KABARLAH.COM, Pekanbaru – QS Ar- Ra’du : 21
وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَآ أَمَرَ اللَّهُ بِهِۦٓ أَن يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوٓءَ الْحِسَابِ ﴿الرعد:٢١﴾
“Dan orang-orang yang menghubungkan apa yang diperintahkan Allah agar dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk”
Ayat ini seakan menempatkan manusia di tengah sebuah jaringan besar hubungan ilahi—sebuah “ekologi ruhani”—di mana setiap simpulnya terikat oleh perintah Allah. Ia bukan sekadar ayat akhlak sosial, tetapi sebuah prinsip kosmik yang menentukan apakah hidup manusia mengalir bersama cahaya Allah atau terputus dari energi kehidupan. Dalam bahasa sederhana: siapa yang mampu menjaga keterhubungan, dialah yang hidup; siapa yang memutuskan, dialah yang perlahan mati dari dalam.
Allah berfirman:
“Dan orang-orang yang menghubungkan apa yang Allah perintahkan agar dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhan mereka, serta takut akan buruknya perhitungan.”
(QS. Ar-Ra‘d: 21)
Ayat ini hadir bukan dalam ruang kosong. Ia adalah lanjutan ciri “Ulul Albab”—manusia berakal jernih, yang nalar dan hatinya tersinari wahyu. Maka, “menghubungkan” tidak mungkin dibatasi hanya dalam makna keluarga. Ia jauh lebih luas, lebih dalam, lebih filosofis: sebuah panggilan untuk merawat seluruh jaringan hubungan yang membuat manusia tetap manusia.
“Menghubungkan” sebagai prinsip eksistensial manusia
Dalam bahasa Arab, waṣala berarti menghubungkan sesuatu hingga ia menjadi satu kesatuan yang hidup. Para ulama menyebut ayat ini sebagai “prinsip keterhubungan.” Syekh Abdul Halim Mahmud menyebutnya sebagai al-wazîfah al-wujûdiyyah—tugas eksistensial manusia.
Manusia, dalam pandangan Islam, bukan makhluk individual yang berdiri sendiri seperti atom terpisah. Ia adalah makhluk hubungan: kepada Tuhan, kepada sesama, kepada pengetahuan, kepada amanah hidup. Memutus salah satu hubungan ini berarti memutus aliran cahaya.
Karena itu, ayat ini menegaskan identitas sejati orang beriman: mereka adalah para penyambung, bukan pemutus. Makna sosial: membangun jembatan, bukan tembok
Dalam makna zahirnya, para mufassir (Ibn Katsir, Ath-Thabari, Al-Qurthubi) menjelaskan bahwa ayat ini merujuk pada: silaturahim keluarga, menjaga persaudaraan, tidak memutus hubungan karena ego, menegakkan keadilan, merawat kepercayaan dan amanah sosial.
Islam lahir untuk membangun jembatan, bukan tembok. Karena setiap pemutusan hubungan adalah kematian moral. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak akan masuk surga pemutus silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hidup manusia runtuh bukan karena musuh, tetapi karena hubungan yang rusak.
3. Makna ruhani: hubungan hati dengan Allah
Di tingkat yang lebih subtil, para sufi menyebut bahwa hubungan paling hakiki bukan hubungan darah, tetapi hubungan hati dengan Allah. Ini yang ditegaskan Ibn ‘Aṭā’illah:
> “Tidak ada hijab antara engkau dan Allah kecuali sesuatu yang engkau putuskan dari-Nya.”
Menghubungkan berarti: merawat dzikir, menjaga kesadaran kehadiran Allah, menaati perintah-Nya, mensucikan niat, membenarkan langkah agar selaras dengan cahaya.
Putusnya hubungan batin ini membuat segala hubungan dunia kacau. Ketika hati jauh dari Allah, manusia menjadi keras, emosional, mudah tersinggung, dan mudah memutus hubungan dengan sesama. Inilah krisis spiritual modern.
