BerandaInspirasiNasehatSerial Dakwah dan Da'i: Para Da'i Itu… Mau Kemana?

Serial Dakwah dan Da’i: Para Da’i Itu… Mau Kemana?

spot_img

KABARLAH.COM – Jalan panjang para da’i, pertanyaan “الدعاة.. إلى أين؟” bukan sekadar judul. Ia adalah alarm ruhani, mengguncang hati tiap da’i agar tidak tersesat dari manhaj nubuwwah. Dunia terus bergerak, tantangan terus berubah, tetapi arah dakwah tak boleh bergeser: menuju ridha Allah, menegakkan kalimat-Nya, dan membimbing umat menuju cahaya.

Allah menegaskan orientasi setiap orang yang membawa amanah dakwah:

﴿ قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ ﴾
“Katakanlah: Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah di atas basirah.” (QS. Yusuf: 108)

Di sinilah inti persoalan: da’i harus berjalan menuju Allah, bukan menuju dirinya, bukan menuju kepentingan dunia, dan bukan menuju kelompoknya semata.

Namun, ia tetap bergerak dalam jamaah yang teratur, disiplin, dan memiliki manhaj jelas sebagaimana jalur para ulama dan dakwah da’i rabbani.

Da’i Menuju Allah: Tujuan Utama yang Tak Boleh Berubah

Para murabbi dan da’i rabbani senantiasa mengingatkan bahwa seorang da’i akan hancur apabila niatnya bergeser. Karena itu, inti dakwah adalah mengajak manusia kembali kepada Rabb-nya, bukan kepada personal branding atau popularitas.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang menuntut ilmu yang seharusnya untuk mencari wajah Allah, namun ia mempelajarinya untuk mendapatkan dunia, maka ia tidak akan mencium aroma surga.”
(HR. Abu Dawud)

Para da’i dan murabbi dakwah rabbaniyin selalu menekankan, “Niat itu awal kemenangan, dan penyimpangan niat adalah awal kehancuran.”

Maka da’i harus bertanya setiap hari:
Aku menuju Allah, atau menuju diriku sendiri?

Menuju Perbaikan Umat: Membangun Kesadaran, Bukan Sekadar Ceramah

Dakwah bukan orasi, bukan retorika, tetapi pembangunan umat. Para da’i rabbani mengajarkan bahwa dakwah adalah proses panjang untuk: membangkitkan iman, membentuk akhlak, memperkuat keluarga, memperbaiki masyarakat, dan mengokohkan umat di atas syariat.

Allah berfirman:

﴿ كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ﴾
(QS. Ali ‘Imran: 110)

Karena itu, arah da’i adalah melahirkan pribadi umat yang shalih, lalu masyarakat yang shalih, sehingga muncul peradaban yang shalih.

Ungkapan para da’iyah:
“Seorang da’i tidak hanya mengisi hati manusia, tetapi juga memperbaiki jalan hidupnya.”

Menuju Pembinaan, Bukan Hanya Pengajian

Dakwah Rabbaniyah selalu menekankan:
Tanpa tarbiyah, dakwah hanyalah angin yang lewat. Para da’i rabbani memandang tarbiyah sebagai tulang punggung dakwah. Maka arah da’i adalah: bukan hanya ceramah, tetapi mentarbiyah; bukan hanya mengajak, tetapi membina; bukan hanya memanggil, tetapi menuntun.

Rasulullah SAW membina para sahabat selama 13 tahun di Makkah, bukan sekadar memberikan tausiyah mingguan.

Syekh Al-Banna berkata:
“Membangun manusia lebih berat daripada membangun bangunan, tetapi dari manusia salehlah peradaban lahir.”

Menuju Kesabaran: Jalan Dakwah Tidak Berhamparkan Karpet Merah Arah dakwah selalu beriringan dengan ujian. Allah berfirman:

﴿ أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ﴾
(QS. Al-Baqarah: 214)

Rasulullah SAW bersabda:

“Seorang da’i akan diuji sesuai kadar imannya. Bila kuat imannya, kuat pula ujiannya.”
(HR. Tirmidzi)

Karena itu, da’i harus menuju: kesabaran, keteguhan, ketenangan ruhani, tawakkal yang nyata dalam amal.

