KABARLAH.COM – “Sesungguhnya agama (yang benar) di sisi Allah hanyalah Islam…”. Ada ayat-ayat yang tidak hanya dibaca, tetapi mengetuk jantung manusia. QS. Āli ‘Imrān:19 adalah salah satunya. Ia tidak hanya memberi informasi tentang agama, tetapi membongkar rahasia terdalam struktur jiwa manusia: bahwa sumber perdamaian, akar perselisihan, dan makna hidup bertumpu pada kalimat “al-Islām.”
Ayat ini seakan berkata kepada manusia:
“Jangan tertipu oleh banyaknya simbol, warna, atau perdebatan yang membingungkan. Hakikat itu tunggal.”
Islam: Bukan Sekadar Nama, Tapi Kondisi Jiwa
Ketika Allah berfirman, “Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam,” maknanya jauh melampaui konsep agama formal. Islam adalah keadaan batin: tunduk, pasrah, damai.
Akar katanya salima – yaslamu – islām berarti: Selamat, tenang, bersih, damai.
Karena itu, Islam bukan hanya sistem hukum, tetapi persetujuan batin bahwa tiada pusat kendali selain Allah. Ulama besar kontemporer, Abdul Halim Mahmud, mengatakan:
“Islam yang benar melahirkan kedamaian batin. Jika engkau gelisah, mungkin engkau mengingkari sesuatu dari Islam meski lisanmu masih mengatakan muslim.”
Ini sangat filosofis: manusia baru benar-benar bebas setelah ia menyerahkan diri pada Realitas Tertinggi, bukan pada ego.
Di sinilah letak makna batin:
Islam adalah keadaan eksistensial, bukan sekadar identitas sosial.
Islam: Jalan Semua Nabi
Ayat ini juga mengingatkan bahwa agama para nabi adalah satu. Ibnu Katsir menegaskan:
“Para nabi berbeda syariat, tetapi agama mereka satu: Islam.”
Ini memotong akar relativisme: kebenaran tidak banyak; ia satu. Namun ia juga memotong akar fanatisme kelompok: agama ini bukan milik satu bangsa atau kelompok. Islam adalah: Jalan Adam, suara Ibrahim, doa Musa, bisikan Isa, dan penyempurnaannya melalui Muhammad ﷺ.
Di sini Islam menjadi mata air sejarah, bukan sekadar lembaga.
Mengapa Ahli Kitab Berselisih? Karena Ego, Bukan Dalil
Setelah ayat menegaskan kebenaran tunggal, Allah menjelaskan penyakit tunggal:
“…Mereka berselisih setelah datangnya ilmu, karena kedengkian di antara mereka.”
Ini sangat psikologis. Syekh Said Hawwa menyebut ayat ini sebagai:
“Diagnosa Qur’ani tentang penyakit keagamaan umat manusia.”
Ilmu sudah jelas. Dalil sudah nyata. Tetapi hati enggan tunduk karena: Cinta jabatan, iri kekuasaan, takut kehilangan pengaruh, dan arogansi intelektual.
Seperti kata syekh al-Buthi:
“Semakin besar ilmu, semakin besar potensi kesombongan jika tidak disucikan.”
Ini tamparan keras bagi umat berilmu. Bahwa musuh utama dakwah bukan kebodohan, melainkan ego orang berilmu.
Agama Rusak Ketika Hawa Nafsu Menjadi Tuhan
Tadabbur pada bagian ini sangat dalam: agama yang rusak bukan agama yang sedikit umatnya, tetapi agama yang kehilangan ketulusan.
Ketika ulama salaf mengatakan:
“Allah tidak pernah disembah dengan sesuatu yang lebih berbahaya daripada hawa nafsu.”
Mereka sedang menjelaskan realitas ayat ini: Perselisihan muncul karena hawa nafsu diganti sebagai “tuhan kecil”.
Dari sinilah muncul syirik intelektual: menganggap pendapat lebih agung daripada wahyu.
Muncul syirik sosial: mengutamakan kelompok lebih tinggi dari kebenaran.
Ayat ini mengajarkan:
agama yang tidak melahirkan kerendahan hati hanyalah kostum jiwa.
“Allah cepat perhitungan-Nya”: Teguran Bagi Hati yang Lalai
Kata “sari‘ul-hisab” bukan hanya ancaman akhirat. Ia adalah hukum kehidupan.
Dr. HALO-N dalam Al-Fathu Nawa menegaskan:
“Kecepatan hisab Allah tampak pada perubahan kondisi hati, hilangnya keberkahan, dan rapuhnya ketenangan.”
Saat seseorang:
Meninggalkan shalat → hatinya mulai mengering,
Melanggar amanah → usahanya menjadi sempit,
Berbohong → kegundahan menghantuinya.
Itulah hisab cepat.
Itulah dunia yang berubah mengikuti batin manusia.
Ini tadabbur filosofis:
Hidup adalah cermin jiwa.
Islam: Jalan Fitrah Universal
Hadis fitrah (HR. Muslim):
“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah (Islam).”
Artinya: penciptaan manusia secara ontologis sudah Islami. Yang merusak adalah propaganda, tradisi, dan ego.
Karena itu, Islam bukan agama “baru”. Ia adalah kebenaran yang sama yang diberikan kepada semua nabi: tunduk kepada Allah, hidup adil, mencintai kebenaran.
Dalam perspektif akademik: Islam adalah sistem nilai universal, bukan eksklusivitas etnis.
Dalam perspektif filosofis: Islam adalah keteraturan kosmik, harmoni antara kehidupan, akal, dan jiwa.
Dalam perspektif populis: Islam adalah jalan selamat, makna paling sederhana yang dipahami oleh hati orang awam.
Pelajaran Amal: Islam Harus Diwujudkan, Bukan Dibanggakan
Pendekatan Tadabbur & Amal memberi tiga tuntunan:
Pertama. Hidupkan Islam dalam seluruh aspek
Bukan hanya ritual, tetapi karakter, keadilan, muamalah, ilmu, dan akhlak.
Kedua. Jauhi perselisihan karena ego
Bukan siapa gurumu, tetapi apa dalilmu. Bukan siapa kelompokmu, tetapi apa niatmu.
Keriga. Sadar bahwa hisab Allah cepat
Setiap dosa menggelapkan hati, Setiap zikir mencerahkannya.
Kesimpulan Tadabbur
QS. Āli ‘Imrān:19 adalah ayat yang memaksa manusia bercermin. Bahwa kebenaran itu satu dan sederhana, tetapi hati manusialah yang membuatnya rumit. Islam adalah ketundukan, bukan label. Ilmu adalah cahaya, bukan senjata ego. Dan kehidupan adalah panggung hisab Allah yang cepat.
Jika manusia kembali kepada Islam dalam makna batin dan zahirnya—tunduk, jujur, adil, ikhlas—maka seluruh konflik akan padam, dan hati pun akan menemukan rumahnya.
Inilah inti tadabbur ayat ini: bahwa Islam adalah jalan kembali kepada diri kita yang paling asli—fitrah yang Allah titipkan ketika kita pertama kali diciptakan.
Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.



