KABARLAH.COM – “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar Rum Ayat 41).
Ayat ini sering kita baca, tetapi jarang benar-benar kita renungi:
“Telah tampak kerusakan di darat dan laut akibat ulah tangan manusia, agar Allah membuat mereka merasakan sebagian akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali.”
Inilah ayat yang seakan diletakkan Allah di tengah-tengah pusaran zaman modern: kerusakan moral, politik, ekonomi, lingkungan, bahkan kerusakan batin manusia.
Ayat ini bukan berita masa lalu; ia adalah komentar Ilahi terhadap situasi dunia hari ini. Dan tadabbur terhadapnya mengubah cara kita memandang hidup, tanggung jawab, dan perjalanan pulang kepada Allah.
“Kerusakan itu tampak” — Tuhan meminta kita berani melihat kenyataan
Tadabbur pertama dari ayat ini adalah keberanian untuk melihat realitas apa adanya.
Allah tidak menyuruh kita berpura-pura optimis. Ia tidak berkata “akan ada kerusakan,” tapi:
“Zhahara” — sudah tampak, sudah terlihat, sudah terjadi.
Kerusakan bukan sesuatu yang jauh. Ia hadir dalam: Retaknya institusi keluarga, hancurnya integritas publik,
ketidakadilan sosial, krisis ekologis, wabah kecemasan kolektif, kerusakan moral yang dianggap gaya hidup.
Dalam kerangka akademik, ayat ini berbicara tentang konsekuensi sosial. Dalam kacamata filosofis, ia menyingkap keteraturan moral semesta.
Dalam bahasa populis, ia berkata: “Kalau hidupmu kacau, jangan salahkan siapa pun dulu—lihat apa yang engkau biarkan terjadi.”
“Akibat ulah tangan manusia” — Al-Qur’an anti mental korban
Ayat ini meruntuhkan mentalitas menyalahkan takdir.
Allah berkata dengan tegas:
“Bimā kasabat aydin-nās.”
— karena apa yang dikerjakan tangan manusia.
Ulama klasik seperti Ibn Katsir dan al-Qurthubi menegaskan:
yang dimaksud manusia bukan “orang lain,” tetapi kita semua sebagai kolektif moral.
Filosofisnya:
manusia adalah makhluk yang mengundang konsekuensi.
Akademiknya:
kerusakan sosial, politik, dan lingkungan adalah produk pilihan manusia, bukan kecelakaan kosmik.
Populisnya:
“Kalau dunia rusak, berarti manusia yang rusak. Tidak ada asap tanpa api.”
Inilah ayat yang mengajarkan tanggung jawab peradaban, bukan sinisme peradaban.
“Agar mereka merasakan sebagian akibat perbuatan mereka” — Tuhan mendidik, bukan menghancurkan
Kata “liyudzīqahum ba‘dla” sangat penting dalam tadabbur. Allah memakai kata “sebagian kecil”, bukan seluruhnya.
Para ulama mengatakan:
“Jika Allah menampakkan seluruh akibat dosa manusia, bumi ini akan musnah.”
Artinya: Apa yang kita lihat sebagai bencana hanyalah peringatan, bukan pembinasaan.
Filosofisnya, ini menunjukkan bahwa Allah mengatur semesta bukan dengan murka semata, tetapi dengan pendidikan moral (moral pedagogy).
Secara akademik, ayat ini sejalan dengan konsep feedback loop dalam sosiologi dan ekologi—kegagalan sistemik selalu muncul sebagai tanda untuk koreksi.
Secara populis, ayat ini berkata: “Allah sedang bangunkan kita. Jangan tunggu pukulan yang lebih keras.”
“Supaya mereka kembali” — Tadabbur yang mengubah arah hidup
Ini titik paling lembut dari ayat ini:
“La‘allahum yarji‘ūn.”
— agar mereka kembali.
Ayat ini bukan ayat ancaman. Ia adalah ayat panggilan pulang. Dan tadabbur di sini berarti: Kembali dari kesombongan menuju kerendahan hati, kembali dari materialisme menuju makna, kembali dari syahwat menuju kesadaran, kembali dari keserakahan menuju keadilan, kembali dari kelalaian menuju ibadah, dan kembali dari kekacauan hati menuju ketenteraman bersama Allah.
Menurut Imam al-Ghazali:
“Kerusakan global dimulai dari rusaknya hati.”
Menurut Ibn ‘Aṭā’illah:
“Sebelum bumi rusak, hati manusia lebih dulu rusak.”
Menurut Said Hawwa dan al-Buthi:
ketika dakwah melemah, fasad menguat; ketika tauhid pudar, peradaban runtuh.
Menurut Syaikh Abdul Halim Mahmud:
“Kerusakan adalah tanda hilangnya maqam ihsan dari masyarakat.”
Dunia luar adalah cermin dunia dalam
Inilah tadabbur paling filosofis: Ayat ini menunjukkan hubungan antara kerusakan batin dan kerusakan sosial. Ketika hati manusia kotor, kota menjadi kotor. Ketika moral runtuh, pasar ikut runtuh. Ketika dzikir hilang dari dada, keberkahan hilang dari bumi.
Dr. HALO-N menyebutnya:
“Kerusakan di luar adalah proyeksi dari kerusakan di dalam.”
Kita tidak sedang menyaksikan bencana;
kita sedang menyaksikan bayangan diri manusia.
Tadabbur yang melahirkan tanggung jawab
Tadabbur ayat ini tidak selesai pada renungan.
Al-Qur’an turun untuk menggerakkan, bukan hanya menginspirasi.
Maka ayat ini menuntut:
- Taubat pribadi
Membersihkan hati dari ego, kedengkian, kelalaian.
- Perbaikan moral
Menghidupkan sidq, amanah, iffah, dan keadilan.
- Komitmen dakwah
Karena fasad terbesar muncul ketika suara dakwah mengecil.
- Kontribusi sosial
Mencegah kerusakan bukan hanya ibadah ekologis, tapi ibadah peradaban.
- Membangun kembali tauhid publik
Peradaban runtuh bukan karena kafir bertambah, tetapi karena mukmin kehilangan ruhnya.
Tadabbur yang membuat kita jujur kepada diri sendiri
QS. Ar-Rūm:41 adalah cermin. Siapa pun yang berani bercermin akan melihat dirinya. Dan bila kita berani jujur, kita akan mendengar bisikan ayat ini:
“Kerusakan itu bukan kutukan. Ia adalah panggilan.
Allah tidak sedang murka—Allah sedang mengajakmu pulang.”
Tadabbur yang benar menuntun kita pada dua langkah: Melihat kerusakan sebagai pesan, dan menjadikannya pintu untuk kembali kepada Allah.
Itulah makna terdalam dari:
“La‘allahum yarji‘ūn.”
Semoga kita termasuk yang kembali sebelum terlambat.
Oleh: Sofyan Siroj Abdul Wahab.



