KABARLAH.COM – “وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ اَبٰى وَاسْتَكْبَرَۖ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ ٣٤
wa idz qulnâ lil-malâ’ikatisjudû li’âdama fa sajadû illâ iblîs, abâ wastakbara wa kâna minal-kâfirîn
(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka, mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia menolaknya dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan kafir”
Ada ayat-ayat yang tidak sekadar memberi informasi, tetapi membuka cermin. QS. Al-Baqarah (2): 34 adalah salah satunya. Allah memerintahkan para malaikat: “Sujudlah kepada Adam.” Mereka sujud. Kecuali Iblis: “ia menolak, menyombongkan diri, dan termasuk golongan kafir.” Pada permukaan, ini kisah. Pada kedalaman, ini peta tragedi batin manusia: bagaimana satu detik kesombongan dapat mengubah makhluk yang pernah “beribadah lama” menjadi musuh kebenaran.
Ketaatan itu bukan lomba argumen, tapi adab di hadapan perintah
Ayat ini terasa seperti teguran lembut sekaligus tegas: ketaatan bukan ajang menang debat. Malaikat tidak menawar, tidak menawar-nawar, tidak meminta “penjelasan tambahan” untuk membenarkan diri. Mereka taat. Iblis bukan tidak paham perintah; ia paham, lalu menolak—karena merasa “lebih mulia.” Ini pelajaran yang sangat sehari-hari: sering kali yang membuat seseorang jatuh bukan dosa besar yang dramatis, tapi ego kecil yang dipelihara: “Aku lebih pantas.” “Aku lebih senior.” “Aku lebih tahu.”
Di titik ini, kita mengerti mengapa Nabi ﷺ menjelaskan definisi sombong secara sangat praktis: menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Jadi, kesombongan itu bukan semata gaya bicara, tetapi sikap batin yang menutup pintu hidayah. Jika kebenaran datang lewat orang yang kita anggap “lebih rendah”, ego ingin menyelamatkan gengsi, bukan menyelamatkan iman. Dan di situlah “Iblis kecil” sering menyelinap: membuat kita sibuk membela citra, bukan membela kebenaran.
Siapa Iblis, apa sujudnya, dan mengapa perintah ini memuliakan Adam
Secara tafsir, rangkaian ayat sebelumnya (2:30–33) menonjolkan ilmu yang Allah ajarkan kepada Adam. Lalu (2:34) datang sebagai “pengumuman kosmik” tentang kehormatan Adam. Sujud yang diperintahkan kepada malaikat dipahami ulama sebagai sujud takrīm (penghormatan), bukan sujud ibadah. Ia terjadi pada syariat terdahulu sebagai bentuk pemuliaan yang Allah tetapkan, bukan penghambaan kepada Adam.
Namun dalam syariat Nabi Muhammad ﷺ, bentuk sujud penghormatan ditutup—karena tauhid harus dijaga dengan pagar yang rapat: tidak ada gestur yang mengarah pada pengkultusan makhluk.
Yang juga penting: Al-Qur’an menegaskan bahwa Iblis itu dari golongan jin (QS. Al-Kahfi 18:50). Ini menutup salah paham populer bahwa ia malaikat. Malaikat dikenal taat; sedangkan jin—sebagaimana manusia—memiliki wilayah pilihan yang bisa membawa ke taat atau durhaka. Maka, penolakan Iblis bukan “kecelakaan teologis”, tetapi keputusan moral.
Lalu mengapa Iblis menolak? Ayat-ayat lain menyebut dalihnya: “Aku lebih baik daripada dia: Engkau ciptakan aku dari api, dan Engkau ciptakan dia dari tanah.” (mis. QS. Al-A‘raf 7:12; Shad 38:76). Ini logika yang tampak “rasional” di permukaan, tetapi rapuh di hadapan tauhid: ia menilai perintah Allah dengan standar ego, lalu menganggap ego sebagai hakim terakhir. Di sinilah akar kufur Iblis: bukan sekadar salah informasi, tetapi pemberontakan epistemik—menjadikan diri sebagai otoritas di atas wahyu.
Dua cara “berada” di hadapan Tuhan—tunduk atau menilai Tuhan
Ayat ini seperti menampilkan dua mode eksistensi:
(a) Malaikat: menerima perintah sebagai cahaya. Mereka tidak hidup untuk menang argumentasi, tetapi untuk menunaikan amanah.
(b) Iblis: mengubah alasan menjadi tameng. Ia tidak berkata “Aku tidak tahu,” melainkan “Aku tidak setuju.” Ini bedanya: kebodohan bisa disembuhkan dengan ilmu; tetapi kesombongan sering kebal terhadap ilmu.
Secara batin, “sujud” adalah simbol puncak kerendahan diri: dahi—bagian tubuh yang paling “terhormat”—diletakkan ke tanah. Maka sujud bukan sekadar gerak, tetapi pembongkaran klaim diri: aku ini hamba.
Kebalikan sujud adalah “meninggikan diri”—dan itulah istakbara. Saat ego menolak kebenaran, ia sedang melakukan bentuk “ibadah terbalik”: bukan menyembah Allah, melainkan menyembah citra diri. Dan inilah yang paling halus sekaligus paling berbahaya: ibadah lahir bisa ramai, namun jika “aku” menjadi pusat, kita sedang berjalan di tepi jurang Iblis tanpa sadar.
Tiga latihan sujud batin di zaman kita
Pertama, latihan menerima kebenaran tanpa menunggu menang. Jika ayat, hadits sahih, atau nasihat yang lurus datang, respons pertama adalah sam‘an wa ṭā‘ah—baru setelah itu kita belajar, memperdalam, memperhalus.
Kedua, detoks kibr: berhenti merendahkan orang lain, terutama dalam hal agama. Hidayah tidak selalu datang lewat “orang besar”; kadang Allah mengirimkan kebenaran lewat anak kecil, orang awam, atau orang yang kita remehkan.
Ketiga, perbanyak sujud ibadah sebagai terapi. Sujud dalam shalat mengajar tubuh dan jiwa satu bahasa: “Engkau Tuhan, aku hamba.” Bila sujudnya rutin, ego biasanya lebih mudah ditundukkan.
Penutup: QS. 2:34 mengajarkan bahwa kehancuran iman sering bermula dari kalimat batin yang sederhana: “Aku lebih…” Maka obatnya juga sederhana namun dalam: “Ya Allah, selamatkan aku dari diriku.” Jadikan ketaatan sebagai adab, jadikan ilmu sebagai jalan merendah, dan jadikan sujud sebagai rumah pulang—agar kita tidak menjadi ahli alasan yang kehilangan hidayah, tetapi menjadi hamba yang tunduk dan diselamatkan.
Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