Makna intelektual: menyambungkan ilmu dengan amal
Imam al-Ghazali memberikan tafsir yang sangat filosofis:
menghubungkan berarti menyatukan antara pengetahuan dan tindakan.
Ilmu tanpa amal adalah kebohongan. Amal tanpa ilmu adalah kebutaan. Maka hubungan ini harus dijaga.
Syekh Ramadhan al-Buthi menegaskan:
> “Peradaban dibangun dari hubungan ilmu dan amal—tanpa itu, manusia hanya menjadi penonton sejarah.”
Dengan demikian, orang beriman bukan hanya “tahu,” tetapi “menyambungkan” ilmu dengan kehidupan.
Makna Tarbiyah (Said Hawwa): membangun jaringan kebaikan
Said Hawwa memandang ayat ini sebagai inti gerakan tarbiyah (pembinaan ruhani). Baginya, “menghubungkan” adalah:
1. menghubungkan manusia kepada Allah,
2. menghubungkan diri pada jamaah kebaikan,
3. menghubungkan hati kepada amal yang berkelanjutan.
Di sinilah aktivis dakwah diuji: apakah ia penghubung atau pemutus? Apakah ia membangun sistem kebaikan, atau hanya menjadi konsumen kebaikan?
Dua rasa takut yang menyelamatkan
Ayat ini melanjutkan:
“dan mereka takut kepada Tuhan mereka, serta takut hisab yang buruk.”
Dua bentuk takut ini adalah dua sayap keselamatan:
a. Khasy-yah — takut yang lahir dari cinta dan ilmu
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Aku adalah orang yang paling mengenal Allah dan paling takut kepada-Nya.”
(HR. Bukhari)
Ini adalah rasa takut yang lembut: takut kehilangan kedekatan.
b. Khawf — takut akan konsekuensi amal
Kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki catatan, evaluasi, dan tanggung jawab.
Gabungan dua rasa ini melahirkan manusia yang dewasa secara spiritual: lembut kepada manusia, tetapi serius terhadap dirinya.
Perspektif Al-Qur’an Tadabbur & Amal
Menurut Tadabbur ayat ini memiliki dua pola tadabbur:
a. Tadabbur Qalbî (batin)
Menghubungkan: sabar dengan tawakal, doa dengan usaha, amal dengan niat, iman dengan adab.
b. Tadabbur ‘Amalî (praktis)
Menghubungkan: keluarga, umat, amanah, masalah demi masalah hingga selesai. Hidup yang tercerai-berai datang dari hati yang memutus hubungan dengan Allah.
8. Perspektif Dr. HALO-N (Al-Fathu Nawa): hubungan sebagai resonansi cahaya
Dr. HALO-N memandang ayat ini sebagai prinsip metafisika nur (cahaya):
Setiap hubungan yang Allah perintahkan adalah kanal cahaya ilahi.
Memutus hubungan berarti mematikan aliran cahaya.
Khasy-yah adalah sensitivitas hati terhadap frekuensi ketuhanan.
Khawf adalah mekanisme kontrol moral agar manusia tidak tersesat dalam ego.
Menghubungkan = hidup dalam cahaya.
Memutus = masuk ke ruang gelap eksistensial.
KHITAMAN: Peta Hidup dari QS. Ar-Ra‘d: 21
Ayat ini merangkum keseluruhan perjalanan ruhani manusia:
1. Menghubungkan segala hubungan yang Allah perintahkan →
tanda iman yang hidup.
2. Takut kepada Allah →
kesadaran cinta dan ketaatan.
3. Takut hisab →
kesadaran moral dan tanggung jawab.
Ini bukan hanya ayat akhlak. Ini adalah blueprint hidup.
Ia membangun manusia yang: jernih hati, kokoh hubungan, lembut adab, kuat integritas, sadar akhirat, dan terus mengalir bersama cahaya Tuhan.
Inilah manusia Ulul Albab—manusia yang dunia batinnya terhubung, dan dunia luarnya memancarkan cahaya.
Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



