BerandaInspirasiNasehatMengokohkan Iman: Takwa yang Menggerakkan, Muhāsabah yang Menyelamatkan

Mengokohkan Iman: Takwa yang Menggerakkan, Muhāsabah yang Menyelamatkan

spot_img

KABARLAH.COM – اَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ ۝١٨
yâ ayyuhalladzîna âmanuttaqullâha waltandhur nafsum mâ qaddamat lighad, wattaqullâh, innallâha khabîrum bimâ ta‘malûn
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan

Ada ayat yang bila dibaca perlahan, terasa seperti Allah menepuk bahu kita—bukan untuk menghakimi, tetapi untuk membangunkan. QS. Al-Ḥasyr (59): 18 adalah salah satunya. Ia tidak membuka dengan ancaman yang gaduh, melainkan dengan panggilan yang lembut namun tegas: “Wahai orang-orang yang beriman.” Panggilan ini seperti pengakuan: Allah memanggil kita dengan identitas terbaik kita, lalu mengarahkan kita pada cara menjaga identitas itu agar tidak runtuh pelan-pelan oleh kelalaian.

Ayat ini memuat tiga fondasi pengokoh iman: takwa, muhāsabah, dan kesadaran diawasi Allah (murāqabah). Menariknya, takwa disebut dua kali—seakan Allah berkata: “Ini bukan tambahan kecil; ini inti.” Lalu, di antara dua perintah takwa itu, Allah menyelipkan sebuah perintah yang terasa sangat manusiawi: “Hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang ia kirim untuk esok.” Ini bukan hanya ajakan taat; ini ajakan berpikir—bahkan berpikir yang menyelamatkan.

“Jangan hidup spontan tanpa arah akhirat”

Dalam bahasa sehari-hari, ayat ini seperti alarm yang berbunyi setiap pagi: “Jangan hidup hanya mengikuti arus.” Kita sering mengira iman cukup dengan perasaan: merasa dekat dengan Allah, merasa baik, merasa tidak menyakiti siapa pun. Padahal iman yang kokoh adalah iman yang punya arah. Takwa itu pagar—membuat kita tahu mana yang boleh didekati dan mana yang harus dijauhi. Tanpa pagar, kebun amal kita akan dimasuki hama dosa yang tidak terasa, tapi menghabiskan pelan-pelan.

Dan ketika Allah memerintahkan: “lihat apa yang kamu kirim untuk esok,” seolah Allah menyuruh kita membuka “tabungan akhirat” kita sendiri. Bukan sekadar menghitung nominal, tetapi menilai kualitas: shalat yang jujur atau sekadar gerak? sedekah yang ikhlas atau demi citra? lisan yang menjaga atau lisan yang menebar luka? Dalam realitas hidup, banyak orang jatuh bukan karena tidak tahu kebenaran, tetapi karena tidak pernah mengecek dirinya. Ayat ini mengajari: iman itu dijaga lewat audit harian.

“Amal tidak hilang; ia diproyeksikan”

Secara kebahasaan, frasa “waltanẓur nafsun mā qaddamat” memuat logika yang kuat: amal itu sesuatu yang “didahulukan”—seperti paket yang dikirim sebelum kita tiba di tujuan. Di dunia, kita paham konsep ini: apa yang kita tanam, itu yang kita panen. Al-Qur’an mengangkat logika yang sama ke tingkat yang lebih tinggi: apa yang kamu kerjakan hari ini adalah “dokumen masa depan” yang akan kamu temui di hadapan Allah.

Kata “lighad” (untuk “esok”) juga kaya makna. Ia tidak mengatakan “lil-ākhirah” dengan penjelasan panjang. Al-Qur’an memilih kata yang singkat, seolah ingin membuat akhirat terasa dekat, setidaknya sedekat “besok”. Ini strategi retoris yang halus: manusia sering menunda taubat karena menganggap akhirat jauh. Ayat ini mengubah psikologi itu: akhirat itu bukan cerita nanti—ia adalah “esok” yang sedang kamu siapkan sekarang.

Pengulangan “ittaqullāh” sebelum dan sesudah muhasabah memberi pelajaran metodologis: evaluasi diri tidak cukup dengan kecerdasan psikologis. Tanpa takwa, muhasabah bisa berubah menjadi dua ekstrem: merasa suci atau putus asa. Takwa menahan kita dari dua jurang itu. Ia membuat evaluasi diri menjadi jujur, namun tetap penuh harap.

“Manusia hidup antara ‘sekarang’ dan ‘esok’”

Ayat ini meletakkan fondasi etika yang dalam: manusia bukan makhluk instan. Kita hidup dalam tegangan antara “sekarang” dan “esok”. Banyak krisis moral lahir dari hilangnya “esok” dalam kesadaran kita. Ketika “esok” tidak hadir, manusia mudah menjual integritas demi keuntungan sesaat. Tetapi ketika “esok” hadir—yakni akhirat—maka keputusan kita menjadi tertib.

Di sinilah iman menjadi kokoh: ia memindahkan pusat hidup dari impuls menuju tujuan. Iman bukan sekadar keyakinan abstrak; ia adalah energi yang menata arah. Dan ketika Allah menutup ayat dengan: “Allah Maha Teliti atas apa yang kamu kerjakan” (khabīr), terbentuk dimensi batin yang mendidik: kita diajak menjadi manusia yang utuh—zahir dan batin selaras. Kejujuran bukan lagi strategi sosial, melainkan konsekuensi iman. Sebab yang dinilai bukan hanya tampilan, tetapi kedalaman niat dan kualitas amal.

Muhāsabah dan Murāqabah—dua sayap tazkiyah

Dalam tradisi tazkiyah , ayat ini adalah pintu masuk dua latihan besar: muhāsabah (menghisab diri) dan murāqabah (merasa diawasi Allah). Muhasabah adalah keterampilan untuk menilai diri tanpa tipu daya. Murāqabah adalah kesadaran yang membuat kita malu bermaksiat dan rindu taat. Banyak ulama menempatkan dua hal ini sebagai jantung penyucian jiwa: bukan untuk membuat manusia obsesif, tetapi agar manusia tidak tertidur oleh kebiasaan.

Rasulullah ﷺ menguatkan makna ini dengan sabda yang masyhur: “Orang cerdas ialah yang menghisab dirinya dan beramal untuk setelah mati.” Ini memberi definisi kecerdasan yang berbeda: bukan sekadar pintar bicara, tetapi pintar menata nasib akhirat.

QS. 59:18 mengoreksi budaya hidup yang terlalu reaktif. Ia menegaskan: iman yang kokoh adalah iman yang berdisiplin. Disiplin itu bukan kaku, tetapi sadar. Ia adalah kebiasaan harian untuk bertanya: Apa yang hari ini aku kirim ke hadapan Allah? Pertanyaan ini, bila dihidupkan, akan merapikan banyak hal: cara kita bekerja, cara kita memimpin, cara kita mencintai, cara kita berbicara, bahkan cara kita memandang dunia.

Akhirnya, “mengokohkan iman” bukan proyek besar yang harus menunggu momentum. Ia dimulai dari kebiasaan kecil: takwa sebagai pagar, muhasabah sebagai kompas, dan murāqabah sebagai cahaya. Karena Allah khabīr—Mahateliti—maka tidak ada amal yang sia-sia, dan tidak ada dosa yang “tak terlihat”. Yang ada hanyalah “paket-paket” yang kita kirim setiap hari. Semoga Allah menjadikan paket itu berisi taat, ikhlas, dan manfaat—untuk “esok” yang pasti kita temui.

Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img