Para da’i harakah rabbaniyah berkata:
“Kesabaran adalah bensin dakwah. Tanpanya, kendaraan dakwah berhenti.”

Menuju Jamaah: Dakwah Tidak Bisa Berjalan Sendirian

Syekh Nashir ‘Ulwan sangat menekankan prinsip amal jama’i.
Sebab dakwah besar tidak bisa dipikul oleh satu orang.

Allah berfirman:

﴿ وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ﴾
(QS. Ali ‘Imran: 103)

Rasulullah SAW bersabda:

“Tangan Allah bersama jamaah.”
(HR. Tirmidzi)

Da’i harus berjalan dalam barisan yang:

teratur, disiplin, memiliki visi peradaban, saling menguatkan dan saling menasihati.

Ungkapan masyhur para masyaikh harakah dakwah rabbaniyah:
“Sendirian engkau hanya lilin kecil; bersama jamaah engkau laksana matahari.”

Menuju Kemenangan Peradaban, Bukan Kemenangan Sesaat

Arah da’i bukan untuk menang debat, viral, atau populer. Arah da’i adalah kemenangan peradaban (an-nashr al-hadlari):

bangkitnya masyarakat beriman, tegaknya nilai Islam, berdirinya sistem kehidupan yang adil, terwujudnya generasi Qur’ani.

Allah menjanjikan:

﴿ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ ﴾
(QS. An-Nur: 55)

Da’i harus yakin bahwa setiap qiyamullail, setiap air mata, setiap tarbiyah, setiap langkah amal dakwah adalah batu bata untuk membangun masa depan umat.

Ungkapan da’iyah: “Kami menanam hari ini, meskipun kami tidak sempat memanen. Sebab panenan itu milik Allah.”

Menuju Akhlak dan Keteladanan

Da’i tidak hanya menyeru, tetapi juga menjadi teladan.

Rasulullah SAW adalah:

“Sebaik-baik teladan bagi kalian.”
(QS. Al-Ahzab: 21)

Dakwah Rabbaniyah selalu menekankan:
“Akhlak da’i adalah setengah dari dakwahnya.
Dan setengah lainnya adalah kesungguhan amal.”

Karena itu, arah da’i adalah: menjadikan akhlak sebagai identitas, melunakkan hati umat, memperlihatkan sifat tawadhu’, sabar, benar, amanah, dan wafa’.

Syekh ‘Ulwan menekankan:
“Hati manusia tak akan tersentuh oleh da’i yang lisannya indah tetapi akhlaknya sakit.”

Menuju Pengabdian Total: Dakwah Sebagai Jalan Hidup

Arah akhir da’i adalah totalitas dan al-istighraq fi ad-da‘wah, tenggelam dalam dakwah sebagai jalan hidup.

Da’i tidak memandang dakwah sebagai pekerjaan sampingan, tetapi misi eksistensi dirinya.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, ia mendapatkan pahala seperti pelakunya.”
(HR. Muslim)

Karena itu seorang da’i:

memikirkan umat, merencanakan perubahan, memperbaiki dirinya, memperbaiki orang-orang sekitarnya, dan mewakafkan waktunya untuk kebangkitan Islam.

Ungkapan para da’i rabbani:
“Hidup kami untuk dakwah, mati kami untuk dakwah, dan di hadapan Allah kami berharap diterima sebagai ahli dakwah kepad-Nya.”

Akhiran: Para Da’i Harus Melangkah ke Mana?

Jawabannya jelas dan tegas, sebagaimana garis yang diwariskan Rasulullah saw dan diteruskan ulama dakwah seperti syekh Abdullah dan lainnya :

Para da’i harus menuju Allah.

Menuju umat.
Menuju tarbiyah.
Menuju jamaah.
Menuju kemenangan peradaban.
Menuju akhlak dan keteladanan.
Menuju pengabdian total.

Maka, wahai para da’i…

Teruslah melangkah.
Teruslah membawa cahaya.
Teruslah membangun umat.

Sebab di akhir jalan itu, ada senyum ridha Allah yang menanti. Dan itulah tujuan terbesar dari seluruh perjalanan dakwah.

Oleh: Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

WAJIB DIBACA

spot_img