KABARLAH.COM, Pekanbaru – Ada ayat yang terasa seperti rambu keras di tepi jurang: tidak panjang, tidak rumit, tetapi mengubah arah hidup jika diambil serius. QS. Āli ‘Imrān 3:130 adalah rambu itu. Allah memanggil dengan lembut namun tegas: “Wahai orang-orang yang beriman…” Lalu melarang: jangan memakan riba yang berlipat ganda. Kemudian menutup dengan satu kata yang menampung seluruh disiplin batin: takwa, agar kamu beruntung.
Panggilan iman: ekonomi bukan wilayah netral
Ayat ini tidak dibuka dengan “wahai manusia”, tetapi “wahai orang beriman”. Ini isyarat akademik sekaligus filosofis: ekonomi dalam pandangan Qur’an bukan sekadar mekanisme pasar, tetapi ujian ‘ubūdiyyah (penghambaan). Iman bukan hanya urusan sajadah dan air mata; iman juga hadir dalam akad, harga, tenggat, dan cara kita memperlakukan kebutuhan orang lain. Di titik ini, Qur’an menggugurkan ilusi modern bahwa “uang itu netral”—yang menentukan netral atau tidaknya uang adalah niat, struktur transaksi, dan dampaknya pada manusia.
“Jangan memakan riba”: larangan yang menembus perilaku dan karakter
Bahasa ayat menggunakan kata “memakan” (ta’kulū). Ini bukan sekadar frasa; ini metafora moral. Riba bukan hanya “tambahan angka”, tetapi cara hidup yang menjadikan kelemahan orang lain sebagai bahan bakar keuntungan. Riba memakan, karena ia menggerogoti dua hal sekaligus: harta orang yang terjepit dan nurani orang yang mengambil.
Dalam bahasa umat: riba itu seperti menekan luka yang sudah sakit, lalu meminta bayaran atas tekanan itu. Orang yang sedang sempit diberi utang, namun sempitnya dijadikan peluang untuk melipatkan beban. Maka ketika Qur’an menyebut “berlipat ganda”, ia sedang memotret wajah riba yang paling telanjang: utang yang seharusnya menjadi jembatan, berubah menjadi jerat.
Mengapa riba merusak? Analisis maqāṣid: keadilan, rahmah, dan amanah
Secara filosofis, riba merusak keadilan pertukaran: risiko dipindahkan sepihak. Yang lemah menanggung ketidakpastian, yang kuat mematok “untung pasti”. Padahal kehidupan tidak pernah menjanjikan kepastian bagi siapa pun—kecuali kepastian bahwa setiap amanah akan ditanya. Ketika “untung pasti” dijadikan prinsip, ekonomi bergeser dari kerja sama menjadi dominasi; dari rahmah menjadi kalkulasi dingin.
Secara sosial, riba menimbulkan spiral ketimpangan: yang sudah kuat semakin kuat, yang rapuh semakin rapuh. Tetapi kerusakan paling halus—dan paling berbahaya—adalah kerusakan spiritual: riba melatih hati untuk nyaman mengambil tanpa empati, nyaman menunggu bunga tanpa ikhtiar, nyaman menambah beban tanpa rasa bersalah. Ia menumbuhkan “ketuhanan kecil” bernama uang: ditaati, dikejar, dan ditakuti.
“Bertakwalah kepada Allah”: inti terapi Qur’ani
Menariknya, ayat ini tidak menutup dengan “agar kamu kaya”, “agar stabil”, atau “agar bisnis lancar”. Allah menutup dengan: wattaqullāh la‘allakum tufliḥūn—bertakwalah agar kamu beruntung. Ini menegaskan definisi Qur’an tentang keberuntungan: bukan melulu bertambahnya angka, tetapi selamatnya jiwa; bukan sekadar profit, tetapi barakah.
Takwa di sini bukan slogan. Takwa adalah mekanisme kontrol batin yang hidup: ketika kita punya kuasa atas orang lain, takwa mengerem; ketika kita berhadapan dengan celah hukum, takwa mengunci; ketika ada peluang “cuan cepat”, takwa mengingatkan: rezeki bukan hanya “masuk”, rezeki harus “bersih”.
Dalam disiplin tazkiyah, riba berkaitan dengan penyakit hati: ḥubb ad-dunyā (cinta dunia yang melampaui batas), syuḥḥ (kikir agresif), dan hilangnya raḥmah. Maka terapi Qur’an bukan sekadar “ubah produk finansial”, tetapi ubah orientasi: dari “memastikan untung” menjadi “mencari ridha”. Dari “mengamankan masa depan dengan menindih orang” menjadi “mengamankan akhirat dengan adil dan belas kasih”.
Batin ayat: “jangan memakan hidup orang”
Jika zahirnya melarang riba, batinnya mengajari adab yang lebih luas: jangan memakan hidup orang. Jangan jadikan kebutuhan manusia sebagai ladang menekan. Jangan menormalisasi “yang penting legal”—sebab yang legal belum tentu layak di hadapan Allah. Batin ayat ini mengajak kita memeriksa: berapa banyak keuntungan yang sebenarnya berasal dari kepepetnya orang? Berapa banyak kenyamanan kita yang dibayar oleh ketidakadilan yang kita diamkan?
“Agar kamu beruntung”: keberuntungan sebagai puncak kemanusiaan
Keberuntungan (falāḥ) dalam Qur’an adalah puncak kemanusiaan: hati tenang, rezeki halal, hubungan sosial sehat, dan orientasi akhirat terjaga. Riba—sekalipun tampak mempercepat—sering memalsukan falāḥ: ia memberi rasa aman semu, tetapi menyisakan gelisah. Ia menjanjikan stabilitas, tetapi menanam konflik. Ia menambah harta, tetapi mengurangi cahaya.
Amal tadabbur: dari renungan menjadi keputusan harian
Tadabbur yang benar selalu berujung pada satu pertanyaan praktis: “Apa keputusan hari ini?” Mulai dari yang paling dekat: memilih transaksi yang halal walau lebih lambat; menata utang-piutang dengan adab; menolong tanpa menjerat; mengedukasi keluarga agar tidak memutihkan riba dengan istilah. Pada level lembaga dan masyarakat: menguatkan budaya qard hasan, sedekah produktif, dan pembiayaan yang adil; menghidupkan solidaritas, bukan memeras kesempitan.
QS. 3:130 seperti cermin: ia memperlihatkan bahwa iman bukan hanya percaya, tetapi juga bersikap. Dan puncak sikap itu adalah takwa: meletakkan Allah di atas segala kalkulasi, sehingga ekonomi tidak hanya berjalan, tetapi juga menyelamatkan.
Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



