Allah”. Dalam cahaya ayat ini, kedekatan itu bukan sekadar rasa; ia menghasilkan kewaspadaan: hati takut menodai tauhid, namun tetap berharap pada rahmat Allah.

Syekh Ramadhan al-Būṭī dikenal menegaskan keseimbangan: ketegasan tauhid tidak boleh melahirkan putus asa; sebaliknya harapan rahmat tidak boleh melahirkan kelengahan. Ayat ini mendidik dua sayap: khauf yang menjaga, raja’ yang menguatkan.

Pendekatan “Al-Qur’an Tadabbur wa ‘Amal” menekankan bahwa tadabbur harus menjadi amal: periksa tauhid harian—apa yang paling kita takutkan, apa yang paling kita harapkan, kepada siapa kita paling bergantung—lalu rapikan. Adapun “Al-Fathun Nawa” sering disebut menonjolkan metode ayat-bil-ayat; namun secara aman, tafsir mu‘tabar tetap poros, sementara pendekatan tambahan hanya penguat yang disaring.

Akhiran: Tauhid sebagai kompas batin

QS 4:48 bukan ayat yang membuat kita pesimis; ia ayat yang membuat kita waras: jangan bawa syirik sampai mati, jangan remehkan tauhid, dan jangan putus asa dari ampunan Allah untuk dosa selain syirik.

Maka amal paling konkret: (1) luruskan ibadah hanya kepada Allah, (2) taubat cepat dari dosa apa pun, (3) hidupkan istighfar dan amal penghapus dosa, (4) jaga keseimbangan takut–harap, (5) gunakan sebab, tapi jangan menyembah sebab.
Di situlah keselamatan: hati bertauhid, amal berjalan, dan rahmat Allah menjadi tempat pulang.

Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img